Dalam wacana ini, saya ingin menekankan sikap bahwa ‘kritis terhadap teori itu perlu’, tetapi, menyadari mengenai maksud dan tujuan serta posisi kita dalam konteks teori itu menjadi lebih penting lagi. Hal itu, setidaknya ditujukan untuk menghindari kekeliruan kita dalam mempelakukan sebuah teori yang sedang kita hadapi, dan atau sedang kita gunakan. Sebagai bahan diskusi awal, mari renungkan sendiri. Bila kita bermaksud untuk belajar memahami sebuah teori, apapun teori tersebut, apakah kita akan mampu memahami hakikat teori itu, tanpa mendalaminya secara serius ? orang tidak akan mampu menyelami dasar samudra, tanpa kesungguhan hati untuk menyelaminya sampai dasar laut tersebut. Kita akan menjadi orang yang senantiasa mengedepankan prasangka (apriori), bila memberikan deskripsi mengenai dasar samudera, tanpa menyelaminya sampai dasar samudera tadi! Sekali lagi, perlu ditegaskan. Mata dan nalar kita sudah tentu tidak boleh dibekukakan di hadapan teori tersebut. Tetapi, untuk sampai bisa memahami dalamnya lautan, indahnya lautan, maka penyelaman secara seksama itu menjadi penting. Adapun, kelak, di perjalanan menuju dasar samudera (hakikat teori) itu, kita menemukan kerikil, polutan pencemar lautan, atau ragam binatang di dasarnya samuderanya, itu adalah bagian kritis kita dalam menceritakan mengenai dasar samudera tersebut. Namun satu hal yang pasti, untuk bisa memahami hakikat sebuah teori, mulai dari konsep sampai asumsi teoritiknya, menjadi sangat penting. Pada kesempatan lain, saya sering mengatakan kepada beberapa pihak yang kerap berdialog mengenai masalah ini. Dalam tradisi diskusi kita –untuk belum menyebutnya sebagai sebuah tradisi akademik, muncul fenomena fatamogana intelektual. Forum seperti itu, disebut sebagai sebuah tradisi diskusi semata, karena memang sekedar obrolan di luar kepentingan akademik, artinya hanya sekedar obrolan di sela istirahat. Mereka yang mengalami fatamorgana intelektual itu adalah (a) merasa sudah mengerti hakikat teori, dengan sekedar membaca sepintas, dan atau malah, membaca komentar orang lain tentang komentar mengenai teori tertentu, (b) merasa sudah berteori ketika kita menggunakan nama teori atau beberapa teori tersebut, dan (c) mengganggap sudah berteori dengan cara menggunakan istilahnya, dan bukan dengan penalarannya. Dengan tiga karakter itu, kemudian dia pun berusaha muncul sebagai orang yang kritis terhadap teori tertentu. Padahal, bila kemudian diajak untuk memahami nalar atau melakukan penalaran mengenai teori tersebut, kadang mengalami kelabakan juga. Dalam konteks ini, penyakit yang hadir dalam orang tersebut, yaitu merasa sudah berteori dengan cara menggunakan istilahnya, dan bukan dengan penalarannya. Terdapat kasus menarik di sini. Orang kerap kali mengkritik Marxisme. Modal kritiknya, paling banter yaitu sekedar kasus (a) katanya, Marxis itu menolak kehadiran agama, (b) atau atheis. Orang tersebut, kerap kali belum dibekali dengan pemahaman lain, selain pernyataan tersebut. Padahal, teori Marxis itu sendiri, sangat luas, dan mendalam, dan tidak sekedar masalah tersebut. Lebih uniknya lagi, kita menolak teori Marxis, sementara penalarannya, kita gunakan, dan sikapnya kita pertontonkan. Orang seringkai melontarkan kritik terhadap kapitalisme, sementara nalar dan sikapnya pun menunjukan tradisi kapitalis itu sendiri. Hah !? Teori Sebagai Kerangka Pikir Bila kita berbicara dalam konteks akademik, teori dapat diposisikan sebagai kerangka pikir, pola pikir, atau anjakan keberangkatan. Sebagai contoh, bila kita ingin memotret perilaku masyarakat Kompleks Vijaya kusuma, dengan teori spirit protestanisme Weberian, maka mau tidak