Perjalanan pendidikan dan pelatihan, kian mendekati hari-hari akhir. Di ruang kamar penginapan itulah, seperti biasa, Pak Asep dari Al-Jawami Kabupaten Bandung memberikan pertanyaan kritis kepada kami yang hadir.


apa hikmah dari perjalanan PLPG, saat ini ? ajunya kepada kami saat itu. Ajuan ini, biasanya dia sampaikan, selepas shalat isya, atau menjelang kami istirahat. Sehingga, gara-gara ajuan masalah itu jugalah, rekan seasrama di PLPG ini, terpancing untuk tidak tidur sore-sore dan terpaksa terlibat dalam wacana-wacana yang diajukannya.

Pertanyaan sederhana, tetapi memiliki jawaban yang tidak mudah dirumuskan. Kata orang pintar, jawabannya tidak sederhana, tetapi sangat kompleks. Kata orang yang tidak jenius, tetapi masih bisa berpikir, gampang-gampang susah…….. Sedangkan, bagi mereka yang tidak pernah mau berpikir, memberikan jawabannya yang polos, ah itu mah relatif, pelajaran pentingnya sangat subjektif, bergantung pribadi masing-masing….

Memang betul. Agak susah untuk merunut jawaban tersebut. Saya sendiri, memang bukan bagian dari orang-orang tersebut. Saya tidak berani memosisikan diri sebagai orang pintar, atau orang yang tidak mau berpikir. Namun sekedar menimbrungi rembugan itu, dan atau meramaikan wacana, maka pada kesempatan dimaksud saya Saya menuturkan pengalaman pribadi saja.

Entah hasil refleksi atau pun sekedar keterkejutan pikiran saja. Dari perjalanan PLPG selama itu, saya merasakan ada momentum yang kuat sehingga menghentakkan pikiran dan membangkitkan kesadaran diri.

Saya sadar. Tersadar. Atau disadarkan. Entah kata apa yang paling tepat. Dari perjalanan menjelang 10 hari itu, ada pikiran bahwa menjadi seorang guru profesional itu tidak mudah. Pekerjaan menjadi seorang guru profesional itu bukanlah pekerjaan sederhana. Terlebih jika kita masih tergantung pada materi atau finansial, maka profesionalitas itu menjadi sesuatu yang banyak dipertanyakan orang !?

Pada sisi lain, khususnya saat mengikuti pembekalan atau pengayaan materi ajar. Saya sadar, bahwa materi ajar yang harus disampaikan kepada peserta didik itu tidaklah sedikit. Saya sadar bahwa model pembelajaran yang perlu dilakukan dan dikembangkan itu tidaklah mudah.

Pada saat UKA (uji kompetensi awal) misalnya, pikiran dan perasaan ini masih juga dapat terkaget-kaget. Karena ternyata materi ajar yang perlu disampaikan itu, masih banyak yang harus dimatangkan dan dipelajari kembali. Kemudian di sepanjang perjalanan PLPG ini, model pembelajaran, materi ajar, dinamika ilmu pengetahuan serta dinamika pelayanan pendidikan di luar tempat kerja sendiri, begitu sangat tinggi.

Semula, saya sudah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Malam itu, seluruh kemampuan yang sudah ada selama ini, ternyata belum cukup untuk menjadi bekal seorang guru profesional. Selama ini, sudah merasa bangga dengan satuan pendidikan tempat kerja sendiri, ternyata masih banyak lembaga pendidikan di luar diri kita sudah maju sangat pesat.

Semula, saya merasa sudah mampu memberikan pelayanan pendidikan yang prima kepada anak didik. Dalam sepuluh hari itu pula, saya tersadarkan, bahwa kualitas pelayanan minimal yang diberikan itu, ternyata masih-masing sangat minimal, dan belum memberikan bentuk pelayanan yang optimal.

Entah kebetulan atau tidak, alam bawah sadarku waktu itu, seolah menuntun ke rekan-rekan yang berlatar belakang pendidikan sejarah. Pikiran ini, seolah ingin mengatakan, itulah hakaikat utama dari pelajaran sejarah. Melalui mata pelajaran sejarah, kita diajak untuk membangun kesadaran sejarah kita mengenai diri kita.

Kenali masalalu, dan evaluasilah masa lalu, kemudian timbanglah dengan tantangan kita masa kini dan masa depan, akankah kita masih mampu untuk bersikap sombong dalam hidup ini ?! Melalui kesadaran sejarah, kita diajak untuk sadar diri, mengenai kualitas diri dan kemampuan kita yang asli. Melalui kesadaran sejarah inilah, kita diajak berrefleksi atau merefleksikan mengenai berbagai hal yang pernah terjadi, atau pernah dilakukan tempo hari.

Advertisements