Agama-agama Abrahamik, muncul dari kawasan Timur Tengah. Dari kawasan inilah, lahir agama Islam, Kristen, dan Yahudi, yang kini menjadi agama besar dunia, dan mempengaruhi perkembangan pemahaman agama dan keagamaan, serta peta kehidupan dunia.

Kawasan Timur Tengah dapat dikatakan sebagai sebuah kawasan dengan iklim panas. Kawasan gurun, dengan curah hujan yang minim. Tidak salah bila kita menyebutnya, kawasan yang kering. Namun demikian, kawasan ini tetap menarik. Bukan saja, karena perjalanan sejarah masa lalunya, tetapi terkait pula dengan perkembangan peta politik dunia (geopolitik) dunia saat ini. Kawasan ini, seolah menjadi perhatian dunia yang tidak pernah berhenti. Dari waktu ke waktu, dari menit ke menit, selalu saja mengalihkan perhatiannya ke wilayah ini.

Diantara yang paling getol melakukan kajian terhadap Timur Tengah itu, adalah geopolitik. Perspektif ini, melakukan perhatian dan kajian intensif terhadap dinamika politik di Timur Tengah kaitannya dengan geopolitik dunia di belahan lain. Khusus dalam konteks wacana ini, geopolitik ini lebih mencurahkan perhatian pada aspek dinamika politik di kawasan dimaksud, dan tidak membicarakan masalah agama-agama yang ada di kawasan ini.

Masalah agama dan keagamaan, bukan saja di kawasan Timur Tengah, tetapi juga di wilayah lain di dunia, dapat dikatakan sebagai wilayah yang paling kering dari kajian geografi. Selama ini, bila kita mendengar, mengucapkan, atau membicarakan geografi, maka yang terbayang itu adalah gunung, sungai, pulau, samudera, gempa dan tsunami. Kesemua hal itu, dibicarakannya pun bukan dalam konteks spiritual, melainkan dalam konteks profanik (duniawi). Selama ini, kita membicarakan masalah-masalah itu, seolah lepas dari wilayah keagamaan, dan atau keagamaan seolah tidak ada ruang untuk membicarakan masalah geografi dan kegeografian.

Perhatikan baik-baik. Buku-buku geografi yang ada selama ini. Atau setidaknya, perhatikan kajian geografi yang ada selama ini, baik yang ada di lingkungan pendidikan maupun di media massa. Kajian itu, cenderung berbicara fakta geosfera yang terpisah dari aspek spiritual atau religius.

Berbeda dengan kajian antropologis atau sosiologi. Kedua bidang ini, memberikan perhatikan seksama terhadap masalah agama. Terdapat banyak kajian, perspektif atau temuan berkenaan dengan sosiologi atau antropologi agama. Untuk sekedar menyebut contoh, kita dapat E.E Evan Pritchard dengan teori tentang agama primitive-nya, Emile Durkheim dengan teori Bunuh Diri, Max Weber dengan Etika Protestan-nya, dan Clifford Geertz dengan teori Abangan-Priyayi dan Santri. Mereka itu adalah panglima sosiologi dan antropologi dalam kajian-kajian agama dan keagamaan.

Simpul sementara ini, selain kajian bidang teologi, agama seolah sekedar menjadi objek kajian sosiologi dan antropologis. Sementara geografi belum terangsang untuk melakukan kajian ke wilayah ini. Andaipun ada, lebih mengacu pada geopolitiknya masyarakat beragama, dan bukan pada konteks keruangannya agama dan keagamaannya itu sendiri.

Advertisements