Pendidikan mental dan pribadi, tidak bisa dilakukan hanya dengan bercerita. Pendidikan kepribadian (personality), selain dengan memanfaatkan contoh, juga perlu dengan melakukan aktivitas fisik. Dengan melakukan aktifitas fisik ini, dan juga dengan memanfatkan teknik briefing, kita dapat membangun mentalitas peserta didik yang lebih baik.

Perhatikan film 5 Cm. Mendaki gunung adalah salah satu tema yang tersajikan dalam film ini. Bagi kita yang belajar geografi, bisa menarik makna, nilai atau hikmah dari proses pendakian itu. Proses pendakian tidak akan berhasil tanpa kesungguhan, keseriusan, kesetiawakan dan kerjasama. Ini adalah nilai-nilai penting dalam hidup, dan akan dengan mudah tumbuh kembang bila kita melakukan perjalanan.

Bila kita ingin mengetahui nilai persahabatan,

lakukanlah perjalanan

Dengan melakukan perjalanan karakter egois akan muncul, karakter persaudaraan akan muncul. Oleh karena itu, pembelajaran georafi pada dasarnya memiliki modal untuk membangun karakter siswa, khususnya melalui perjalanan.

Selain melakukan perjalanan, aspek penting lainnya adalah melakukan pengamatan, pengamatan langsung ke daerah rawan bencana, misalnya. Kunjungan ke daerah bencana, merupakan bagian penting untuk membangun kepedulian, kesetiakanan dan solidaritas sosial peserta didik.

Di televisi pasti ada berita tentang bencana alam. Tetapi menyaksikan bencana alam dari media elektronik ini, hanya akan membuat kita kaget dan membisu. Andaipun merasa peduli dan simpati, tidak banyak yang bisa dilakukan. Tetapi, dengan melakukan pengamatan langsung, banyak hal yang bisa dilakukan peserta didik.

Pengamatan langsung ke daerah bencana, adalah model pembelajaran yang tepat untuk membangun karakter peserta didi. Geografi, menurut Nursid Sumaatmadja memiliki peran pengembangan nilai edukatif dan nilai spiritual yang tinggi bagi peserta didik.

Dalam kaitan program ini, kita perlu memperhatikan pandangan kritis dari Kent, Gilbertson dan Hunt (1997) yang menegaskan bahwa pembelajaran studi lapangan itu bervariasi. Setiap variasi memiliki nilai pembelajara yang berbeda.[1] Untuk meningkatkan kualitas dan hasil pembelajarannya, pembelajaran studi lapangan yang efektif itu, adalah studi lapangan yang melibatkan partisipasi siswa. Sehubungan hal ini, secara sederhana, kita dapat membedakan jenis studi lapangan yang satu dengan yang lainnya. Peta konsep berikut dikutip dari Kent, Gilbertson dan Hunt (1997).

Pertama, ada studi lapangan yang sekedar menjadi pengamat. Tingkat ketergantungan siswa pada instruksi sangat tinggi. Jenis yang pertama ini, kita sebut sebagai studi lapangan dengan tipe penonton.

Kedua, pengamatan terstruktur. Partisipasi siswa ada, tetapi setiap langkah dan kegiatannya tergantung guru. Agenda pembelajaran bergantung pada guru atau instruktur. Buku panduan pengamatan sudah ditentukan di bagian awal.

Ketiga, pengamatan mandiri. Sifatnya pengamatan, tetapi instrumen pengamatan disusun oleh siswa, sehingga kemandiriannya sangat tinggi.

Keempat, partisipasi tinggi, dan otonomi sudah tinggi, tetapi dilakukan oleh kelompok. Jenis studi lapangan ini, kita sebut sebagai projek kelompok (group project).

Terakhir, yaitu project individual. Setiap anak memiliki ruang partisipasi yang terbuka dan memiliki peran sendiri di lapangannya. Model yang terakhir ini, memiliki nilai partisipasi siswa dan kemandirian siswa sangat tinggi secara pribadi.

Bila dilihat dari sisi masalahnya, studi lapangan pun, dapat dibagi menjadi dua jenis. Pertama ada studi lapangan karena ingin mengetahui keunikan atau gejala geosfera di daerah yang dikunjungi. Untuk hal pertama ini, cenderung pada aspek observasi yang pasif, karena peserta didik hanya menerima atau melihat gejala geosfera dimaksud. Sementara jenis yang kedua, yaitu studi lapangan berbasis masalah (problem-based observation). Dengan jenis yang terakhir ini, siswa tertantang untuk mengamati dan berperan aktif dalam memahami masalah dan merumuskan pemecahan masalahnya.

Teknik studi lapangan yang efektif dalam mendukung pembelajaran geografi, adalah studi lapangan yang disesuikan dengan standar kompetensi yang ingin dicapai. Sementara untuk pengembangan dan penguatam kompetensi siswa, maka studi lapangan berbasis masalah merupakan teknik ampuh untuk mencapai tujuan dimaksud.

Khusus yang terakhir ini, studi lapangan berbasis masalah, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian, kepekaan dan simpati serta perilaku siswa dalam merespon gejala geosfera atau masalah geosfera yang terjadi di sekitarnya.


[1] Martin Kent, David D Gilbertson, dan Chris O Hunt. 1997. Fieldwork in Geography Teaching: a critical review of the literature and approaches. Journal of Geography in Higher Education, Vol. 21, No. 3, 1997, 313 332

Advertisements