Dalam wacana ini, pemudik dimaknai sebagai Tenaga Kerja Domestik (TKD). Walaupun istilah ini pun, tidak tepat seluruhnya. Karena para pemudik itu, ada juga pemudik dari luar negeri. Tetapi, untuk membedakan maknanya dengan pemudik luar negeri ini, para TKD ini, pada umumnya adalah memanfaatkan liburan nasional, atau liburan lebaran tahunan. Di momen-momen seperti itulah, para TKD bermunculan.


TKD adalah seseorang atau sekelompok orang yang bekerja di luar daerah. Dalam waktu periodiknya, misalnya bulanan, tengah tahunan atau setiap lebarannya mudik ke kampung halaman. Mereka mudik, bukan sekedar membaca cerita, tetapi juga membawa sejumlah harapan dan bawaan.

Bawaan yang umum dibawa adalah pendapatan kerja selama di kota. Saat mudik itulah, para TKD menunjukkan kemampuan dirinya dalam menjalankan ‘tugas sosial’ keluarganya untuk mencari nafkah atau mengembangkan karir di perkotaan. Di saat mudik itulah, mereka menunjukkan hasil kinerjanya selama di kota.

Kisah atau bawaan kisah para pemudik itu memang tidak sama. Gradasinya sangat ekstrim. Ada yang sukses bahkan amat sukses, dan ada pula yang bernasib apes. Orang yang apes itu, memanfaatkan mudik untuk ‘taubat sosial’ ke kampung halamannya, dan tidak berniat balik lagi ke kota.

Persoalan menarik yang ingin di kemukakan di sini, adalah bagaimana mengelola para pemudik ? dan bagaimana memanfaatkan kekuatan ekonomi yang dibawa para pemudik tersebut ?

Tahun ini pula, 2012, saya melihat sesuatu yang memprihatinkan. Masih hangat dalam ingatan ini, ibu muda di tetangga rumah di kampung halaman ini, adalah salah satu dari pemudik tahun 2010 lalu. Sampai tahun 2011 lalu, ibu muda beranak dua ini, masih mampu menunjukkan gemerlapan ekonominya di kampung halaman. Gelang mas dan anting-anting, serta pakaian yang indah menawan masih tersematnya di tubuhnya yang bersih. Tetapi, di tahun ini, tubuhnya membesar. Menurut berita di kampung, dia mengalami gula darah, dan juga asam urat. Jalanpun sudah tidak kuat berjauh-jauh, berdiri pun tidak bisa berlama-lama. Pakaian sudah mulai lusuh, perhiasan pun sudah pergi entah ke mana. Sementara sang suami, kembali berjualan bubur keliling di kampung halamannya.

Secara pribadi saya prihatin. Prihatin bukan sekedar atas penderitaan sakit yang tengah di deritanya. Lebih prihatinnya lagi, yaitu munculnya gejala ‘kegagalan ekonomi’ pasca mudik. Banyak yang mengalami kegagalan ekonomi pasca mudik, baik itu pemudik TKD maupun TKI. Hanya diawal mudik sajalah mereka mampu menunjukkan kekuatan ekonominya. Seiring perjalanan waktu, karena memang tidak ada jiwa entreprenuernya, tidak ada kemampuan manajemen ekonomi domestik (ekonomi keluarganya), kekayaan yang dimilikinya pun kian surut. Lama kelamaan, mereka pun menuju ke status ekonomi dahulu, sebelum menjadi TKD atau TKI.

Sehubungan hal inilah, saya melihat bahwa pemerintah selama ini lebih banyak melihat aspek tranportasi atau pelayanan perjalanan mudiknya itu sendiri. Pemerintah belum memberikan perhatian yang serius, minimalnya dalam bentuk pencerahan atau layanan informasi untuk pengembangan wirausaha para pemudik, sehingga aset ekonomi yang terangkut dari kota itu, benar-benar mampu memberdayakan ekonomi daerah. Sudah tentu, hal itu, bisa dibangun, sepanjang kita mengartikan adanya aset ekonomi yang dibawa oleh TKD itu sendiri.

Advertisements