Sore itu. Antri makanan dihari yang ketiga. Tidak seperti biasanya, antrian makan di sore ini agak menarik. Kemenarikannya itu, karena guru-guru dari jurusan Sejarah hadir berbarengan di meja makanan dengan jurusan geografi.

hai, ladt first….lady first…. ujar seorang guru laki kepada teman-teman yang lainnya. Saya kurang paham, maksud dan tujuannya. Tetapi gerak-gerak amat kentara. Sambil menyubit teman guru laki yang lainnya, mereka memandang seorang peserta PLPG dari teman sekelasnya, guru sejarah, yang tampak berhidung mancung, dan berwajah bening. Walaupun agak gemuk dikit, wajah guru sejarah ini tidak jauh beda dengan Nabil Syakib.

ah..itu hanya imajinasi dari orang yang hobinya menggoda saja… ujar kita saat itu. Sambil juga berebut piring untuk alas makan di sore itu.

Peserta PLPG soren itu, tumplek dua kelas. Sehingga antrian cukup banyak. Hampir 60 peserta hadir untuk memperebutkan antrian makan di sore itu.

Tidak jauh berbeda dengan anak-anak kecil. Rebutan sendok, garpu, piring dan posisi antrian. Saya sendiri tak luput dari mainan itu. Sementara dua guru laki tadi yang sedang memperhatikan bu Ai Nabila Syakib pun terlibat dari mainan rebutan makanan di sore itu.

Banyak karakter yang ada saat itu. Seperti halnya, bu Ai dan sejumlah guru perempuan lainnya, lebih banyak mengambil posisi berdiam diri. Sambil senyam-senyum ke sana ke mari, mereka memperhatikan ulah rekan-rekan lainnya yang berebut makanan.

Ada juga yang mengambil cara lain. Dia langsung ambil piring, dan tidak berarti. Langsung dia ke penghujung seberang sana. Tidak antri dari awal, tetapi langsung mengambil posisi dipaling depan. Bila orang lain, berawal dari piring, nasi, lauk pauk, sampai ke air kemasan. Orang yang satu ini, langsung ambil air kemasan. liat ini, pakai jalan cepat, saya sudah dapat makanan…ujarnya, sambil mengacungkan air kemasan dan beberapa lauk pauk. Sementara nasinya belum dia dapatkan.

Sementara, saya dan sejumlah teman yang lainnya, tetapi mengikuti mekanisme yang prosedural. Antri, dan mengambil langkah dari awal, sampai pada akhir. Di sela-sela itulah, saya melihat ada fenomena unik. Tidak terasa dan tidak terkendalikan lagi, saya mengatakan, Mengutamakan hasil, maka apapun dapat dilakukan. Sedangkan orang yang mengutamakan proses maka apapun bisa didapatkan.

Pernyataan ini, ternyata mendapat tanggapan serius dari rekan-rekan yang lainnya. Di sela-sela menyantap konsumsi sore itu, mereka mengajukan pandangan mengenai pernyataan yang baru saja disampaikan.

Saya membayangkan, mengenai kebijakan aneh dari sejumlah guru dan kepala sekolah mengenai siasat jitu menghadapi UN. Saya membayangkan, mengenai ulah aneh dari sejumlah guru yang mengembangkan siasat jitu dalam meloloskan anak mengikuti program bidik misi. Saya membayangkan, mengenai ulah sejumlah oknum yang mengembangkan cara aneh dalam menghadapi portopolio sertifikasi guru. Dari sejumlah kasus itu, pernyataan bahwa Mengutamakan hasil, maka apapun dapat dilakukan kian menemukan kebenarannya.

Sementara mengingat kaus Chairul Tanjung, yang mampu menjalani proses usaha secara benar, atau sesuai dengan nilai dan etika bisnisnya, ternyata mampu meraih banyak hal. orang yang mengutamakan proses maka apapun bisa didapatkan..

Advertisements