Pemikiran-pemikiran mengenai identitas dan metodologi keilmuan geografi terus berkembang. Salah satu diantaranya dikemukakan oleh Kostis C. Koutsopoulos (2011), dari Universitas Teknik Negeri, Athena. Pada makalah yang berjudul Changing Paradigms of Geography, Koutsopoulos (2011) memandang perlu ada pergeserann paradigma dari geoinformatics kepada choroinformatics.[1]

Pemikiran Koutsopoulos (2011) cukup menarik. Bahkan, dari beberapa asumsi yang dikemukakannya, memberikan sebuah penyadaran baru mengenai hakikat geografi, dan lebih khususnya yaitu hakikat atau karakter dari keilmuan geografi itu sendiri. Di tengah perkembangan dan perubahan peradaban manusia, geografi terus melakukan pembenahan, baik dalam konteks teoritik, metodologi dan juga nilai praxis.

Teknologi informasi (information technology) adalah salah satu komponen-utama dalam perubahan zaman saat ini. Hampir dikatakan, tidak ada satu ruang hidup manusia, yang tidak tersentuh atau bersentuhan dengan teknologi yang saut ini. Teknologi informasi, seolah menjadi daya ikat global kehidupan di bumi, yang kemudian merangsang pemikir komunikasi menyebutnya sebagai desa global (global vilage), kampung informatika, dan sebutan lain yang menggambarkan bahwa kehidupan dunia ini sudah disatukan oleh kabel informasi dan juga terikat oleh teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi ini, kemudian memasuki dunia ilmu pengetahuan. Geografi adalah salah satu disiplin ilmu yang memanfaatkan secara positif peran dari teknologi informasi. Bentukan integratif dari teknologi informasi itu, lahir dalam bentuk yang meragam, mulai dari sistem informasi geografi, metodologi SIG sampai pada masalah kecil yaitu google earth. Semua itu menunjukkan adanya respon positif dan konstruktif dari pelaku geografi terhadap perkembanga teknologi informasi saat ini.

Salah satu disiplin ilmu kebumian yang kerap menggunakan teknologi informasi itu, adalah geodesi. Menurut IAG (International Association Of Geodesy, 1979), Geodesi adalah Disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya, termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu. Pada tahapan selanjutnya, kini teknik geodesi tidak lagi hanya berhubungan dengan survei dan pemetaan. Perkembangan teknologi informasi yang berbasis komputer telah merangsang pengembangan dan perluasan ruang lingkup keilmuan dan keahlian geodesi. Pembuatan peta dan pemetaan telah dikelola dan dikembangkan sebagai informasi spasial yang berbasis komputer. Dengan alasan dan pekembangan itulah, kemudian muncul istilah baru yang berupaya mengadopsi perkembangan tersebut, yakni geomatika atau geoinformatika.

Berdasarkan pemikiran tersebut, saya melihat bahwa usulan dari Koutsopoulos ( 2011) untuk menggeser pemikiran dari geoinformatika menjadi choroinfomatika menjadi relevan untuk dibincangkan di sini. Setidaknya, kita melihat dari sejarah perkembangan geodesi, dan juga hakikat geografi itu sendiri.

Dalam makalahnya sendiri, usul mengenai konsep choroinformatika itu sendiri memang disandarkan pada pemikiran mengenai geoinformatika (Koutsopoulos, 2011:2). Argumentasi ini sangat mudah dipahami. Khususnya bila dikaitkan dengan sejarah perkembangan konsep geoinformnatika itu sendiri. Artinya, geoinformatika berkembang dari persentuhan antara geodesi dengan teknologi informasi. Sementara geodesi itu sendiri, dalam disiplin ilmu yang mengkhususkan diri pada pengukuran atau peta dan pemetaan muka bumi.

Definisi geodesi dan geoinformatika itu sendiri, tidak cukup untuk menjelaskan hakikat geografi. Sebab, geografi bukan saja membicarakan masalah peta dan pemetaan atau pengukuran, sebagaimana yang dilakukan geodesi, tetapi berusaha untuk memahami relasi dan interaksi antara lingkungan (bumi) dengan manusia, atau biasa disebut dengan konteks keruangan (space atau choros).

Berdasarkan pertimbangan itu, saya melihatnya, bahwa pemikiran dari Koutsopoulos (2011) merupakan penyadaran semata kepada kita, mengenai pentingnya pengetahuan kita mengenai sejarah keilmuan, dan ketepatan penggunaan konsep-konsep keilmuan. Konsep geomatika atau geoinformatika lahir dari Geodesi dan lebih tepat digunakan dalam geodesi, sedangkan untuk disiplin ilmu geografi, yaitu menggunakan konsep choroinformatika.

Penguatan konsep choroinformatika, setidaknya terletak pada konsep choros itu sendiri. Choros yang diartikan ruang (space) merupakan konsep dasar dari geografi. Bagi beberapa pemikir, kerap menyebutnya geografi sebagai ilmu keruangan.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, perkembangan zaman dan perkembangan teknologi meyakinkan manusia saat ini mengenai perubahan hakikat hidup dan lingkungan. Pertama, peralihan dari keyakinan alam sebagai ciptaan ke alam sebagai sebuah entitas yang independent dari hasil bentukan alam dan budaya. Kesadaran ini, bukan berarti mengabaikan era penciptaan alam. Kesadaran ini,hanya meyakinkan diri bahwa alam yang ada hari ini, pasca penciptaan, merupakan alam kreasi budaya dan lingkungan (culture and nature).

Kedua, dengan adanya kesadaran global yang ada saat ini, kita dituntut untuk mengubah keyakinan dari keunikan lokasi geografi menuju interdependensi lokasi geografi. Lokasi geografi tidak lagi dipahami secara terpisah, dan unik secara independen. Melainkan, keunikan lokasi geografi itu, perlu diposisikan dan direlasikan dengan lokasi geografi yang lainnya.

ketiga, menggeseran pemahaman bahwa ruang geografi itu eksis karena sendirinya, kepada kesadaran mengenai peran persepsi dalam memahami karakter ruang geografi. Ruang geografi, merupakan bentukan persepsi dan konstruksi sosial itu sendiri. Pemahaman kita mengenai ruang, bukanlah sesuatu yang hadir secara sendiri atau pemberian (take for granted). Ruang dan persepsi kita tentang ruang, merupakan sebuah konstruksi dari pemikiran manusia, dan konstruksi sosial.

Terakhir, melakukan perubahan dari monodisipliner, ke multidisiplinen sampai interdisipliner. Di era saat ini, memahami fenomena geosfera tidak bisa dilakukan oleh satu bidang studi (monodisipliner). Butuh banyak perspektif dalam memahami keunikan fenomena geosfera (multidipsliner). Tetapi pendekatan multidispliner itu pun, tidaklah cukup, karena yangdibutuhkan itu adalah pendekatan terpadu mengenai fenomena geosfera itu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan itu adalah interdisipliner.


[1] Kostis C. Koutsopoulos. 2011. Changing Paradigms Of Geography. European Journal of Geography 1: 54-75, 2011. Association of European Geographers

Advertisements