Tidak disangka. Tidak terduga. Tidak terbayangkan. Itulah yang berkecamuk dalam diri. Dua belas tahun lamanya berpisah, hari itu, ahad (05/08/2012) bisa bertemu lagi. Dengan situasi yang haru, dalam suasana ramadhan yang barokah, pertemuan selepas perpisahan panjang, memberikan keharuan yang tak terhingga.


Bagaimana tidak haru. Semula yang dianggap sebagai anak-anak, siswa, atau murid sekolah yang kerap kali membuat masalah, hari itu kami bertemu dengan keadaan yang sudah jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Realitas atau keadaan itu, sangatlah berbeda. Mereka sudak tidak lagi sebagai siswa.

Benar ungkapan Bejo, pelaksana kegiatan buka bersama, dalam rentang 12 tahun lamanya, kita tidak tahu, apa yang terjadi dan mengapa itu terjadi. Itulah kata kunci yang menjadi keunikan, ketidaktersangkaan, ketidakterdugaan, dan keharuan, serta ketidakterbayangkannya pertemuan tersebut.

Status ekonomi mereka sudah berubah. Gradasinya memang sangat beragam. Ada yang masih pejabat (pengangguran jawa barat), pegawai negeri, pengusaha, ibu rumah tangga, bisnis properti dan sebagainya. Mereka bergerak di koridor yang sangat luas, dan tidak terduga sebelumnya.

Dalam status perkawinan, ada yang belum pernah kawin, kawin, sudah pernah kawin, dan kawin lagi. Sebuah gradasi status perkawinan yang unik. Kendati begitu, masih tampak sisa-sisa kelakuan masa silam yang muncul. Sebagaimana yang ditunjukkan Jenong yang centil amat, Elis yang cerewet, Siti atau Enin yang pendiem dan imut-imut, si ustad aktivis yang masih tetap pemalu atau Jubeng yang oces. Sisa kelakuan masa lalunya masih ada, walaupun selimut sosialnya sudah berubah drastis.

Dari amatan itulah, saya melihat ada sejumlah pelajaran yang bisa dipetik dari buka bersama dengan alumni Binek 2, angkatan 2000 ini. Pertama, saya merasa tambah yakin dan setuju pada pandangan bahwa menjadi orangtua itu pasti, sedangkan menjadi orang dewasa itu adalah pilihan. Tampak sekali di forum itu, diantara kami yang hadir itu, ada juga yang belum mampu menunjukkan sikap dewasa. Padahal, usia kami yang hadir itu, sudah tidak muda lagi, sudah bukan anak-anak lagi. Usia mereka itu, diperkirakan sudah masuk ke usia berkepala 3.

Kedewasaan sikap pada Iwan, Juli, Sandi, Pepi dan juga lainnya. Tampak berkembang di ruangan itu. Mereka mampu menghadirkan sikap yang mencerminkan perjalanan usia psikologis yang matang dan dewasa. Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Pernyataan bijak ini, tampak hadir dalam pola komunikasi dan interaksi diantara kami.

Kedua, di ruangan itu, saya masih juga tetap di sapa pak guru. Itu status yang pernah saya sandang dihadapan mereka 12 tahun silam. Status sosial itu memang melekat dalam diri ini. Saat ini pun memang masih tidak terlepaskan. Walaupun mereka sudah bukan lagi berstatus sebagai siswa sekedar alumni saja, tetapi status sosial keguruan saya tak mereka lepaskan juga.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan sebelumnya, saya pun ingin mengatakan, status sebagai murid itu saat, tetapi fungsi belajar itu sepanjang hayat. Inilah pesan yang ingin saya sampaikan kepada mereka. Menjadi siswa sebuah lembaga pendidikan itu, cukuplah sesaat saja. Apakah 3 tahun saja, 6 tahun tahun saja atau 4 tahun saja, bergantung pada jenjang pendidikannya. Berstatus sebagai siswa atau murid itu cukuplah sesaat saja, tetapi belajar adalah fungsi hidup sepanjang hayat.

Kendati kita sudah menjadi orangtua, atau pegawai di sebuah instansi, kita tetap dituntut untuk tetap belajar, belajar dan mempelajari nilai-nilai kehidupan, supaya kita memiliki kualitas yang jauh lebih baik lagi. Jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan dan kemampuan diri. Teruslah belajar. Siapapun diantara kita, tetap harus melakukan fungsi belajar, belajar dari pengalaman, dengan maksud untuk terus melakukan perbaikan kualitas hidup.

