Berita bahagia, yang berbuah penderitaan. Itulah yang dirasakan banyak peserta. Mulanya, berita bahagia itu berawal dari adanya banyak acara yang tidak bisa ditinggalkan oleh beberapa instruktur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. sebenarnya, tidak terlalu parah, dan itu termasuk kategori wajar. Misalnya saja, seorang instruktur datang terlambat selama 10-15 menit. Atau, ada juga instruktur yang memang memangku jabatan structural di lingkungan akademiknya, di sela-sela memberikan pembelajaran kepada peserta PLPG, kerap kali menghentikan PBM karena ada telepon dari luar.

Alasan-alasan praktis dan klasik itu, ternyata berbuntut panjang. Para instruktur kerap kali mengajukan permohonan maafnya kepada para peserta PLPG, dan kemudian memberikan sejumlah konvensasi. Diantara konvensasi itu, yakni ada yang berupa tugas yang relative lebih mudah dan memudahkan, jadwal pembelajaran yang tidak kaku, gaya mengajar yang lebih familiar, dan juga kadang-kadang, toleransi waktu pembelajaran lebih terbuka.

Hal lain yang cukup menguntungkan dan bahkan sangat menggembirakan yaitu adanya keputusan dari Panitia PLPG bahwa waktu penyelenggaraan PLPG dipercepat, dan insya Allah akan ditutup hari senin, atau hari kedelapan dari rencana PLPG selama sepuluh hari.

“hore…” ujar Mas Mis, seorang guru madrasah dari sebuah Kabupaten tetangga Kota Bandung. Teriakan itu terlontar, dan bahkan perayaan kegembiraannya itu, ditunjukkan layaknya seorang bobotoh menyaksikan pemain idolanya memasukkan gol tunggal ke gawang lawan.

“Alhamdulilllah….”, pekik sejumlah guru lainnya mendengar keputusan panitia tersebut. Perayaan kegembiraan itu, sangat cepat menyebar dan menerabas ke berbagai jurusan, hingga tak terkendalikan lagi. Suasana gemuruh dan pancaran kegembiraan dari wajah-wajah para peserta terpancar hingga mengalahkan pancaran sinar matahari yang tengah moncorong di siang hari itu.

Matahari pun tersipu-sipu. Alam pun meredup. Semua itu, terjadi karena, pancaran kebahagiaan dari wajah para peserta PLPG yang begitu kuat. Saking gembiranya. Sinar kebahagiaan itu menyeruak ke berbagai penjuru di dunia.

Berawal dari pertemuan antara ketua kelompok peserta PLPG dengan panitia. Malam itu, dibicarakan mengenai berbagai program yang terkait dengan agenda tiga hari mendatang. Berdasarkan jadwal, dua hari berikutnya adalah workshop, dengan model pembelajaran yaitu penugasan membuat silabus, RPP, bahan ajar dan PTK. Ternyata, berdasarkan pengakuan instruktur dan juga laporan ketua kelompok mata pelajaran, semua kelompok sudah mampu menuntaskan tugas-tugas tersebut.

Inti kata, menurut ketua kelompok, tugas yang sejatinya harus dikumpulkan dalam dua hari kedepan, sudah bisa dikumpulkan malam itu. Para instruktur pun mengakui, bahwa model penugasan yang dikembangkan waktu itu, potensial mempercepat kinerjanya dan tugas peserta didik.

Memang benar. Ada seorang guru perempuan, dari asrama sebelah, yang meraung-raung, menangis, akibat tugas yang numpuk. Di tengah malam buta, sekitar pukul 02.00 WIB, menurut tuturan teman sekamarnya, ibu itu menangis meraung-raung melihat dan menghadapi tugas yang begitu numpuk. Hingga harus mengorbankan jam tidur, dalam keadaan fisik yang lemas, dan mata yang sayup sekalipun, alhamdulillah, tugas itu bisa dituntaskan seperempat jam menjelang shalat subuh.

Itu adalah pengalaman peserta PLPG pekan ini. Pengalaman itu pun, tidak dirasakan oleh ibu guru dari kabupaten paling selatan di Jawa Barat. Tetapi, hampir setiap peserta merasakannya juga. Hingga ada ucapan, stress, tertekan, atau galau, seolah menjadi kosa kata harian bagi para peserta PLPG kali ini. Hadiah dari kerja keras, atau kerja lelah itu, adalah sangat kentara, tugas yang sejatinya harus dilakukan dua hari kedepan, saat itu sudah bisa dituntaskan. Dengan alasan itulah, kemudian, panitia dan instruktur mengambil keputusan untuk mempercepat acara penutupan PLPG.

Diantara peserta yang tampak senang atau gembira buuuuuanget itu, adalah Mas Mis dan Pak Udan.

Ah, entah mengapa. Itu pun mungkin hanya kebetulan. Di sebut kebetulan, karena hanya mereka berdualah yang secara reaktif memberikan respon sumringah mendengar laporan ketua kelompok mata pelajaran menyampaikan hasil keputusan panitia tersebut.

Saya paham betul, bagaimana kedua sahabat kita ini mengerjakan tugas workshop PLPG kali ini. Merujuk pada jadwal, malam itu kami akan tengah menuntaskan tugas membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Diberi keluangan waktu selama 150 menit, kami diwajibkan membuat proposal PTK. Tidak ada buku rujukan, selain bahan ajar. Tidak ada teman bicara, kecuali diri sendiri. Tidak ada tempat bertanya, karena setiap orang pun serius mengerjakan tugasnya masing-masing.

Jangankan satu buah proposal Penelitian, sekedar untuk membuat pendahuluannnya pun, Mas Mis mengalami kesulitan luar biasa. Keringat panas dingin mulai bercucuran. Bukan hanya beliau, saya pun, yang dipandang orang sudah terbiasa dengan tulis menulis, tidak terhindar dari kelelahan dan kucuran keringat. Tegang, bukan saja sulitnya menuliskan proposan PTK, tetapi, waktu yang terbatas itu jugalah yang membuat jantung ini berdebar.

Ketegangan demi ketegangan terus berlanjut. Walaupun pada dasarnya, ketegangan ini, mulai dirasakan sejak hari keempat PLPG. Sejak hari keempat hingga hari ketujuh kemarin, begitu padat dengan tugas yang berbuah karya nyata, seperti proposal PTK, Silabus, bahan ajar, dan RPP. Semua itu harus diselesaikan dalam bentuk tulisan tangan, dan dikumpulkan selepas jam diklat berakhir. Beberapa tugas yang dibawa ke rumah, diantara adalah membuat media pembelajaran atau menuntaskan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Oleh karena itu, mendengar laporan bahwa PLPG akan dipercepat, dan akan ditutup hari senin atau hari kedelapan, membuat banyak peserta merasa sumringah. Alhamdulillah… kata sebagian orang.

Sayangnya, cerita dan berita itu belum berakhir. Karena, Pak Udan yang membawa berita itu, langsung berita itu, langsung berteriak kencang, “Gelo…..mimpi…” ketusnya, “ah, pak asep, kenapa lampu dinyalakan, jadi we……..PLPG dilaksanakan tetap sesuai jadwal..” ketusnya.

Semua yang hadir, termasuk Pak Sugeng, langsung ngakak……!!! Haha.haha…!

Advertisements