Umur Manusia dan kematian manusia itu tergantung pada keturunannyaa…

Ini adalah sekedar menuliskan ulang, pengalaman menyimak ceramah di Masjid Manbaul Huda Bandung. Pada saat itu, Ustadz Aceng Zakaria (pimpinan Pondok Pesantren Rancabango Garut) memberikan paparan mengenai nilai-nilai Ramadhan. Uraiannya sangat menarik. Kendati menggunakan bahasa Sunda dalam penuturannya, namun makna dan keluasan ilmunya tidak terbantahkan. Pengalaman yang panjang dalam berdakwah, sekitar 40 tahunan menurut pengakuannya, serta luasnya ilmu yang dimilikinya, “menghipnotis” jamaah yang hadir, sehingga lupa bahwa sore itu mereka sedang berpuasa dan menantikan tibanya berbuka. Tidak terasa, hampir 90 menit lamanya beliau memberikan paparan itu, dan jama’ah pun tak dibuatnya untuk menggeserkan tempat duduknya sesenti pun.

Sesekali kami dibuat terhenyak dengan argumentasinya. Sesekali pula kami dibuatnya tersenyum. Bagaimana tidak, disaat beliau menceritakan mengenai cara malaikat mencabut nyawa, dipaparkannya dengan gaya santai. Beliau menuturkan :

Coba ingat, bagaimana orang sakaratul maut. Sakaratul maut itu berapa kali ? disaat jama’ah menjawabnya, ‘satu kali’. Ah, yang benar ? masa cuma sekali ? tapi, ya mungkin jadi benar, sakaratu itu cuma satu. Sebab kalau dua kali, disebutnya bukan sakaratul maut, tapi duakaratul maut, tiga karatul maut, empat karatul maut, dan seterusnya….(kami yang mendengarkan, tersenyum karena teringat pada istilah kualitas batu mulia emas, yang menggunakan ukuran karat, sakarat itu artinya satu karat).

Tapi, sesungguhnya saraktul maut tidak sekali. Sebab, kata itu sendiri, bersifat jamak. Kata tunggalnya, sakro, kalau dua kali sebutanya sakarataani, sedangkan kata sakaratul maut, itu artinya mengalami sekaratnya berkali-kali. Maka karena itulah, orang yang mau dicabut nyawa itu sakit, sakitnya bukan kepalang. Bayangkan, bila dicabut bulu betis. Bila hanya sekali, kita bisa merasakannya sakitnya sekali. Tetapi, bila berkali-kali, maka rasa sakit itu akan menggumpal dan berulang-ulang.

Terengah-engah. Naik turun nafas. Mata pun bergejolak tak teraturnya. Darahpun mendidih. Tegang. Kejang. Tidak mengerankan bila orang yang sakaratul maut, itu diibaratkan orang yang sedang diiris-iris secara berulang-ulang……..

Itulah gayanya. Beliau dengan lihainya membuat emosi kami tidak karuan untuk mendengarkan paparan mengenai sakaratul maut. Sebelumnya, kami dibuat tertawa, tapi di sela itu pula, kami dibuatnya tertegun, termenung dan harus mengerem emosi ini.

Lagi pula, yang meninggal itu kan, tidak pandang bulu. Seperti tumbuhan. Ada pohon tembakau (bako), maka daun tua yang dipetik oleh yang empunya. Ada pohon teh, eh malah daun yang paling muda yang dipetik duluan. Ada pula pohon ketela pohon (sampeu), daun tua dan muda dipetik semuanya oleh si pemilik kebun, karena yang muda untuk sayuran, sedangkan yang tuanya untuk makan kambing. Seperti itu jugalah, cara Allah Swt mencabut nyawa manusia. Ada yang muda duluan, seperti daun teh, dan ada pula yang tidak pandang bulu, seperti yang dilakukan Allah Swt melalui tsunami. Tua muda, laki perempuan, bayi atau pun renta, terbabat habis dibuatnya.

Uraian itu belum selesai. Saya mengartikannya, itu masih serius. Hal yang uniknya, beliau melanjutkan kembali :

Oleh karena itu, manusia itu ada yang meninggal di usia muda, di usia tua, bahkan masih bayi. Itu wajar, karena memang dalilnya pun, bukan ‘kullu orok dzaiqotul maut’ (setiap orok/bayi aja yang akan mati). Tetapi, kullu nafsin dzaiqotul maut.

Hal yang membedakan itu, mungkin keturunan. Artinya, apakah kita ini, turunan ketela pohon (sampeu), turunan dauh teh, atau turunan tembakau (baqo).mudah-mudahan kita adalah turunan bako (tembakau), supaya kita dapat mencari bekal dulu untuk kelak di alam baqo...(alam kekekalan)

Itu hanya salah satu dari penggalan uraian yang menarik.  Saya sendiri, merasakan banyak penyadaran yang segar, baik mengenai puasa, sedekah, ramadhan, ataupun juga mengenai posisi hidup kita saat ini….

Advertisements