Bila dalam kesempatan sebelumnya, saya mendapatkan pelajaran penting dari pelajaran sejarah, dibagian ini, saya merasakan ada hakikat geografi yang membantu penyadaran ini. Hakikat sejarah adalah membangun kesadaran diri kita, sedangkan hakikat geografi membangun kesadaran posisi atau lokasi.

Dari satu kelas, sebanyak 30 peserta, hanya enam orang yang berasal dari jurusan pendidikan geografi. Peserta lainnya, ada yang berlatar belakang pendidikan agama Islam, sejarah, ilmu pertanian, administrasi niaga, hukum, bahasa inggris, dan jurusan-jurusan lainnya, termasuk jurusan perbandingan agama. Sangat beragam.

Keragaman latar belakang itu, bukan saja, terjadi di kelompok geografi. Di kelompok guru sejarah, ekonomi, dan sosiologi serta keterampilan pun, begitu adanya. Banyak yang mismach, katanya. Atau istilah yang populer waktu itu, disebutnya banyak guru yang mualaf.

Tetapi, teman-teman geografi memberikan keterangan bahwa, hakikat belajar geografi itu adalah mempelajari lokasi atau tempat. Kesadaran akan tempat itulah, kesadaran yang menjadi penekanan penting dalam pelajaran geografi.

Melalui penjelasan itu, sekali lagi, saya tersentak. Tersentak, karena inilah yang hilang dari kesadaran banyak manusia saat ini. Banyak orang yang berlaku, bertindak, berbuat sesuatu, tetapi, dia lupa akan tempat atau posisinya masing-masing.

Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin mengatakan, apapun latar belakang kita, dari manapun jurusan kita sebelumnya, dan apapun pekerjaan kita masa lalu, tetapi, melalui PLPG ini, kita diajak untuk bersikap tegas, bahwa profesionalitas mata pelajaran saat ini adalah tempat kita yang baru, dan posisi kita masa kini juga masa depan !

Tidak ada tawar menawar lagi. Apapun latar belakang kita, tetapi posisi kita saat ini, adalah guru profesional mata pelajaran yang tertera pada piagam sertifikasi itu. Itulah kesadaran yang harus dimunculkan, dan itulah kesadaran posisi. Karena kesadaran itulah, saya berucap syukur, dan berterima kasih kepada rekan-rekan geografi, yang sudah membagi kesadaran hidupnya, dalam aspek kesadaran posisi.

Sekedar refleksi. Kita melihat banyak kasus. Pejabat negara kita saat ini, tidak jarang yang menunjukkan laku-lampah yang tidak mencerminkan posisinya. Mengaku sebagai wakil rakyat, tetapi melakukan tindakan yang tidak mencerminkan posisinya sebagai wakil rakyat. Orang seperti itu, saya sebutnya, orang yang tidak sadar posisi.

Betul. Wakil rakyat itu, berasal dari sebuah partai, dari satu daerah tertentu. Tetapi, ketika dia sudah manggung di lembaga nasional, sejatinya dia harus memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, dan bukan kepentingan pribadi dan golongan. Elit politik yang kerap menunjukkan sikap mendahulukan kepentingan diri dan golongannya, adalah elit politik yang tidak sadar akan posisinya, yaitu wakil rakyat dan pemimpin negara.

Melalui kesadaran inilah, saya tidak bermaksud untuk melupakan sejarah pendidikan kita di masa lalu. Itu adalah sebuah kesadaran lain, yang saya sebut sebagai kesadaran diri, tetapi melalui PLPG ini, dan atau melalui sertifikasi ini, kita diajak untuk meneguhkan diri, dan menegaskan diri dengan posisi kita yang baru.

Pertama, kita dituntut sadar posisi, bahwa dengan sertifikat profesi kita, sudah menduduki posisi jabatan profesional. Apapun kondisi kita, kita dituntut untuk bisa memaksimalkan ikhtiarkan kita dalam membangun profesionalisme dalam menjalankan tugas.

Kedua, apapun latar belakang pendidikan kita di masa lalu, dan bagaimanapun kualitas kita di masa lalu, maka melalui sertifikasi profesi ini, kita sudah diikat dengan posisi baru, yaitu jabatan profesional sebagaimana yang tertuang dalam sertifikat tersebut. Hal ini, saya sampaikan, sebagai bentuk penegasan, bagi teman-teman yang lain, yang memang sempat dianggap sebagai mualaf atau pendatang baru dalam lingkungan bidang studi tertentu.

Advertisements