Seorang ahli hikmah, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, bertutur :

ار بعة حسنه ولكن اربعة منها احسن (1) الحياء من الرجا حسن ولكنه من المراء احسن (2) والعدل من كل احد حسن ولكنه من الامراء احسن (3) والتوبة من الشيخ حسنة ولكنها من الشاب احسن (4) والجود من الاغنياء حسن ولكنه من الفقراء احسن

“empat hal yang dianggap baik, tapi empat hal lebih baik lagi. Pria yang pemalu baik, tetapi perempuan yang pemalu lebih baik lagi, warga negara berbuat adil adalah baik, tetapi pemimpin yang adil itu lebih baik, orangtua bertaubat baik, tetapi pemuda bertaubat itu lebih baik, dan orang kaya dermawan adalah baik, orang miskin yang  dermawan adalah lebih baik lagi”.

Atsar ini, ada kebalikannya. “empat hal yang dianggap buruk, namun ada empat hal lainnya, yang lebih buruk lagi…”. Kaum muda  berbuat dosa adalah buruk, tapi orang tua yang berbuat dosa, jauh lebih buruk lagi. Orang bodoh cinta dunia adalah buruk, orang berilmu cinta duniawi lebih buruk lagi, orang awam bermalasan ibadah adalah buruk, orang berilmu malas ibadah adalah lebih buruk lagi, orang kaya yang sombong itu buruk, dan orang miskin sombong adalah lebih buruk lagi.

Apa pelajaran penting, yang bisa kita petik dari tuturan  ahli hikmah tersebut ? adakah pesan itu, bisa kita terapkan dalam kehidupan sekarang ini ? untuk mendapatkan pelajaran tersebut, marilah kita rinci beberapa point pemikiran yang bisa kita ambil, dan kembangkan dalam kehidupan kita saat ini.

Pertama, setiap muslim itu dituntut untuk berbuat yang terbaik. Bukan sekedar baik. Ingat, Allah Swt memesankan kepada kita, untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Fastabiqul khairat. Tidak ada perlombaan, tanpa ada penilaian. Karena ada penilaian, maka akan melahirkan pilihan, siapa terbaik dan mana yang baik.

Firman Allah Swt menekankan kepada kita, untuk berlomba, itu artinya, kita dituntut untuk mempersiapkan diri menjadi diri yang terbaik, atau menjadi tim yang terbaik.

Menjadi seorang muslim, harus siap berlomba dalam kebaikan. Menjadi seorang muslim, harus siap menjadi yang terbaik. Karena itu, jadilah seorang muslim, yang memiiki semangat untuk terus berlomba…

Berlomba artinya memacu diri untuk menjadi yang terbaik, tanpa harus memukul lawan…..

Kita berlomba dengan waktu. Waktu bertambah terus, dan kita akan ditinggalkan.

Kita berlomba dengan pengetahuan. Rasulullah Saw bersabda, sangat buruk orang yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah ibadahnya.

Kita berlomba dengan teman, untuk mendapatkan lapangan kerja. Masuk perguruan tinggi dilombakan, mencari pasangan dilombakan. Dan masih banyak lagi perlomban.

Hidup ini adalah perlombaan, dan kita akan mengalami kerugian, bila tidak mau berlomba, atau kalah dalam perlombaan. Apapun yang ada di lingkungan kita, sifatnya diperlombakan ! hanya mereka yang memiliki kualitas unggul, yang akan memenang perlombaan. Oleh karena itu, fastabiqul khairat…..

Berbahagialah, jadi peserta lomba. Karena, saudara memiliki peluang meraih prestasi.bagaimana bis ameraih prestasi tropy, kalau tidak mau berlomba ?

Kedua, kualitas diri kita dan kemuliaan diri kita, diukur dari kemampuan kita melakukan hal yang lebih atau melebihi potensi diri kita sendiri. Mari perhatikan dengan seksama, orang kaya dermawan dianggap  baik atau wajar, karena dia memiliki kemampuan itu. Tetapi, orang miskin mampu dermawan adalah ahsan (lebih baik).

