Hari itu, menyengaja pergi ke sebuah toko buku di Kota Bandung. Dalam pikiran waktu itu, memang tidak ada maksud untuk membeli satu buah bukupun. Hanya sekedar main-main, melihat informasi baru mengenai buku atau referensi yang cocok dengan kebutuhanku dalam bertugas. Sebagaimana bisa ditebak, mungkin, oleh pembaca sendiri, profesi saya ini adalah seorang pelaku pendidikan. Bidang kajian yang dipegang pun, tidak tanggung-tanggung cukup beragam.  Di tahun ini, saya memegang mata ajar sosiologi dan geografi, sesuai dengan induk pengalaman pendidikanku di masa lalu.


Khusus untuk toko buku ini, rak buku keagamaan akan sangat mudah diakses atau dilewati oleh saban pengunjung. Termasuk saya. Sebelum memasuki ruang buku ilmu sosial, ruangan ini akan dilewati. Terlebih lagi, ruangan ini berdampingan dengan ruangan yang menyajikan buku terdiskon cukup besar. Karena alasan yang terakhir ini jugalah, saya pun menyempatkan lewat ke ruangan ini.

Satu hal yang mengagetkan, sesampainya di toko buku itu, adalah terpaparnya banyak buku di ruang keagamaan, dengan judul “atlas”. Untuk sekedar contoh, ada “Atlas Qur’an” terjemahan M. Abdul Ghoffar (2006) dan “Atlas Hadist” terjemahan Muhammad Sani dan Dedy Januarsyah J (2007), keduanya merupakan karya Syauqi Abu Khalil. Atlas Haji dan Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts, Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts, diterjemahkan oleh Dewi Kournia Sari, Ahmad Anis dan M. Tatam Wijaya (2008).

Dalam kaitan ini, karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin dapat dikelompokkan sebagai karya yang cukup banyak. Karena selain dua karya tersebut, kita dapat menemukan ada karya-karya yang lainnya. Dalam memperluas wawasan dan kajian keagamaan kita mengenai agama-agama, Sami bin Abdullah Al-Maghluts pun mempublikasikan karyanya berjudul Atlas Agama-Agama. Kemudian, dia pun mempublikasikan pula Atlas Perang Salib, diterjemahkan oleh Fuad Syaifuddin Nur (2009). Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, diterjemahkan Qasim Shaleh dan Dewi Kornia Sari (2008), dari karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts. Kemudian, Atlas Agama Islam, diterjemahkan Fuad Syaifuddin Nur, dari karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts.

Selain buku-buku, cukup banyak lagi yang belum terkutip. Bahkan, sebelumnya, yaitu pada tahun 2001, kita sudah disuguhi Atlas Budaya Islam, karya Ismail Raji AL-Faruiqi dan Lois Lamya Al-Faruqi. Sebuah kajian sistematik mengenai geografi budaya Islam, dalam kurun perjalanan klasik sampai modern. Tahun 2004, terbit Historical Atlas Of Islamic World karya Malise Ruthven dengan Azim Nanji.[1]

Bukan sebuah kebetulan, dan atau bukan karena sentimentil semata. Bila dalam 10 tahun terakhir ini, konsep “atlas” yang biasa digunakan dalam kajian-kajian geografi, sudah mulai banyak digunakan oleh masyarakat umum, khususnya penulis-penulis agama, menjadi menarik untuk diperhatikan. Perkembangan ini sudah tentu, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi kajian geografi. Karena pada dasarnya, kajian bidang ini termasuk langka, atau malah banyak dilupakan, baik oleh kalangan agama maupun oleh kalangan geograf itu sendiri.

Pada kamus Bahasa Indonesia, tercantum pengertian dasar atlas. Dalam buku (2008:100) itu, dikemukakan bahwa atlas adalah “buku yang berisi peta bumi”. Bagi kalangan geograf sendiri, atlas sering diartikan sebagai kumpulan peta yang dibukukan. Itulah, maka umum yang biasa dipahami orang mengenai peta. Sementara, secara teknis, atlas pun bisa diartikan pemetaan. Dengan kata lain, kalau ada yang menggunakan istilah atlas agama, maka yang dimaksudkannya itu adalah peta perkembangan agama.

Setidaknya, dari fenomena ini, kita mendapatkan beberapa inspirasi penting. Pertama, kita diingatkan kembali dengan kajian yang memang masih jarang menjadi perhatian kalangan geografi. Wilayah kajian ini, yaitu geografi agama, atau geografi keagamaan. Untuk tokoh yang berkecimpung di wilayah ini, kita dapat menyebut Ellen Churchill Semple (1863–1932).[2] Dengan aliran pemikiran yang bersifat fisis determinisme, beliau sudah melakukan kajian dalam bidang geografi keagamaan. Selepas itu, kita mengalami kesulitan lagi untuk menemukan kajian-kajian intensif mengenai geografi keagamaan. Terlebih lagi, untuk konteks geograf Indonesia.

Kedua, penulis-penulis Islam ini, merangsang kita pula untuk kembali mengingat sumbangsih geograf Islam terhadap perkembangan geografi. Dalam kurun dan konteks ini, kita layak memosisikan Sami bin Abdullah Al-Maghluths, Syauqi abu Khalil, dan Ismail Raji Al-Faruqi sebagai geograf Islam modern atau abad XXI. Pemikir Geograf modern ini, adalah pelanjut dari tradisi Al-Biruni (973-1048), Ibnu Batuta (1304-1368), Al-Idrisi (1099-1166) dan Ibn Khaldun (1332-1406) yang sudah menggagas geografi klasik dalam tradisi Islam.[3]

Ketiga, menggenapkan pemikiran Islam dan juga pemikiran Geografi. Pada satu sisi, kajian-kajian Sami bin Abdullah Al-Maghluts dan Syauqi Abu Khalil menggenapkan kajian Islam, khususnya dalam menjelaskan lokasi peristiwa, dan juga konteks keruangannya. Di balik itu semua, kajian ini pun memperkaya ruang-kajian dari Geografi. Artinya, geograf tidak melulu memperhatikan aspek dan fenomena manusia dan fisik secara profanik, tetapi juga dapat melakukan kajian terhadap fenomena agama dan keagamaan.

Memperhatikan hal-hal dimaksud, pustaka-pustaka yang terbit baru-baru ini, merupakan rangsangan kepada kita semua, khususnya kalangan geograf, atau geograf agama (geograf muslim) untuk melakukan kajian intensif dalam bidang ini. Setidaknya, saya melihat, baik untuk kepentingan geografi maupun kekayaan khazanah Islam, perspektif geografi ini memberikan kesadaran dan penyadaran tertentu mengenai agama.


[1] Malise Ruthven dengan Azim Nanji. 2004. Historical Atlas Of Islamic World. Harvard University Press

[3] Ahman Sya dan Maman Abdurrahman. 2012. Geografi Perilaku. Bandung : Universitas BSI Bandung Press.

Advertisements