Kecelakaan saat mudik lebaran atau mudik tahun baru, kerap menjadi perhatian banyak kalangan. terkait hal ini, bagaimana orang geografi melihatnya ?

Salah satu kerangka pikir mengenai perspektif geografi, dapat kita rujuk pemikiran dari Brock J. Brown.[1] Tulisan itu, diajukan untuk membantu para guru dalam mengembangkan model pembelajaran geografi, khususnya dalam membentuk pola pikir geografik. Walaupun disusun dalam ukuran tulisan yang pendek, yaitu sekitar 15 halaman, namun isi dari makalah Brown tersebut, dapat dikategorikan sebagai buku panduan yang praktis dan lengkap dalam mengungkap konsep sekaligus kerangka pikir berperspektif Geografi.

Secara pribadi, saya sendiri tidak bermaksud untuk mengganti pandangan Brown pada tulisan ini. Lebih baik para penelaah, melakukan kajian langsung pada tulisan tersebut. Adapun maksud dari tulisan ini, adalah belajar menerapkan kerangka pikir dimaksud ke dalam konteks praktis kehidupan kita saat ini.

Dalam pandangan Brock J Brown, perspektiff geografi itu dibentuk dalam tiga elemen dasar, yaitu distribusi keruangan (spatial distributions), proses keruangan (spatial processes) serta prediksi dan pengambilan keputusan keruangan (spatial prediction and decision-making). Ketiga aspek itu, secara saling menggenapkan dalam membangun kerangka pikir seorang geograf.

Mari kita perhatikan kasus mengenai fenomena kecelakaan lalu lintas di masa mudik tahun 2012. Seperti yang dilaporkan Haru Margianto (Kompas, 22/8/2012)[2], sejak H-8 atau Sabtu (11/8/2012) hingga H+1 (21/8/2012), jumlah kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia mencapai 3.600 kasus. Total kerugian materiil dari jumlah kecelakaan tersebut sekitar Rp 7,5 miliar. Bagi seorang geograf, data seperti ini, hanyalah data kasus, dan belum menjadi data geografi. Data-data itu, perlu dikonseptualisasikan atau visualisasikan sehingga menjadi sebuah data geografik.[3]

Konseptuliasasi geografi ini, semakna dengan tahapan mendapatkan data-data keruangan. Dengan kata lain, dalam rangka mendapatkan informasi geografi, data kecelakaan itu harus disematkan pada sebuah pemetaan (mapping), sehingga kita memiliki data distribusi keruangan kecelakaan mudik. Menurut Brown, pada tahapan ini, kita dituntut untuk bisa menjawab siapa dan apa yang terjadi, kapan terjadi, serta di mana terjadi. Semua itu, merupakan tahapan perspektif geografi di bagian awal yang merupakan level berfikir mengetahui (knowing).

Tahapan konseptualisasi geografik, dan dengan pertanyaan panduan tersebut, kemudian melahirkan produk geografik, yang kita sebut pemetaan (mapping). Bentuk pemetaan ini, bisa dalam bentuk cetak maupun digital. Selanjutnya, berlanjut ke tahapan yang kedua, yaitu menjawab pertanyaan, “mengapa terjadi di kawasan itu ?” pertanyaan ini, memandu kita untuk menemukan jawaban hubungan perilaku manusia dengan lingkungan. Itulah yang disebut tahapan berfikir ‘understanding’, yaitu untuk memahami spatial prosesses.

Bila dalam tahapan pertama itu, produk intelektualnya adalah peta dan pemetaan, maka produk dari tahap kedua ini adalah hasil analisis. Analisis ini dimaksudkan untuk bisa memahami tiga aspek. Pertama, memahami sistem alam (natural-physical system), maksudnya, apakah kecelakanaan yang terjadi selama ini, ada kaitannya dengan struktur tanah, topografi jalan, ruas atau pola jaringan jalan raya, kondisi jalan yang licin atau masalah kendaraan itu sendiri ? kedua, memahami sistem kehidupan manusia (human system), maksudnya supir yang mabuk, kelelahan, atau ketidakdisiplinan para pengendara kendaraan ? terakhir yaitu memahami interaksi antara natural system dengan human system atau dalam istilah umumnya yaitu environment and society relationship. Dalam kategori terakhir ini, ketidakdisiplinan pengendara di saat kepadatan jalan raya meningkat, merupakan salah satu penyebab terjadinya banyaknya kecelakaan. Selain itu, pengaturan waktu mudik dan arus balik, bisa juga dijadikan alternatif dalam memahami masalah kecelakaan pengendaraan di musim mudik tersebut.

Langkah selanjutnya, yaitu mengembangkan prediksi keruangan dan pengambilan keputusan keruangan (spatial prediction and decision-making). Apapun fenomenanya, termasuk diantaranya adalah peristiwa kecelakaan selama mudik, menuntut para pembaca peta kecelakaan itu untuk mendata kemungkinan lanjutan, implikasi lanjutan, dampak lanjutan, serta alternatif-alternatif pemecahan masalah. Rincian mengenai alternatif pemecahana masalah itu, sudah tentu harus mengacu pada hasil pemetaan dan analisis yang dilakukan dua tahap selanjutnya. Kemudian, tahapan akhirnya yaitu dilakukan proses pengambilan keputusan.

Misalnya, kita mengambil keputusan adanya ketidakseimbangan antara ruas jalan dengan volume kendaraan. Bila keputusan ini diambil, maka langkah yang harus dilakukan adalah (a) mengatur jadwal kepulangan, (b) membuat route mudik alternatif, atau (c) membuka jalan baru, atau (d) membatasi kendaraan pribadi.

Berbagai masalah yang sudah didapat pada tahap analisis (spatial prosesses), membutuhkan adanya pemecahan masalah. Tahapan pengambilan keputusan ini, dimaksudkan untuk memecahkan masalah terhadap berbagai dugaan penyebab masalah kecekalaan selama mudik lebaran. Proses intelektualnya ini, disebut Brown sebagai tahapan ‘applying’ (penerapan) atau tahapan praksis.

Saya melihat, melalui tahapan berfikir ini, geografi mampu memosisikan diri sebagai ilmu praksis dan emansipatoris (geografi emansipatoris). Di sebut praksis, karena berusaha untuk merumuskan langkah nyata dalam menjawab masalah faktual, dan emansipatoris karena turut terlibat aktif dalam memecahkan masalah-masalah faktual tersebut.


[1] Brock J. Brown. Geographic Perspective Content Guide for Educators. http://www.nationalgeographic.com/xpeditions/guides/geogpguide.pdf, diunduh tanggal 25 Agustus 2012

[2] Heru Margianto. Reporter. “Kecelakaan Mudik 638 Orang Meninggal dan Kerugian Rp.7.5 Miliar“ , sumber http://nasional.kompas.com/read/2012/08/22/16393010/

[3] Pentingnya mengenai tahap konseptualisasi geografik (geographic conceptualization), dapat dilihat pada makalah yang diajukan dalam Pertemuan Tahunan Geograf Amerika di Honolulu, Hawai, 1999. Lihat “Towards A Comprehensive Geographical Perspective On Urban Sustainability“, sumber : http://policy.rutgers.edu/cupr/sustainability/sustain.pdf

Advertisements