Gearid Tuathail (1998:1) mengatakan bahwa setiap konsep, memiliki sejarah dan geografinya masing-masing.[1] Sebuah konsep, yang hari ini dikenal, adalah konsep yang tumbuhkembang dalam dinamika sejarah. Kehadiran konsep pada hari ini, bukan hal mustahil, sudah mengalami perubahan dan atau perkembangan. Karena ada perkembangan pemahaman orang terhadap konsep tersebut, dan atau karena ada respon dari masyarakat yang berubah, sebuah konsep akan mengalami dinamikanya sendiri.

Sebuah konsep, hadir dan berkembang di lingkungan masyarakatnya. Kemunculan awal sebuah konsep, akan dijadikan sebagai bahan awal bagi masyarakat untuk mendeskripsikan, menganalisis atau memprediksikan sebuah peristiwa. Jika kita berkumpul dengan komunitas Jawa atau Sunda, istilah orang pintar, merujuk pada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan supranatural. Yazid bin Abdul Qodir Jawas (2011), menggunakan konsep orang pintar untuk menyebut tukang ramal (arraf). Arraf (tukang ramal) yaitu orang yang mengaku mengetahui tentang suatu hal dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk menunjukkan barang curian, atau tempat barang hilang dan semacamnya.[2]

Bila seseorang mengalami masalah mental, psikologis, atau kesurupan misalnya, maka salah satu rujukan yang biasa digunakan oleh masyarakat, adalah datang atau mendatangkan orang pintar. Dalam konteks ini, orang pintar, diartikannya sebagai dukun atau orang yang memiliki kemampuan supranatural. Hal ini menggambarkan, bahwa sebuah konsep, dan makna konsep dimaksud, tumbuhkembang dan diakui oleh masyarakat.

Variasi orang pintar cukup banyak, misalnya yaitu dukun, tukang ramal, ahli nujum, dan peramal nasib. Secara umum, orang pintar adalah orang yang memiliki kemampuan dalam membaca dan memberikan layanan spiritual dan juga masalah kesehatan tradisional.

Di media massa, atau dalam masyarakat kita, terdapat banyak istilah yang digunakan untuk mendampingi pengobatan modern (Barat). Diantara istilah itu, adalah pengobatan tradisional, pengobatan holistik, pengobatan alternatif, pengobatan komplementer, ethnomedicine dan atau mungkin ada isilah lain (Sudarma, 2006).[3] Dalam tradisi, semiotika, setiap konsep itu memiliki medan makna, sebagaimana pendukung budaya itu sendiri. Ada perbedaan penekanan pada setiap konsep-konsep tersebut, tetapi kesamaan umum dari setiap konsep itu adalah posisi sosial yang disandingkan (dibandingkan) dengan layanan pengobatan modern (mainstream atau konvensional).

Wacana ini, dmaksudkan untuk melakukan telaah kritis terhadap sejarah konsep, nilai dan implikasi medan makna pengobatan alternatif dalam kehidupan masyarakat. Hal ini, terasa perlu dikaji secara intensif, karena terdapat beberapa faktor sosial yang melatarinya. Pertama, sudah menjadi fakta sosial, bahwa masyarakat Indonesia masih menggunakan layanan pengobatan di luar pengobatan yang berasaskan pada paradigma ilmu Barat (modern). Kedua, baik di media massa elektronik maupun media cetak, layanan pengobatan alternatif ini, cukup marak terpublikasikan. Ketiga, ada kebutuhan dasar untuk membangun konstruksi makna baru terhadap makna pengobatan alternatif.

Untuk memperkuat asumsi-asumsi itu, dapat kita kutip ulang catatan Yudi Turana (2003) di Medikaholistik mengenai fenomena pemanfaatan layanan pengobatan alternatif. Dalam media itu, Yudi Turana menctat bahwa : [4]

Saat ini penggunaan pengobatan alternatif semakin populer. Dari data didapatkan bahwa di Amerika, pasien yang menggunakan pengobatan alternatif lebih banyak dibandingkan dengan yang datang ke dokter umum sedangkan di Eropa penggunaannya bervariasi dari 23 % di Denmark dan 49 % di Prancis (1). Di Taiwan 90 % pasien mendapat terapi konvensional dikombinasikan dengan pengobatan tradisional Cina dan di Australia sekitar 48,5 % masyarakatnya menggunakan terapi alternatif (2). Dari data diketahui pula bahwa penggunaan terapi alternatif pada penyakit kanker bervariasi antara 9 % sampai dengan 45 % dan penggunaan terapi alternatif pada pasien penyakit saraf bervariasi antara 9 sampai 56 % (3). Penelitian di Cina menunjukkan bahwa 64 % penderita kanker stadium lanjut menggunakan terapi alternatif (4) . Penelitian Kessler et all menunjukkan bahwa 9 dari 10 pasien yang menderita ansietas dan 6 dari 10 penderita depresi berkunjung ke psikiater dan pengobat alternatif (5). Dokter yang berkecimpung pada pengobatan alternatif pun meningkat. Di Inggris ada sekitar 40 % dokter mengadakan pelayanan pengobatan alternatif (6).

Hal ini menggambarkan bahwa ada trend perkembangan yang positif dalam pemanfaatan layanan pengobatan alternatif. Dengan kata lain pula, meminjam pandangan Yudi Turana, pengobatan modern atau tenaga kesehatan modern tidak boleh mengabaikan kepraktisan dan keberadaan layanan pengobatan alternatif. [5]


[1] Gearid Tuathail. 1998. The Geopolotics Reader. London New York : Routledge.

[2]Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas. Dukun, Tukang Ramal dan Orang Pintar, lihat pada http://ilmuislam2011.wordpress.com/2011/12/30/dukun-tukang-ramal-dan-orang-pintar/

[3] Momon Sudarma. 2006. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta : Medika Salemba.

[4] Yudi Turana. 2003. Sebarapa Besar Manfaat Pengobatan Alternmatif? Sumber : http://www.medikaholistik.com/medika.html?xmodule=document_detail&xid=61&ts=1350084726&qs=health

[5] Loc. Cit. Yudi Turana. Sebarapa Besar…..

Advertisements