Begitu pula sebaliknya, saya ingin menegaskan kepada teman-teman yang hadir (saat itu, saya menyebut teman saja bukan siswa lagi), status menjadi guru itu sesaat, tetapi fungsi mengajar itu sepanjang hayat. Dimanapun kita akan dituntut untuk menjadikan diri kita berperan sebagai pengajar. Mendididik disiplin pada diri sendiri, mendidik anggota keluarga, mendidik sahabat, mendidik karyawan atau orang lain. Semua itu adalah peran-peran guru yang harus ditunjukkan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai seorang muslim, malah dituntut untuk saling mengingatkan, saling menasehati atau saling mendakwahi. Itu pun adalah bentuk lain dari fungsi keguruan. Hemat kata, menjadi guru itu bersifat sesaat, tetapi mendidik adalah peran dan fungsi sosial kita sepanjang hayat. Terlebih lagi bila kita menjadi manager atau pimpinan sebuah lembaga. Proses pembelajaran itu menjadi penting bagi lembaga kita, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja lembaga.

Ketiga, merenungkan apa yang sedang terjadi di ruang pertemuan buka bersama itu, pikiran ini terhantarkan pada satu kesimpulan lain. Sudah saatnya, siapapun kita, tidak boleh memberikan vonis terhadap seseorang oleh masa lalu. Saat itu pula, saya melihat bahwa alumni almamater ini, ternyata nilai kesuksesannya itu sangat beragam. Saya ingat betul, ada siswa yang dulunya sangat nakal, dan nilainya pun tidak pernah beranjak dari nilai 7. Angka itu pun, sesungguhnya diberikan dengan sangat berat hati. Tetapi, saat itu, dia bercerita mengenai bisnis propertinya, dia bercerita mengenai status kepegawaiannya, dia bercerita mengenai pelesatan ekonominya.

Gambaran-gambaran masa lalu, atau perilaku masa lalu, tidak layak dijadikan panduan untuk memvonis seseorang. Nilai yang kurang memuaskan di masa lalu, bukanlah potret masa kini atau masa depan, dan bukan pula penjara bagi dirinya untuk meraih kesuksesan. Hari itu tampak banget, bahwa mereka pun (yang dulu dianggap kurang berprestasi) ternyata mampu meraih kesuksesan. Begitu pula yang lainnya.

Dari potret ini, saya jadi ingat pengalaman pribadi. Sangat sakit hati, bila orang membicarakan masalah prestasi kita di masa lalu. Memang benar, di masa lalu kita pernah mendapatkan nilai buruk dalam pelajaran-pelajaran tertentu. Tetapi itu adalah masa lalu. Sementara masa kini, dan masa depan, jauh berbeda dengan masa lalu. Jangan nilai kami oleh potret masa lalu, karena bisa jadi, potret masa lalu itulah yang menjadi pelecut bagi kami untuk berubah dan berlari kencang di saat ini. Sehingga, bukan hal mustahil, raihan prestasi hidup orang yang dulu dianggap pintar di kelas, tidak jauh berbeda atau malah terlangkahi oleh kesungguhan kita dalam mengubah nasib masa kini dan masa depan.

Keempat, sebelum hadir di forum ini, saya sempat mengajukan pertanyaan, mengapa harus saya yang hadir, dan mengapa tidak orang lain ? komentara sahabat-sahabat ini, dan mungkin jadi itu adalah suara yang dominannya, bahwa mereka berharap besar saya, dengan pak didi atau bu Naynay bisa hadir di ruangan itu. Walaupun pada kenyatananya, hanya sayalah yang bisa hadir saat itu.

Pertanyaan itu tetap saja melayang dalam pikiran ini, hingga ada satu pencerahan, yang dianggap sebagai jawabannya. Karena ada kenangan atau ada kesan di benak mereka. Perilaku kami, yang tersebutkan tadi, bisa jadi dianggap oleh mereka sebagai orang yang telah memberikan kesan dan kenangan kepada mereka di masa sekolah dulu. Mungkin itulah yang menjadi jawaban terhadap keraguan diri ini.

Tetapi kesan apa ? saya sendiri tidak bisa menjawabnya. Hanya saja, saya bisa menjelaskan bahwa kesan dan kenangan baik itu ternyata tidak terasa dan tidak dirasakan saat peristiwa itu terjadi. Mirip minum obat, rasa sehat itu dirasakan setelah beberapa saat berlalu selepas obat dikonsumsi. Dengan kata lain, rasa sehat itu tidak serta merta ketika obat itu dikonsumsi. Tetapi membutuhkan jeda terlebih dahulu. Seperti itu jugalah kesan dan kenangan.

