Sebagai seorang gadis, jika bermimpi untuk menjadi gadis cantik, maka mulailah berpenampilan sebagai gadis cantik. Bila kita ingin dianggap sebagai anak soleh, maka mulailah berperilaku sebagai anak soleh. Bila ingin menjadi seorang bintang pelajar, mulailah tampil sebagai seorang bintang pelajar. Inilah rumusan hidup, dalam meraih cita-cita.


Untuk ke sekian kalinya, saya memberikan materi mengenai kepemimpinan dalam sebuah organisasi.[1] Baik di lingkungan pendidika dasar menengah, organisasi sosial, maupun kemahasiswaan. Di sekian pertemuan itu pula, senantiasa muncul pertanyaan, bagaimana membentuk diri sebagai seorang pemimpin. Mungkinkan kita, setiap individu ini, bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, efektif dan berkualitas ?

Sudah banyak training, diklat, atau seminar yang membahas mengenai kepemimpinan atau kiat menjadi pemimpin organisasi. Namun sesering itu pula keheranan itu muncul. Penjelasan dan seminar yang diikuti selama ini, seolah belum juga memberikan keyakinan dan keteguhan kepada pendengarnya, bahwa setiap insane memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang berkualitas. Dengan kata lain, mengapa pengetahuan mengenai kepemimpinan yang dimiliki, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kepemimpinan seseorang, atau harapan untuk menjadi seorang pemimpin !

Persoalan ini bukan masalah teori. Ini bukan masalah kesalahan pada konsep, atau kekeliruan dalam teori kepemimpinan. Ini lebih merupakan kesalahpahaman para peserta diklat kepemimpinan mengenai kepemimpinan itu sendiri.

Memang banyak teori mengenai kepemimpinan. Kepemimpinan itu ada yang menganggap sebagai gen khusus yang muncul seiring kelahiran, ada yang menganggap sebagai sebuah penciptaan lingkungan, ada yang menyebutnya sebagai sebuah tekanan sejarah. Dan lain sebagainya.

Dari berbagai teori mengenai kepemimpinan itu, wacana ini lebih menekankan pandangan bahwa pemimpinan dan kepemimpinan merupakan sebuah proses pembelajaran yang berkelanjutan, antara kemampuan diri dengan lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, jiwa kepemimpinan itu adalah pertemuan antara potensi diri (internal/individu) dengan proses lingkungan (eksternal). Pendekatan ekologis dalam teori kepemimpinan, merupakan teori yang lebih dekat dengan apa yang kita kembangkan dalam wacana ini.

Bersandar pada pemikiran itulah, maka proses pembelajaran kepemimpinan, merupakan upaya penyadaran dan pemberdayaan potensi kepemimpinan yang ada dalam diri individu. Karena sesungguhnya, setiap individu itu memiliki potensi kepemimpinan.

Tampillah sebagaimana impianmu, maka impian itulah yang akan tampil dalam diri kita ! menampilkan pribadi impian dalam kehidupan, adalah undangan nyata untuk mewujudkan impian….


[1] Wacana ini, merupakan paparan singkat untuk materi Kepemimpinan yang disampaikan dalam DIKLATSAR PASKIBRAKA MAN 2 Kota Bandung, tanggal 12 Februari 2011.

Advertisements