Pagi itu, seorang siswa merapat ke meja piket. sebuah kebetulan saja, saya hadir di tempat itu. tidak terduga, dan tak disangka-sangka, dia mengajukan pertanyaan yang mungkin tengah di pikirkannya selama ini, “apa yang diinginkan orangtua terhadap anak gadisnya?” ajunya. saya spontan menjawab, “ya….nikahlah..”. eh ternyata, petanyaan itu malah berbuntut panjang. berikut ini komentarku saat ini

Kita hidup ini, dalam suasana berbeda, berpisah dan berjauhan. Aku dan kau berbeda. Dalam ekonomi, kondisi ku dengan pekerjaan impianku itu masih terpisah. Otak dengan prestasiku masih salih berjauhan. Dan banyak hal lagi, yang menunjukkan bahwa kita di satu pihak, dengan sesuatu yang lain bersebelahan.

Kebutuhan kita saat ini, adalah bagaimana kita bisa bersatu dengan sesuatu tersebut ? di sinilah, yang saya sebut, sebagai sebuah pernikahan, atau memadukan dua hal yang berbeda menjadi satu jiwa. Untuk lebih mudahnya, kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah dia adalah jodohku ? apakah sekolah ini, adalah jodohku, sehingga bila belajar di sekolah ini bisa meraih cita-cita ? apakah, pekerjaan ini adalah jodohku dan aku bisa diterima kerja di sana ? apakah profesi ini adalah jodohku sehingga aku bisa berkiprah di pekerjaan itu ?

Sebuah pertanyaan sederhana, namun memiliki kompleksitas yang tinggi. Kita dituntut untuk melangkah satu langkah demi satu langkah, untuk menemukan jodoh kita dalam hidup ini. Hati-hati, ada orang yang menikahi sesuatu, tetapi merasa bukan jodohnya, yang dilakukannya hanya karena keterpaksaan. Belajar di sekolah ini terpaksa, bekerja seperti sekarang ini lebih karena terpaksa, dan menikahi orang ini pun lebih disebabkan karena terpaksa. Orang yang seperti itu, menikahi sesuatu lebih disebabkan karena terpaksa. Bukan jodohnya, tetapi tetap menikah dengannya. Apa yang akan terjadi ?

Untuk menjelaskan mengenai upaya-upaya kita menemukan jodoh, saya ingin menjelaskan hal ini dalam empat langkah, satu proklamasi. Keempat langka itu, mudah-mudahan memberikan gambaran mengenai dan meneguhkan keyakinan kita, sehingga merasa yakin bahwa sesuatu yang kita nikahi itu adalah benar-benar jodoh kita.

Pertama, kita harus memiliki pengetahuan yang akan kita nikahi. Itulah di sebut tahapan marifat. Jika ingin menikahi orang, cari tahulah informasi mengenai dia. Jika ingin kuliah di sebuah perguruan tinggi, carilah mengenai kualitas pelayanan pendidikannya. Jika ingin bekerja di satu perusahaan, cari tahulah mengenai kemampuan minimal yang diperlukannya. Jangan menikahi sesuatu yang Anda tidak tahu masalahnya. Celaka dan rugilah, jika anda ingin masuk perguruan tinggi tertentu, tetapi tidak tahu kualitas lembaga pendidikannya itu. Setelah kuliah, Anda akan merasakan kekecewaan dengan lembaga tersebut. Itu semua, adalah buah dari pernikahan yang tanpa disadari atau pernikahan tanpa pengetahuan. Pernikahan dengan sesuatu yang bukan jodohnya.

Anak gadis remaja sekarang ini, banyak yang pacaran (atau menikah) dengan orang yang menyatakan (nembak) kepada dirinya. Merasa di tembak, merasa laku, merasa dibutuhkan, dan akhirnya menerima kehadiran orang itu. Tahu-tahunya, dia itu memang penembak beneran, dan menjadi orang yang membunuh sang gadis tersebut. Sang gadis menjadi korban tembakannya, dan tercampakkan sudah. Ini adalah contoh dari orang yang pacaran (nikah) tanpa pengetahuan yang benar mengenai orang yang akan menjadi pasangan hidupnya. Maka dari itu, menikahlah dengan pengetahuan yang benar, karena jodoh itu adalah orang yang hanya akan menjadi milik kita dan bukan untuk menyakiti.

Kedua, menikahlah dengan syariat. Arti dari syariat itu adalah resmi, legal atau syah. Kalau memang jadian, tunjukkan bahwa itu jadian, dan berikan buktinya. Bila itu adalah benar, sebutkanlah benar, dan itu memang benar. Jangan menikahi sesuatu dengan kepura-puraan. Karena kepura-puraan itu, hanya membuat hati kita tersiksa, dan kita tidak akan pernah bisa memilikinya.

