Entah apa alasannya, di akhir kegiatan pendidikan dan latihan profesi guru ini, saya diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. Sambutan kesan dan pesan dari peserta di acara penutupan. Dadakan. Bahkan cenderung improvisasi. Itulah kata orang kampus atau akademisi.

Walaupun kesempatan ini baik untuk dimanfaatkan untuk curhat mengenai pesan dan kesan selama PLPG, namun suasana bathin para peserta sudah tidak mendukung lagi. Jasadnya masih di ruang penutupan, tetapi bathin, hati, dan pikirannya sudah pada mudik duluan.

Maklum, kata pa Asep, guru dari Kabupaten Bandung mengatakan, sono ka budak, jeung aya niat balas dendam ka indung budak. Ruh peserta itulah, yang begitu kuat, baik dalam kelopak mata, maupun yang ada dalam pancaran wajahnya. Hingga, tidak aneh bila ada seseorang yang tengah memberikan pengarahan dengan agak berlama-lama, suara gemuruh dan gerutu bermunculan.

seperti anak kecil ujar seseorang yang duduk sebelah kananku. tidak jauh beda dengan para siswa di sekolah…timpalan yang lainnya.

Sekitar 120 peserta, yang tersebar di lima jurusan, yaitu sejarah, geografi, sosiologi dan keterampilan serta ekonomi, sudah berduduk rapi di kursi masing-masing. Suasana ini, sudah pernah mereka rasakan. Suasana tempat duduk dan ruangan ini, pernah mereka rasakan, yaitu sewaktu mengikuti acara pembukaan PLPG tempo hari. Hari ini terulang lagi, dalam suasana yang berbeda, yaitu acara penutupan.

Sekitar lima kursi berbaris, terisi oleh sejumlah peserta dari sebuah jurusan. Setiap jurusan, mengambil posisi lima baris ke bagian belakang. Sehingga, setiap jurusan memiliki perwakilannya yang duduk di bagian depan. Sementara saya sendiri, kebagian kursi di bagian belakang. Bila tidak salah hitung, tiga baris paling belakang.

Dalam suasana seperti itulah, saya berjalan tampil menuju ke muka. Menuju podium, sambil melambaikan ID Card yang sudah sepuluh hari menggelantung di leher ini. Siang ini. Sekitar pukul 11.00 waktu setempat, ID Card itu tercerabut, dan status kepesertaan pun otomatis lepas. Tepuk tangan dari sejumlah teman satu jurusan sangat terdengar, seolah menyambut kedatangan (maaf rasa narsis) seorang pimpinan partainya. Ayo..ayo…master geografi… ujarnya. Mendengar dan melihat gerak laku teman-teman seperti itu, saya hanya tersenyum. Saya tahu, ucapan dan pekikan itu, bukan bermaksud memuji atau menyanjungnya, tetapi sekedar penguatan saja, supaya sambutan pesan dan kesannya tidak terlalu panjang. Itulah yang saya tangkap !

Di mimbar itulah, saya menyampaikan beberapa kesan. Kalimat pertama yang terluncur dari lisannya, yaitu PLPG adalah perginya lesu, pulangnya gairah. Hal itu, saya kemukakan, karena sebelum pergi PLPG, kerap kali muncul isu yang sangat menakutkan. PLPG itu katanya, melelahkan. PLPG itu katanya menakutkan. PLPG itu sangat memberatkan. Dan isu lainnya. Sepuluh hari di kamp, dalam sebuah binaan, dengan maksud untuk memproses seorang guru menjadi seorang pejabat profesional. Tetapi, selepas PLPG, menjelang pulang, kegairahan itu muncul dan memuncak. Entah gairah apa ?

PLPG adalah pami lulus, pasti gumbira. Setiap peserta yang hadir di ruangan itu, atau sesiapapun kita, bila mengikuti proses seleksi, maka harapan utamanya itu adalah bisa lulus. Lulus dari jaringan, lulus dari saringan. Seperti itu jugalah, kami, yang hadir di ruangan itu.

Dengan dua pesan itulah, yang kemudian ditutup dengan celetukan yang lainnya, PLPG, pergi langsing pulang gemuk atau gendut ?

Advertisements