Dalam tulisan ini, saya tertarik dengan ungkapan teman-teman yang memiliki tingkat kesalehan tinggi. Adalah Ustadz Syafiq Abrori, yang mampu menunjukkan laku saleh di tengah kesibukan kami dalam menjalani tugas sebagai peserta PLPG.

Saya iri. Di saat kami merasa kesulitan untuk melaksanakan shalat berjamaah, beliau masih juga sempat berjamaah. Di lokasi PLPG ini, tidak tersedia masjid yang representatif, bagi peserta PLPG yang berjumlah 120 orang. Ada musholla, tetapi hanya cukup untuk 5 8 orang. Karena itu, kebanyakan peserta PLPG menunaikan ibadah shalat di kamar masing-masing.

Sementara itu, Ustadz Syafiq, kepala madrasah swasta, yang memiliki latar belakang ilmu Pertanian ini, dan kini menjadi peserta PLPG Geografi, mampu menunjukkan konsistensi dalam ibadah di masjid. Beliau tetap, menjalankan shalat berjamaah, di masjid yang berlokasi di luar kegiatan PLPG.

Kesalehan laku, tidak sekedar ditunjukkan dalam ibadah kepada Allah Swt. Kesalehan laku pun, ditunjukkan pula dalam mengartikan rejeki atau kekayaan. Lulus PLPG adalah sebuah nikmat, tetapi untuk mendapatkan nikmat tidak perlu dengan cara maksiat. Itulah, kira-kira pesan yang disampaikan teman-teman yang hadir dalam obrolan di antara guru Geografi saat itu.

Pernyataan ini, mengingatkan saya, pada kelakaranku di masa lalu. Mungkin kelakaran tahun 2007an. Waktu itu, saya mengatakan, PLPG itu adalah upaya menghalalkan tunjangan profesi, tegasku. Pandangan ini saya kemukakan, dengan maksud untuk mengkritik upaya tidak sehat dalam mendapatkan tunjangan sertifikasi profesi. Maka, dengan PLPG, tunjangan profsi yang didapat itu, nyata-nyatalah adalah imbalan negara terhadap guru yanag sudah menjalani pendidikan. Sementara sebagian diantara mereka yang tidak PLPG, atau lulus dengan portofolio ada yang menggunakan cara tidak sehat untuk mendapatkan tunjangannya. Karena alasan itulah, maka PLPG bagiku saat itu dan juga saat ini, adalah upaya legal dalam menghalalkan tunjangan profesi.

Dari obrolah itu pula, saya mendapatkan kesan, bahwa dibutuhkan kesadaran yang tepat dalam mengartikan tunjangan, atau lebih luas lagi, mengartikan rejeki. Pertama, rejeki itu memang ada yang bersumber dari pimpinan urang, itulah yang disebut gaji atau tunjangan, atau insentif, atau honor. Kedua, ada rejeki yang muncul dari papada urang, artinya kita memiliki peluang untuk mendapatkan rejeki dengan cara shilaturahmi atau bisnis. Bisnis adalah upaya memanfaatkan papada urang, untuk meningkatkan kesejahteraan diri. Ketiga, ada rejeki dari hasil tina bincurang. Dalam bahasa Sunda, bincurang itu artinya mata kaki. Dengan kata lain, rejeki itu didapat dari hasil usaha sendiri. Kerja sendiri.

Selain tiga hal tadi (pimpinan urang, papada urang, laku bincurang), kita pun harus meyakini mengenai adanya rejeki nu teu ondang. Dalam bahasa lain, rejeki seperti ini tidak disangka-sangka, tidak kita rencanakan, tetapi datang tanpa undangan. Dalam istilah agama, itulah yang disebut rejeki min haitsuma la yahtasib, rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Seperti hadiah atau berkah dari sebuah kegiatan.

Advertisements