Saya ingat. Di masa lalu, mereka kerap kali merasa dongkol kalau bertemu dengan Pak Didi, yang dulu bertugas sebagai guru BP (bimbingan dan penyuluhan). Guru yang satu inilah yang menertibkan pakaian, dan kedisiplinan. Banyak yang terjaring dalam razia siswa kala itu. Di saat itu, bisa jadi respon yang diterasa adalah pahit. Tetapi, pengalaman pahit berlalu seiring waktu, dan kini mereka mendapatkan kenangan manisnya. Obat itu ternyata menyembuhkan penyakit mentalnya, dan kini dia merasakan sebagai orang yang sehat.

Itulah kenangan. Kenangan adalah nilai baik dari sebuah pelajaran masa lalu. Kesimpulan ini pun, mengantarkan kita pada kesimpulan, bahwa orang baik itu adalah seseorang yang mampu memberikan kenangan manis dan kesan manis kepada sesama. Sebaik-baiknya manusia, adalah paling banyak dikenang dan membuat kenangan baik kepada sesama.

Terakhir, karena diberi kesempatan untuk menyampaikan pengalamannya di depan alumni ini, terpaksa memberikan dua patah atau tiga patah kata dihadapan mereka. Pesan-pesan yang lainnya, dapat disebutkan pesan normatif sebagai sebuah kenangan. Namun salah satu pesan yang masih saya ingat, saya katakan kepada mereka, kesuksesan sahabat-sahabat semua, bisa jadi bukanlah disebabkan karena peran guru. Betul adanya, guru sudah memberikan peran didiknya kepada sahabat-sahabat. Tetapi, kesuksesan yang saudara raih hari itu, adalah buah dari keberanian saudara untuk melangkah dan mengambil keputusan demi masa depan masing-masing.

Keberanian dalam mengambil keputusan mengenai masa depan itulah, yang kemudian menjadikan diri kita menjadi berubah. Sementara mereka yang tidak berani mengambil keputusan, memiliki nasib yang tidak jauh berbeda dengan masa lalunya. Orang yang masih jomblo, bisa disebabkan karena belum berani mengambil resiko hidup berumah tangga. Orang yang menganggur pun, adalah pilihan hidup yang pahit yang disebabkan karena dirinya tidak berani mengubah keputusan hidupnya untuk mengubah impiannya. Kadang kita dijebak oleh persepsi pekerjaan, sehingga tidak mau mencoba bentuk pekerjaan yang berbeda.

Saya melihat, ada orang yang berlatar belakang hukum (SH), tetapi sukses bidang properti. Itu artinya, sahabat kita ini, tidak terpenjara oleh ijazah, dan berani mengambil keputusan untuk keluar dari kebiasaan menuju peluang kesuksesan yang paling mungkin. Ada yang sukses bisnis dengan membuka kounter Hp, atau produksi sendal-sepatu, padahal mereka itu tidak memiliki latar belakang pendidikan yang terkait dengan hal itu. Sugi dan Doni adalah contoh teladan, yang mampu berani mengambil keputusan untuk bisa sukses pada jalur hidup, yang bisa jadi, tidak mesti sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Saya membayangkan, bila mereka terjebak pada persepsi ijazah, mereka akan berserahpasrah untuk sekedar menjadi karyawan sebuah pabrik. Itu pun bila ada lowongan. Bila tidak ada lowongan kerja, maka dia akan menjadi pengangguran. Tetapi, beruntung mereka mampu mengambil pilihan terbaik dalam hidupnya, sehingga benar-benar bisa mengubah nasib sendiri.

Melalui curahan hati ini, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak. Khususnya panitia dan juga sahabat-sahabat alumni binek, yang telah memberikan pengalaman berharga ini, dan semoga dapat dijadikan sebagai nilai penting bagi upaya peningkatan kualitas hidup kita.

Dalam kesempatan ini, saya mohon maaf, tidak menyebut satu persatu disini. Jumlah yang hadir cukup banyak, hampir mendekati angkat 100 orang, dan memori untuk mengingat nama-nama itu pun sudah mulai kabur. Tetapi, curhatan ini, ingin menegaskan bahwa sewaktu sahabat-sahabat menjadi siswa, saya belum berani memberanikan nilai 10, tetapi hari ini, saya menganggap, bahwa saudara-saudara tanpa kecuali— layak dan pantas mendapat nilai angka 10 atas seluruh prestasi hidup dan kesuksesan yang telah di raih selama ini.

Terima kasih.

Advertisements