mau, struktur dan kedalaman teori itu harus digunakannya. Saya memahami. Untuk memotret perilaku masyarakat Kompleks Vijaya Kusumah sangat kompleks dan tidak cukup sekedar menggunakan teori itu. Teori kadang berbeda dengan realitas. Tetapi, sekali lagi, bila kita bermaksud untuk memotretnya dengan menggunakana teori itu, maka kesungguhan kita memahami teori itu, akan menunjukkan kualitas dan kedisiplinan kita tehadap teori dan pemahaman kita mengenai hakikat teori dimaksud. Kebutuhan utuk menerapkannya secara utuh itu, setidaknya untuk kepentingan (1) menunjukkan kepada kita, bahwa maksud tulisan itu adalah untuk menerapkan sebuah teori, dan (2) melatih diri kita dengan menggunakan penalaran yang sedang kita gunakan. Alangkah kelirunya, bila kita bermaksud untuk bisa dan trampil berkendaraan roda empat, tetapi latihannya menggunakan kendaraan roda 2. Alasannya, karena merasa ‘tidak cocok’ dengan jenis kendaraan tersebut. Dalam konteks itu, ada kekeliruan operasional. Artinya, bila kita tidak berkenan dengan kendaraan itu, maka kita tidak pada tempatnya bila menerapkan teori tersebut. Selektif sebelum diterapkan Tidak perlu khawatir kita terjebak pada posisi sebagai orang buta. Penalaran yang saya kemukakan di sini, tidak dimaksudkan untuk menjadikan diri kita sebagai orang buta. Buta dihadapan teori, atau terkagum-kagum dengan sebuah teori. Tidak itu, dan bukan itu maksudnya. Justru sebaliknya. Analisis dan wacana ini, dimaksudkan untuk membangun kedisiplinan kita dalam teori, dan melatih kemampuan kita dalam berteori. Adapun bila kita berkehendak untuk membangun sikap kritis, saya khususnya, biasanya diajukan dalam proses pemilihan kerangka pikir. Artinya, bila ada sebuah masalah yang ingin dipecahkan, dan kemudian menuntun kita untuk mencari sebuah teori yang bisa diterapkan, maka tahapan ini, saya ajukan dalam konteks kritis. Saya menganggap bahwa sebuah masalah itu memiliki keunikan masing-masing. Di sisi lain, khusus untuk era kita saat ini, telah hadir berpuluh-puluh teori yang bisa dipelajari, diadopsi atau diadaptasi. Oleh karena itu, sikap kritis kita terhadap teori itu, saya harapkan hadir pada saat kita, menentukan pilihan kerangka pikir dalam menjawab rumusan masalah. Pada tahapan ini, andai kita sudah merasa keberatan dengan teori yang ada, maka sikap kritis itu, bisa diajukan dengan membuat kerangka pikir kritis. Dengan kerangka pikir kritis itu, kemudian kita buatkan sebuah kerangka pikir acuan dalam melakukan riset. Rumusan yang fix atau mix inilah, yang kemudian, kita gunakan sebagai kerangka pikir penelitian, atau lebih praktisnya, yaitu dijadikan sebagai alur pikir penelitian kita. Di tahapan pelaksanaannya, maka alur pikir penelitian ini, perlu secara disiplin kita terapkan, sehingga kita benar-benar bisa menjawab pertanyaan, dan atau terlatih dengan mengembangkan kerangka pikir tersebut. Eliminasi teori itu pada tahap seleksi teoritik. Kritislah dalam merumuskan kerangka pikir. Selepas itu, apapun teori yang kita gunakan, perlu diterapkan secara disiplin, dengan maksud supaya tujuan penelitian dapat diwujudkan. Pertegas maksud dan tujuan ! Sikap kita ini, akan lebih jelas lagi, bila kita kembalikan pada tujuan penelitian kita, atau maksud dari wacana kita. Artinya, bila penelitian kita ini adalah (a) menerapkan sebuah teori, saya berkeras nalar (dampingan berkeras hati) untuk berposisi dalam memegang disiplin-ilmu sesuai teori yang digunakan. