Awal bulan Maret 2013, menemukan artikel “UNESCO Source Book for The Teaching of Geography” yang disusun tahun 1961.[1]  Pada lembaran pertama buku itu, dinyatakan bahwa buku tersebut merupakan bahan dasar (preliminary edition) dalam pembuatan naskah akademik mengenai pendidikan geografi versi UNESCO. Selain itu, dan selepas mendapatkan informasi mengenai artikel ini,  penulis mengalami kesulitan versi terbaru dan atau naskah finalnya sendiri. Ada dokumen, yang dipublikasikan UNESCO, dengan judul New UNESCO Source Book for Science Teaching.[2]  Pada dokumen ini, diterakan satu bahasan dengan tema Earth and Space Sciences. Sejumlah situs, sebenarnya menunjukkan keberadaan dari naskah edisi baru, dari naskah dimaksud. Hanya saja, naskah-naskah dimaksud sudah berstatus berbayar, sedangkan naskah awal yang dapat diunduh masih bersifat gratisan (free).

Naskah yang terdiri dari tujuh bab dengan satu bab appendik, sangat sistematis dalam menyajikan bahan dasar dalam penguatan pembelajaran geografi. Bagi pembelajar geograf, dan atau praktisi lapangan, buku ini menarik untuk dikaji. Karena, selain memberikan pengetahuan dasar mengenai geografi sebagai sebuah disiplin ilmu, juga memberikan panduan praktis dalam mengembangan proses pembelajaran geografi. Buku yang dikembangkan ini, merupakan bagian dari perhatian UNESCO dalam bidang pendidikan. Selain penerbitan, sebelumnya sudah dilaksanakan seminar tentang sejarah di tahun 1950, dan tentang geografi pada tahun 195. Kedua pelajaran ini, dianggap penting dalam pembelajaran di lembaga persekolahan.

Pada bagian awal,  disajikan mengenai nilai edukatif dan fungsi praktis pendidikan geografi. Kegunan praktis geografi, setidaknya, sebagaimana dituturkan dibagian awal naskah tersebut, yaitu membantu memecahkan masalah-masalah lingkungan. Geografi dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu yang memiliki karakter dinamis dalam memahami fenomena kehidupan ini. Kemudian nilai edukatifnya, melalui geografi peserta didik dibangun  kompetensi pada tiga aspek, yaitu (1) kekuatan observasi, baik langsung maupun tidak langsung, (2) kekuatan memori dan imajinasi, serta (3) membangun kekuatan rasionalisasi dan pengambilan keputusan.

Kemudian, bab 2 dan tiganya, menyajikan mengenai pembelajaran geografi dengan memanfaatkan  teknik observasi langsung dan tidak langsung.  Observasi langsung dapat dilakukan dengan cara melakukan pengamatan atau survey, seperti ke desa, perkebunan, pemukiman, perumahan. Setidaknya, para pembelajar diajak untuk melakukan pengamatan terhadap llingkungan sekolah atau tempat tinggalnya masing-masing. Sedangkan, bentuk pengamatan tidak langsung, dapat dilakukan dengan mengkaji globe atau peta. Dengan memiliki kemampuan menafsirkan peta, termasuk peta GIS (geographic information system), para pembelajar memiliki kekuatan dalam melakukan pengamatan terhadap fenomena geosfera.

Di bagian keempat, disajikan pembahasan mengenai berbagai alat bantu pembelajaran geografi, seperti atlas, globe, projektor, dan laboratorium geografi. Pada bagian limanya, penegasan mengenai pentingnya lab geografi mendapat kupasan lebih luas lagi. Sumber rujukan pembelajaran geografi, di jelaskan pada bagian keenam, dan ditutup dengan sifat atau karakter dari pembelajaran geografi.

Pada bagian terakhir, disajikan mengenai karakter dan spirit dari pembelajaran geografi. Ada tiga karakter utama dalam pembelajaran geografi. Pertama, penekanan bahwa geografi adalah ilmu sintesis (geography as synthesis). Kedua, dinyatakan bahwa geografi adalah ilmu yang mengkaji tentang relasi keruangan, serta ketiga, ilmu yang mengkaji mengenai organisasi keruangan.

Kendati bersifat preliminary edition, tetapi dalam naskah tersebut terdapat informasi yang menarik. Bukan saja, berkaitan dengan teknik pembelajaran geografi, tetapi juga termasuk membincangkan masalah hakikat geografi.

Advertisements