Perlu ditegaskan di sini. Kesuksesan di masa depan, tidak selamanya bergantung pada ijazaah. Itu satu hal. Tetapi, hal yang akan kita bicarakan adalah, bagaimana kita bisa berbuat sesuat dengan ijazah yang kita miliki saat ini.

Andrew Falconer, menulis artikel dengan judul What Can I do with my Geography degree?. Walaupun tidak ada penjelasan mengenai konteks pembicaraannya, dan dalam forum apa, tetapi dari sisi substansi, artikel ini sangat menarik. Bukan saja, karena kita sering melihat banyaknya saudara kita yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga munculnya status sosial baru yang sering disebut pengangguran intelek.

Para pengangguran intelek ini, memiliki banyak aspek kritis yang perlu diajukan. Satu sisi, mereka itu tidak berarti menganggur banget. Kadang mereka bekerja, tetapi hasil pekerjaannya itu tidak setara dengan gelar akademiknya. Secara ekonomi, orang yang bergelas sarjana, tetapi upah kerjanya sangat rendah. Bahkan, untuk sekedar di sebut mencukupi kebutuhan minimal pun tidak. Orang yang seperti itu, kita sebut sebagai pengangguran intelek.

Di sisi lain, memang ada pula yang pengangguran total, atau pengangguran yang benar-benar tidak memiliki pekerjaan. Keluhan demi keluhan sering muncul. Diantara keluhan itu, yaitu tidak ada lowongan kerja, atau tidak ada pekerjaan yang cocok dengan latar belakang pendidikannya. Dengan alasan-alasan atau keluhan-keluhan itulah, maka tema yang diajukan Andrew Falconer tersebut, menjadi menarik untuk dicermati, dan atau dikai dengan seksama.

Ada lima poin yang di kemukakannya, yaitu (a) mengajak kita untuk mengkaji ulang pilihan-pilihan karir yang ada selama ini, (b) skema latar belakang akademik atau studi, (c) router pekerjaan, (d) mencermati bagaimana kita membuat perencanaan karir, dan terakhir yaitu bagaimana kita menjual karir kita sendiri.

Khusus dalam kaitanya dengan merencanakan karir, Falconer mengajak kita untuk mengenali enam aspek penting dalam perencanaan kari. Pertama, yaitu menggali tahu mengenai kompetensi atau pengetahuan diri sendiri. Apakah kita tahu, saar, dan bangga dengan pengetahuan atau kompetensi sekarang dimiliki ?

Jangan-jangan, kita memiliki ijazah akademik, tetapi kita tidak bangga dengan kemampuan akademik itu, dan atau malah kita minim dengan kemampuan akademik yang terteranya. Cetakan tinta, kita memiliki kemampuan akademik A tetapi kita tidak menikmati kenyamanan dengan kemampuan akademik tersebut, dan atau malahan kita menggeluti kemampuan yang lainnya. Dalam kondisi seperti itu, kita tidak bisa berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan akademik itu sendiri. Berdasarkan pertimbangan ini, hal pertama yang perlu dilakukan itu adalah kenali kemampuan akademik atau keterampilan fungsional (functional skill) dari kemampuan akademik diri sendiri.

Cintai dan nyamanlah dengan kemampuan formal akademik, dan melangkahlah dengan kemampuan itu !

Bila ingin mengembangkan kemampuan lain, yang tidak selamanya sama dengan kemampuan akademik, maka tema yang diangkat andrew Falconer memang bukan untuk mereka itu. Karena yang tengah dibicarakan itu adalah menemukan karir yang sesuai dengan latar belakang akademik. Maka, kasus mereka yang bisa sukses di jalur yang berbeda dengan ijazahnya, itu tidak berada pada wilayah pembicaraan ini.

Advertisements