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, menyelamnya dengan benar, bila kita memang bermaksud untuk memahami kedalaman lautan itu. Jangan bicara mengenai kedalaman lautan, sementara kita berada di tepi sungai. Kedua, bila kita bermaksud untuk merekonstruksi fakta, maka kerangka pikir yang digunakan sekedar teori pengantar (guide). Artinya, kita memiliki ruang untuk melakukan rekonstruksi, sehingga bisa melahirkan jawaban yang lebih realistik mengenai masalah yanag dihadapai. Dengan kata lain, andai yang kita maksudkan itu adalah ingin merehabilitasi pantai atau samudera, maka temuan-temuan kerusakan di dalam samudera atau di lautan itu, kita ungkap dan itulah yang akan kita gunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi lautan tersebut. ketiga, bila kita bermaksud untuk melakukan kritik terhadap teori yang sedang dihadapi, maka sikap kritis terhadap teori dimaksud menjadi sangat penting. Orang seperti ini, tidak perlu menyelam lagi di lautan Indonesia. Alasannya, karena dia sudah punya pengalaman
menyelami lautan di tempat lain. Oleh karena itu, untuk menyelam di lautan Indonesia, dia harus mengoreksi dulu cerita mengenai lautan yang dituturkan orang berdasarkan pengalamannya di lautan selain Laut Indonesia. Penutup Kita seringkali menyebut keahlian atau kompetensi kita ini dengan sebutan “Disiplin Ilmu†(scientific discipline) masing-masing. Misalnya Sarjana Pendidikan, Sarjana Agama, Magister Manajemen, Doktor Ilmu Politik, Guru Besar Perilaku Organisasi dan sebagainya. Istilah disiplin ilmu itu sendiri, pada dasarnya memberikan isyarat, pentingnya kita berdisiplin dengan ilmu kita, atau tradisi intelektual kita. Pada kamus Bahasa Indonesia (2008:359), tertera bahwa makna disiplin itu sendiri, yakni “memiliki objek, sistem, dan metode tertentuâ€. Ini artinya, kita dituntut untuk menguasai dan kompetensi dengan aspek-aspek keilmuan tersebut. Termasuk dalam hal ini, yaitu mengenai teori-teori yang dikembangkan atau berkembang di dalamnya. Sekedar curhat. Secara pribadi, saya sering melihat, beberapa karya tulis di lingkungan KITA, baik itu skripsi maupun tesis, yang ditulis dengan kekayaan teori yang digunakannya dalam kerangka pikir tersebut. Kerangka teori yang dikembangkannya, ada yang ditulis di bab I, dan ada pula yang dikembangkan di bab II, bergantung institusinya, seolah-olah sekedar membebani ketebalan karya ilmiah itu. Disebut begitu, karena ternyata pada bab selanjutnya, khususnya saat melakukan pembahasan, penalaran yang dikembangkan pada teori-teori yang dikutipnya di awal, ternyata tidak muncul. Andaipun ada usaha ke arah sana, apa yang dilakukannya itu baru sampai pada penggunaan istilah, dan bukan pada penalarannya itu sendiri. Ada contoh lain, walaupun agak sedikit menyimpang tapi bisa digunakan sebagai bahan refleksi. Ada curhatan dari beberapa siswa, mengenai tradisi mengajar guru matematika. Siswa menuturkan bahwa latar belakang sosial guru tersebut adalah seorang santri. Sementara mata ajar yang diampunya matematika. Menganggap ilmu yang paling bermanfaat kelak selepas hidup di dunia ini, adalah agama, ternyata dalam setiap jam belajarnya itu, guru tersebut lebih banyak mengajarkan agama, daripada matematika. Akhir kisah, kemampuan matematika siswa kelas itu cukup kerepotan. Ini memang kasuistik. Tetapi, profesionalisme itu, bisa diawali dari kedisiplinan kita terhadap ilmu kita sendiri. Mengapa hal itu terjadi ? banyak sebab, yang melatari kasus-kasus itu. Hal yang paling krusial, saya khawatir karena kita memang tidak pernah berlatih menggunakan teori itu, dalam menganalisis sebuah masalah. Sehingga, kita tidak terlatih untuk menggunakan penalarannya, dan sekedar baru bisa mengucapkan istilah-istilahnya. Sehubungan hal itulah, maka wacana yang dikedepankan di sini, ingin meminimalisir sikap salahkonteks dan salah sikap terhadap sebuah teori.

Advertisements