Dalam ilmu kesehatan, ada tiga istilah yang perlu dijelaskan terlebih dahulu sehingga kita tidak mengalami kerancuan dalam memahami sebuah konsep. Istilah-istilah yang dimaksudkan itu yaitu sakit dan penyakit. Sakit adalah kondisi subjektif seseorang, sedangkan penyakit adalah adanya ketidaksempurnaan punyai tubuh akibat ada atau tidak adanya unsur luar yang mempengaruhi fungsi tubuh. Orang yang terkena virus-flu, misalnya, adalah contoh dari orang yang terkena penyakit. Tetapi, bagi orang desa, flu demam yang hanya sekedar demam belum dikategorikan sakit. Karena sakit bagi orang desa,memiliki ukuran yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang kota. Bila masih melakukan aktivitas, kendati agak sedikit demam, orang desa masih merasa dan menganggap sehat.

Dengan penjelasan itulah, maka sakit dan penyakit berbeda secara objektif. Sedangkan masalah sakit berbeda secara subjektif, bergantung pada lingkungan masyarakat, dan atau nilai budaya yang dianutnya.

Sakit menurut Zuhair Muhammad az-Zamali (2001:17) yaitu hilangnya keseimbangan khusus dalam tubuh manusia.

Ada dua jenis penyakit, yaitu penyakit jasmani dan penyakit hati. Penyakit jasmani contohnya yaitu demam, dan luka, sedangkan penyakit hati contohnya adalah iri, munafik, dan kikir. Islam banyak menjelaskan dampak penyakit terhadap amal ibadah. Bila seseorang mengidap penyakit jasmani, masih ada keringanan dalam melaksanakan ibadah (rukhsah), misalnya karena sakit maka diizinkan untuk tidak puasa ramadhan atau melaksanakan shalat sesuai dengan cara-cara yang ideal. Sedangkan bila seseorang mengidap penyakit hati, maka nilai pahala ibadah menjadi kurang bahkan bisa hilang. Inilah perbedaan sakit dan penyakit dalam perspektif agama Islam.

Zuhair Muhammad az-Zamali (2001:9-10) mengatakan[1] :

Penyakit adalah salah satu ciptaan Allah yang menimpa kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kapan dan bagaimana penyakit itu muncul, semuanya, bergantung pada kehendak-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan penyakit untuk suatu tujuan yang Dia ketahui.

Makna penyakit dari sisi agama. Zuhair Muhammad az-Zamali (2001) merinci ada beberapa makna sakit menurut persepsi keislamannya, yaitu (a) penyakit adalah ujian bagi masyarakat, misalnya merujuk pada QS. 23:30, 21:35, (b) penyakit adalah sumber rejeki bagi pihak-pihak yang menggantungkan rejeki kepada masalah kesehatan, seperti tenaga kesehatan dan produsen alat kesehatan,

Ketiga, penyakit adalah nasihat dan peringatan. Pepatah hikmah berbunyi, tidak ada yang mengetahui nikmatnya kesehatan kecuali orang sakit, dan tidak ada orang yang mengetahui nikmatnya kebebasan kecuali orang yang dipenjara. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Muhammad Saw, bersabda. dua hal yang melalaikan hidup manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (Hr. Bukhari). Oleh karena itu, agama memaknai penyakit dan atau sakit sebagai peringatan atau nasehat.

Keempat, hadirnya penyakit dianggap sebagai bentuk nyata adanya kekuasaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, hidup dan kehidupan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usaha dan ikhtiar manusia atau lingkungan, tetapi ada peran Tuhan, Allah Swt dalam hidup dan kehidupannya. Penyakit, sakit dan takdir memiliki batas yang tipis dan siap hadir dalam kehidupan manusia. Hadirnya penyakit pada seseorang, dan kembalil sembuhnya seseorang dari sebuah penyakit akut sekali pun, merupakan bentuk nyata dari intervensi atau kekuasaan Tuhan, Allah Swt dalam kehidupan manusia.

Kelima, penyakit memberi rangsangan kepada manusia untuk melakukan penelitian dan uji coba ilmiah mengenai sebab-sebab dan usaha menanganinya. Allah swt telah menyediakan obat bagi segala penyakit, kecuali pikun (az-Zamili, 2001:132). Khususnya untuk berbagai penyakit dan obatnya, perlu diselidiki, dikaji dan ditemukan oleh manusia. Pada konteks inilah, manusia memiliki kewajiban untuk ikhtiar atau mencari obat dan penyembutan.

Keenam, secara teologis, penyakit dimaknai pula sebagai bentuk siksaan kepada orang yang melanggar aturan Tuhan, Allah Swt. Bagi seorang muslim yang melanggar aturan makanan (yaitu harus halal dan bersih halal thayyibah) potensial mengidap penyakit, begitu pula orang yang suka makan berlebihan (israf) dia akan menderita penyakit, salah satu diantaranya adalah obesitas.

Terakhir, penyakit dikatakan sebagai salah satu penyebab kematian. Ketika ajal tiba, maka kadar atau waktu kehidupan manusia telah tiba. Islam memberikan keterangan bahwa sesungguhnya segala sesuyatu telah Kami ciptakan dengan kadarnya (Qs. 54:49). Artinya, usia hidup manusia memiliki waktu yang terbatas. Salah satu pelecut hadirnya pembatas hidup itu adalah kematian. Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Kuitert dan Tengker (tt : 103), bahwa Allah sendiri memiliki mekanisme dalam mengakhiri kehidupan kita. Kematian adalah cara Tuhan dalam mengakhiri kehidupan manusia[2].


[1] Zuhair Muhammad az-Zamali. 2001. Mengapa Kita Sakit ?. Bandung : Pustaka Hidayah. Penerjemah Hedi Fajar R dan Ahmad.

[2] Ibid. Kuitert dan F. Tengker. Kematian …..hal 103.

Advertisements