Orang yang sudah lanjut usia rajin ibadah, banyak bertobat, wajar, memang sudah waktunya, dan banyak luang untuk melakukan hal itu… tetapi, seorang pemuda yang sarat dengan nafsu, masih terobsesi dengan hidup dan dunia, tapi mampu bertaubat  dengan baik, itu adalah prestasi hebat bagi dirinya.

Kesimpulan dari pemikiran ini, sesungguhnya kemuliaan kita, kebaikan kita, diukur dari kemampuan kita dalam melakukan hal yang lebih dari sekedar potensi kita. Artinya, sangat wajar, anak sma bisa pengetahuan umum adalah baik, tetapi anak SMA bisa membaca al-Qur’an itu adalah lebih baik. Sedangkan, anak aliyah bisa membaca Al-qur’an, tetapi itu bukan prestasi terbaik. Orang aliyah bisa ngaji baik, tetapi bisa hafal qur’an itu lebih baik lagi.

Lakukanlah sesuatu yang lebih dari sekedar potensimu, karena itu akan menjadi kehormatanmu...

Bukankah kita paham, orang kecil berbuat kecil, itu wajar, orang kecil berbuat besar, adalah luar biasa. Orang besar berbuat besar, adalah wajar, dan orang besar berbuat kecil, itulah yang kurang ngajar.

Dengan kata lain, seorang guru bisa khutbah adalah biasa, seorng siswa bisa khutbah adalah luar biasa. Seorang warga negara berbuat adil, seorang pemimpin bisa adil adalah luar biasa. Simpulnya,  lakukan hal yang lebih, karena di situ kita akan menjadi orang luar biasa. Sementara kalau kita melakukan hal-hal biasa, KITA HANYA MENJADI ORANG BIASA-BIASA SAJA !

 

Sebagaimana diriwayatkan dan shahih Muslim,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ يَلُونِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Maksudnya :

Daripada Abdullah, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah s.a.w : “Sebaik-baik umatku ialah yang hidup pada kurunku, kemudian yang mengikuti zaman mereka dan kemudian yang mengikuti zaman mereka, selepas itu akan datang satu kaum di mana penyaksian salah seorang daripada mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului penyaksiannya.”

Tetapi, riwayat Ahmad dari Anas r.a, katanya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Aku sangat suka untuk bertemu dengan saudara-saudaraku yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku”.

Dua hadits ini, memberikan penegasan kepada kita, bahwa menjadi orang soleh saat ada Rasulullah Saw adalah mulia, tetapi menjadi orang Soleh, padahal kita tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, merupakan kemuliaan yang sangat utama.

 

Kalau kita mau Ujian Nasional rajin belajar. Itu adalah biasa. Jadilah siswa yang luar biasa, yaitu mau belajar, walau bukan hari-hari Ujian Nasional.

Kita rajin belajar disaat ada guru, itu adalah biasa. Tetapi rajin belajar saat tidak ada guru, itulah yang siswa luar biasa.

Bersahabat di kala kita bahagia adalah baik, tetapi tetap bersahabat dikala kita mendapatkan duka, itulah sahabat luar biasa !

Sekali lagi, lakukan hal yang lebih, karena di situ kita akan menjadi orang luar biasa. Hindari melakukan sesuatu  yang biasa-biasa saja, karena perbuatan itu akan menjadi ORANG BIASA-BIASA SAJA !

 untuk menjadi orang besar, kitata harus berbuat yang besar. Ingin menjadi orang soleh, maka lakukanlah gaya hidup orang soleh. untuk menjadi orang pinter, kerjakan amalah orang pintar. itulah pelajaran penting dari ucapan yang dikutip ibnu Hajar Al-Asqalani

Hal yang sering terjadi kita, kita malahan punya pikiran biasa-biasa saja, atau wajar-wajar saja.  Tidak disadari, kita sering mengatakan :

Wajar, dia itu pinter, kan dia mah orang kaya punya segalanya

Wajar, dia itu cerdas, kan sekolahnya di sekolah favorit

Wajar dia bisa berkhutbah, sekolahnya juga dari pesantren…

 

Sikap tadi itu, adalah sikap memaklumi kenyataan, memaklumi prestasi, karena kewajaran.  Sikap ini, tidak cocok dengan pesan moral Rasulullah SAW tadi. Padahal, pikiran yang wajar itu, adalah wajar, biasa atau normal, tetapi bukan pikiran orang hebat, bukan pikiran orang berkualitas, bukan pikiran orang yang unggul, bukan pikiran orang yang  berprestasi, dan bukan pikiran orang optimis.

