Salah satu tuturan kisah dari para pemudik, yaitu pengalaman di perjalanan. Baik perjalanan mudik maupun perjalanan balik, menjadi inti cerita yang sangat dominan dari setiap obrolan para pemudik. Bahkan, ada yang mengatakan, “tidak ada mudik, bila tidak ada berita yang menarik. Dan tidak ada berita menarik dalam mudik, tanpa cerita kemacetan.” Intinya, kemacetan atau telatnya sampai ketujuan, bahkan –maaf kecelakaan di perjalanan itu sendiri, adalah bumbu-bumbu perjalanan bagi seorang pemudik.

Tidak asyik mudik, bila tidak ada cerita menarik di tengah perjalanannya. Waktu tempuh yang biasanya dijangkau dengan 2-3 jam, pada masa-masa mudik ini, bisa mencapai waktu tempuh 9 – 15 jam. Luar biasa. Melelahkan. Menjengkelkan. Tetapi, ini anehnya, kadang tidak membuat kapok atau jemu untuk mudik kembali di tahun-tahun depan. Justru uniknya lagi, mereka-mereka yang mengalami kasus-kasus seperti itulah, yang kemudian menjadikan ‘sumber berita’ atau ‘tokoh utama pembicara’ dalam kisah mudik tersebut.

Baik di kampung halaman maupun di tempat tinggalnya sendiri, tokoh yang mengalami perjalanan berlipat lamanya itu, akan menjadi tokoh utama gunjingan pada pemudik dan atau penghuni wilayah. Sang pemudik pun kemudian dengan semangatnya, walaupun dengan sedikit keluh-kesah kelelahan, menuturkan pengalaman, penglihatan, pendengaran atau perasaannya di tengah-tengah perjalanan tersebut. Dengan sedikit iklan dari para pemudik lainnya, mereka saling menimpali kasus dan pengalaman mudik tersebut, sehingga benar-benar menjadi sebuah kisah tahunan yang masih juga segar untukterus di bicarakan.

Sayangnya, memang belum ada yang membicarakan masalah mudik ini untuk diangkat ke layar kaca. Padahal, di perjalanan yang panjang itu, banyak kasus yang bisa terjadi. Misalnya, untuk sebuah roman picisannya dapat diangkat tema-tema cilok-cikot (cinta lokasi dalam angkot atau bis kota), cimor (cinta di kendaraan bermotor), lelah membawa asmara, jalan panjang menuju kampung, tiga jam dalam biskota, atau yang lainnya.

Inti kata, dalam perjalanan panjang tersebut, terdapat banyak peluang kasus dan atau peristiwa yang terjadi. Terlebih lagi, peristiwa ini terjadi tahunan, dan tetap masih menarik perhatian banyak kalangan. Termasuk juga, menemukan makna dan arti dari mudik itu sendiri. Sampai saat ini, masih saja, kita mengalami kesulitan untuk menemukan makna mudik, khususnya makna mudik dalam pikiran para pemudiknya sendiri.

Sementara kalau di lihat dari sisi pemerintah, saya melihat, pemerintah cenderung mengartikan mudik sekedar sebuah fenomena perjalanan atau transportasi. Seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita, sebagaimana yang kita tuturkan barusan. Para pemudik menceritakan pengalaman perjalanannya, pemerintah memperhatikan sarana perjalanan (transportasinya). Itulah makna mudik yang cenderung mengemuka.

Mudik baru dianggap sebagai fenomena jalan raya. Atau lebih sederhananya, masalah mudik itu adalah masalah lalu lintas, sehingga yang perlu memberikan perhatian itu adalah polisi lalu lintas dan kementerian perhubungan. Persepsi seperti ini, kiranya, dapat kita sebut sebagai sebuah fenomena yang terlalu sederhana dan menyederhanakan masalah. Walaupun kadang kala, masalah sesederhana ini pun, Negara masih juga belum mampu menyelesaikannya.

Sebagai peristiwa lalu lintas, dari tahun ke tahun peristiwa mudik tetap mengundang perhatian publik. Di dalamnya, masalah kemacetan atau antrian panjang, dan kecelakaan mendominasi pembicaraan masalah mudik. Dari tahun ke tahun itu pula, perhatian pemerintah lebih fokus pada masalah memperbaiki jalan raya. Walaupun, selama itu pula jalan-jalan yang dilalui para pemudik belum juga nyaman di lalui. Masih saja, ada informasi di beberapa ruas jalan yang rawan kecelakaan, dan kurang nyaman di lalui para pemudik.

Gencarnya pemerintah membuat rencana perbaikan jalan dan pengaturan lalu lintas para pemudik, menunjukkan bahwa persepsi pemerintah mengenai peristiwa mudik ini, lebih merupakan sebagai peristiwa lalu lintas atau transportasi belaka. Karena pemahaman itu jugalah, maka perbaikan jalan, dan penambahan armada moda darat, laut dan udara menjadi perhatian utama pemerintah.

Bila demikian adanya, akankah pemahaman ini cukup mewakili untuk memaknai peristiwa mudik ? bagaimana dengan persepsi keagamaan, ketradisian, ketidakseimbangan pembangunan, atau masalah sosial lainnya ? akankah pemerintah berusaha untuk merancang agenda perencanaan pembangunan ekonomi pasca peristiw mudik ? bukankah para pemudik itu adalah TKD (tenaga kerja domestik) yang memiliki banyak kemampuan ekonomi kota untuk  diangkut ke desa, seperti halnya para TKI itu sendiri ?

Advertisements