Istilah mualaf, merupakan salah satu kosa kata yang muncul dan ramai digunakan instruktur PLPG kali ini. Mungkin jadi, di kesempatan lain pun, istilah ini pernah muncul dan dimunculkannya juga. Hal itu, sangat terasa dan tampak, dari sejumlah instruktur yang mengisi di ruangan kami, kerap menggunakan istilah mualaf dalam sela-sela pembicaraannya.

“Ahmad…?” sapa seorang instruktur. “hadir…”, jawab seorang guru laki yang duduk di barisan kedua, kursi barisan putra. “latar belakang pendidikan sebelumnya, apa ?” tanyanya ulang.

Mendengar pertanyaan itu, setiap peserta kerap merasa deg-degan. Karena pertanyaan itu, akan berujung pada komentar khas dalam PLPG ini. “Administrasi Niaga Universitas Indonesia”, jawab Ahmad, yang kini mengajar pada sebuah madrasah di Kabupaten Kuningan.

“mualaf….lagi”, kata instruktur. Istilah mualaf ini, bukan sekali. Bukan mata diklat kali ini saja. Setiap instruktur baru yang hadir di ruangan ini, senantiasa melakukan pengecekan kehadiran dan melakukan perkenalan, dengan mengecek latar belakang pendidikan para peserta DIKLAT.

Kelompok kami adalah kelompok guru geografi. Instrukturnya pun adalah dari Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dengan alasan itu, maka setiap instruktur seolah terpancing untuk melakukan pengecekan terhadap para peserta diklat. Atau mungkin, itulah gaya seorang guru yang benar. Sebelum memulai pembelajaran, seorang guru dituntut untuk mengeceka kehadiran peserta, dan sekaligus melakukan perkenalan, dengan harapan dapat memberika pembelajaran yang tepat dan bermanfaat.

“ini perlu dilakukan..” ujar seorang instruktur muda belia yang masuk di hari keempat Diklat. “karena kami, harus mengukur pengetahuan awal kegeografian dari peserta diklat…” paparnya, memberikan alasan kepada peserta diklat. Dalam penjelasannya selanjutnya, dikatakan bahwa, denga memahami latar belakang pendidikan peserta didik ini, sudah tentuk kami tidak akan memberikan pendalaman materi yang dianggap terlalu jauh, layaknya memberikan pendalaman kepada guru yang sudah terbiasa dengan pelajaran geografi. Tuturnya lagi.

Mudah dipahami, dan juga sangat dimaklumi. Bagi kami, sebagai seorang peserta diklat, amat sangat memahami, mengapa seorang guru melakukan pengecekan kehadiran, dan melakukan pendalaman mengenai latar belakang pendidikan peserta diklat. Meminjam istilah RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), tindakan itu sama dengan appersepsi. Membahas kajian yang akan disampaikan dengan memperhatikan pengalaman atau pengetahuan peserta didik sebelumnya.

Namun demikian, hal yang kerap menjadi ganjalan itu, yaitu penggunaan istilah mualaf. Konsep mualaf, adalah konsep yang biasa digunakan oleh umat Islam, untuk menyebut orang yang baru masuk Islam. Dengan kata lain, istilah mualaf ini, digunakan untuk orang-orang yang mengajar geografi, tetapi latar belakang bukan jurusan geografi. Mualaf digunakan untuk menunjuk seorang peserta PLPG pada mata pelajaran tertentu, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan kepesertaannya.

Bagi kita yang dilapangan, pada dasarnya, tidak mau menjadi mualaf. Bahkan, menurut seorang peserta Diklat dari Subang, yang kini mengikuti kegiatan PLPG mata pelajaran Ekonomi, orang seperti saya ini, bukan mualaf, tetapi nu kalap. “kami tidak mau jadi mualaf, tetapi kondisi memaksa harus begini….” akunya.

Dalam bahasa Sunda, istilah “nu kalap” mengandung arti orang yang sedang terdesak, terpaksa atau kalang kabut. Sikap yang diambilnya, sudah bukanlah pilihan rasional, tetapi pilihan keterpaksaan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. “kami ini honorer, bila tidak mengambil mata pelajaran ini, kami tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi…”paparnya.

Iya, benar. Pilihan mata pelajaran sertifikasi ini, kadang memang bukan pilihan nurani. Pilihan ini jatuh, karena memang tidak ada pilihan lain, dan atau karena belum ada orang yang mewakili pelajaran tersebut. Maka, diambilnyalah kesempatan itu.

Di lapangannya saat ini, bukannya tuntutan mengajar 24 jam seminggu pun, menyebabkan guru banyak yang kalap (kelabakan) ? akibat dari minimnya ruang untuk mendapatkan jam tambahan pada pelajaran yang sejenis, banyak guru memberanikan diri mengampu mata pelajaran yang tidak serumpun dengan ijazah atau sertifikat profesinya.

Pikiran yang ada dalam benaknya, “Yang penting ikutan sertifikasi?!”, atau “yang penting bisa cair ?!”

mendengar cerita itu, jadi teringat tentang supir tembak ?!?!

Advertisements