Orang kaya bisa dermawa, kan wajar ? orang tua banyak ibadah dan taubat, adalah sikap wajar ? tetapi, bukan itu yang diinginkan Rasulullah. Harapan Rasulullah, adalah menjadi generasi muda muslim yang optimis, yang memanfaatkan peluang kecil sekalipun, untuk meraih prestasi yang maksimal.

Orang miskin, sangat kecil peluangnya untuk memberi sumbangan, tetapi kemampuannya menyumbang adalah prestasi terbaik dan luar biasa.

Sekolah di SMA favorit bisa berprestasi wajar, tetapi sekolah di madrasah kita, walaupun fasilitas sederhana, tapi bila kita bisa berprestasi, itu artinya kita adalah siswa luar biasa.

Jadilah generasi muda muslim yang optimis, yang memanfaatkan peluang kecil sekalipun, untuk meraih prestasi yang maksimal.

Orang yang optimis  dan ambius, akan mengatakan,  ‘wajar dia bisa pinter karena punya buku, tetapi saya akan menjadi orang terbaik, karena tidak punya buku, tapi bisa jadi orang pintar ?! ini adalah sikap orang optimis.

Dengan kata lain, seorang muslim itu, harus memiliki jiwa optimis, dan positif. Apapun kondisi kita hari ini, harus dijadika modal untuk meraih yang terbaik, dan bukan meraih hal yang biasa-biasa saja !

Sehubungan hal ini, mari kita ubah pola pikir kita. Dengan mengambil inspirasi dari tuturan hikmah ulama itu, kita jadikan, apa yang ada ini, sebagai upaya memperindah doa kita, menguatkan semangat kita, dan mendorong untuk menyegerakan tindakan kita.

Mohon maaf, dengan keterbatasan yang kita miliki ini,mari jadikan sebagai pengindah doa kita kepada Tuhan, ya Allah, kami serba terbatas, kami ingin menjadi orang baik, orang hebat.

Mari, berbagai keterbatasan ini, menjadi pemerkuat semangat kita untuk terus berusaha dan berusaha lagi.

Dengan berbagai kelemahan yang ada, catatan Cuma satu, Mari sesegera mungkin bertindak,  bertindak untuk mengubah kenyataan. Jangan malas lagi, jangan berleha lagi.

Ketiga, bila kita kaitkan dengan kehinaan atau kenistaan hidup, ternyata rumusannya berbeda.

Berbuat salahkarena ada peluang itu biasa. Tetapi berbuat buruk karena nekad itulah perbuatan yang paling buruk.

Kita dapat dengan mudah memahami, wajar jika kaum muda  berbuat dosa. Tetapi, berbuat dosanya orang muda itu buruk, lebih buruk lagi, adalah orang tua yang berbuat dosa. Orangtua ini,NEKAD namanya !

Bila kita melihat orang bodoh cinta dunia, walaupun itu bernilai buruk, tetapi itu wajar dan mudah dipahami. Tepai, bila orang berilmu yang cinta duniawi, maka itu adalah perbuatan NEKAD, dan itu lebih buruk lagi.

Berdasarkan pertimbangan ini, kehinaan kita ini, ternyata lebih disebabkan karena kita nekad berbuat salah. Ketika tidak ada KPK, dia korupsi, wajar, walaupun tetap salah. Tetapi, Korupsi setelah ada KPK, subhanallah, itu NEKAD namanya !  

Bersantai ria diwaktu liburan itu adalah wajar, tetapi bersantai ria menjelang Ujian Nasional, itu NEKAD Namanya ?!

Ingat baik-baik, ketika kita berdiam diri, sebenarnya, orang lain yang tidak kelihatan oleh kita, orang kita yang jauh dari kita, mereka sedang berdoa dan berusaha keras untuk memenangkan pertandingan hidup ini…renungkan, dan bersikaplah, selanjutnya terserah Anda !

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ      إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Advertisements