Pacaran dengan kepura-puraan, hanya akan menjadi orang yang merasa punya pacar. Padahal dia tidak pernah menyatakan, dan kita pun tidak pernah mengungkapkan. Perasaan punya pacar, dan pacarnya hanya ada diperasaannya saja. Aslinya, dia masih sendirian.

Bekerja dengan penuh kepura-puraan. Baju rapi, berangkat pergi, hanya sekedar menghindari kekecewaan orang tua atau tetangga. Melihat rutinitas kita yang begitu setiap hari, semua orang memandang bahwa kita sudah bekerja. Untuk sementara, hati kita pun merasa puas, karena tidak pernah ada yang ngomel akan status penganggurannya kita. Tetapi, tidak memiliki pekerjaan yang pasti, dan dengan sebuah kepura-puraan, sesungguhnya, kita tidak pernah mendapat sesuatu yang sesungguhnya.

Berangkat ke sekolah, berseragam putih abu. Tas digendong, katanya sih di dalamnya banyak buku pelajaran. Tetapi, jika sekolah itu sebagai kepura-puraan belaka, hanya untuk menghentikan omelan orang tua dan tetangga, atau sekedar mencari teman baru di tempat baru, maka kita tidak akan mampu meraih prestasi secara maksimal.

Ketiga, menikahlah dengan thariqoh. Thariqoh di sini, kita maknakan sebagai sebuah jalan. Impian kita ingin menikah itu adalah untuk menjadi jalan guna memiliki keturunan atau memadu kasih dengan jodoh kita. Oleh karena itu, jadikanlah pernikahan, nikah dengan apapun, untuk bisa menjadi jalan menuju impian kita.

Nikahilah seseorang yang bisa membawa kita ke jalan sukses, dan bukan orang yang menghambat jalan hidup kita. Aneh sudah, bila ada pasangan hidup kita, setelah menjadi pacar, setelah menikah, malah menghambat kreativitas kita, menghambat mimpi kita, menghambat karir kita, dan termasuk merusak kehormatan kita. Carilah pasangan hidup yang mendukung diri kita, untuk mencapai tujuan hidup itu. Pasangan hidup seperti itu, merupakan pasangan hidup yang menjadi thariqoh bagi diri kita dalam menggapai tujuan hidup.

Nikahilah pekerjaanmu, yaitu pekerjaan yang bisa membuatmu menjadi orang dewasa. Jangan jalani pekerjaan yang membuat impianmu menjadi tersiksa. Carilah pekerjaan yang membuatmu bisa mencapai cita yang lebih luas lagi. Sewaktu sekolah, dikenal sebagai orang cerdas, tetapi malah dipaksa seseorang untuk bekerja yang tidak jodohnya. Jangankan bisa meningkatkan karir, malah membunuh kreativitas yang dulu sempat muncul dan berkembang. Pekerjaan seperti itu, bukanlah jodoh yang baik. Pekerjaan yang membuat kreativitas kita mati, adalah bukan jodohnya.

Nikahilah sekolahmu yang membuatmu bisa mencapai cita-cita. Hindarilah menikahi sekolah yang tidak mengembangkan minat dan bakat. Temukan sekolah yang mampu menjadikanmu menjadi benar-benar sebagai remaja dewasa, atau manusia seutuhnya, yang memiliki kemmapuan dan bakat. Sekolah yang membunuh minat, bakat, kemampuan, atau kedewasaanmu, adalah pasangan-hidup yang merusak.

Terakhir, menikahlah secara hakikat. Pada hakikatnya, menikah itu adalah untuk ketenangan, kenyamanan, dan keindahan. Apapun yang kamu nikahi, raihlah dan gapailah ketenangan, kenyamkanan dan keindahan itu.

Sebuah sekolah yang membuat kita nyaman, tenang dan indah, adalah pernikahanmu dengan sekolah itu sudah mendekati kesejatian. Itulah jodohmu, dan itulah sekolahmu. Sekolah yang membuat hatimu tidak nyaman, tidak tenang, dan tidak merasa indah, jangan-jangan itulah pernikahan-akademik yang tidak baik. Hatimu dengan sekolahmu tidak rukun.

Pekerjaan yang membuatmu nyaman, indah dan tenah, adalah jodohmu pekerjaanmu yang terbaik. Bukan tinggi rendahnya jabatan dalam pekerjaan itu, tetapi kemampuanmu meraih kenyamanan hidup itulah yang menjadi jodoh pekerjaan itu sendiri.

Orang yang membuatmu bahagia, nyaman dan tenang disisinya, adalah jodoh dalam hidupmu. Bukan ketampanan fisik yang perlu dicari, tetapi pancaran kasih sayang yang perlu kau dapatkan.

Dari tuturan ini, barulah kita bisa memproklamasikan diri, bahwa kita memang sudah menikahi seseuatu dalam empat kali (empat tahap), dan kita akan berani untuk memproklamasikan diri bahwa kita memiliki jodoh yang baik, atau tidak ?!

Advertisements