Mengapa Mudik ? ini adalah pertanyaan dasar banyak pihak, terhadap mereka yang melakukan prosesi mudik tahunan. Prosesi mudik itu sendiri, tidak hanya di musim lebaran (idul fitri), tetapi dilakukan pula di musim natal atau tahun baru, atau peristiwa besar sosial (libur nasional) lainnya. Hal yang unik dan menarik adalah ajuan pertanyaan, mengapa mudik, atau mengapa harus mudik ?

Ada yang mengedepankan argumen bahwa mudik itu dilakukan, karena ingin bertemu dengan sanak saudara. Setelah sekian lama berselang, mereka tidak bertemu dengan sanak saudara, maka di musim lebaran (musim mudik) inilah, mereka bisa bersua. Lebaran dijadikan alasan untuk mudik ke kampung halaman dengan maksud untuk berkumpul dengan sanak saudara. Apa makna di balik ini hasrat itu ?

Ada juga yang mengedepankan pemikiran, bahwa mudik lebaran itu dilakukan dengan tujuan untuk nyekar (ziarah) ke makam leluhur. Di kampung halamannya itulah, para leluhur atau nenek moyangnya dimakamkan, dan ke tempat itu jugalah mereka berkunjung. Tidak mengherankan, bila kemudian di hari lebaran ini, di makam-makam leluhur kita bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai keluarga, khususnya yang memiliki hubungan kekerabatan dengan salah satu makam atau lebih di lokasi tersebut.

Bila dlihat dari perspektif ini, perilaku itu sendiri menunjukkan pada kualitas perilaku dan pemahaman yang sederhana atau terlalu di sederhanakan. Bila yang dimaksudkan itu adalah berdoa atau mendo’akan leluhur, pemahaman modern menyatakan bahwa mendoakan leluhur itu tidak terpaku pada tempat di mana dia dimakankan. Tetapi, lebih merupakan komunikasi spiritual antara dirinya dengan Tuhan. Dengan kata lain, tanpa pulang kampung pun, bila yang dimaksudkan itu adalah mendoakan leluhur, di tempat lain pun bisa dilakukan. Pada konteks inilah, perilaku mudik ini menunjukkan kesederhanaan pemahaman masyarakat kita terhadap komunikasi dengan leluhur.

Saya tidak bermaksud mengartikan pola pemahaman ini sebagai pemahaman buruk. Pola pemahaman seperti itu merupakan gejala primordial di era global. Itu semua merupakan sebuah respon sosial masyarakat di era modern. Bahkan, secara umum dapat dikatakan itulah reaksi global terhadap globalisasi. Globalisasi yang dijanjikan sekarang, ternyata tidak mampu menjawab seluruh kebutuhan manusia. kebutuhan manusia yang primordial tetap tidak bisa dijawab dan tidak bisa dianulir oleh perilaku-perilaku global.

Bertemu langsung dengan orangtua, bersalaman langsung dengan orangtua, bercengkrama dengan sanak saudara, mengunjungi tempat masa lalu, merupakan kenangan yang tidak bisa digantikan oleh kode-kode global lainnya. Saya melihat, gejala ini merupakan bagian penting dari fenomena eksperiences. Manusia tidak cukup sekedar mengkonsumsi pangan, atau mengetahui sesuatu, tetapi butuh merasakan dan mengalami sesuatu. Mudik lebaran, dan hadir di tempat masa lalu, merupakan upaya membangun pengalaman baru di tempat lama. Inilah eksperiences yang didapat oleh para pemudik.

Tidak jauh berbeda dengan makan tahu sumedang di Kota Sumedang, tauco cianjur di Cianjur dan beli langsung di Cianjur, makan opak di Jatiwangi Majalengka, jeruk Garut dari Kabupaten Garut, dan atau sebagainyanya. Mendapatkan merchandise langsung dari produsen atau lokasinya, atau safari kuliner di lokasi-asalinya, memberikan eksperiences yang tidak bisa diganti paparan atau visualisasi. Pengalaman itu hanya didapat oleh sebuah penjalanian, pengalamian langsung oleh si pelaku. Inilah –setidaknya dalam pemahaman ini, nilai hakiki dari mudik.

Pada konteks ini, saya melihat bahwa mudik merupakan upaya sadar manusia atau tidak sadar, untuk membangunkan kembali intimasi geografik seseorang. Dengan mudik, seseorang terbangunkan kembali untuk mendekatkan diri atau mengakrabkan kembali dengan tempat asalnya. Dengan mudik, terbangunkan kesadaran akan ruang primordialnya, yaitu tanah tumpah darahnya sendiri. Begitu pula denga silaturahmi dengan orangtua atau sanak saudara. Semua itu, hanyalah membangunkan intimasi sosiologis antar warga itu sendiri.

Advertisements