Walaupun syetan sudah tidak menguasai kita, tetapi pemahaman dan keyakinannya bisa jadi sudah mempengaruhi kita. Bukankah, para penjajah Belanda pun sudah hengkah dari negeri kita ? tetapi, perilaku imperialismenya, masih juga hadir dalam perbuatan kita ? bukankah PKI pun sudah dibubarkan, tetapi sikapnya kadang muncul dalam keseharian kita ?!


Salah satu pemahaman umum masyarakat, di bulan suci ramadhanini, pintu syurga dibuka, dan neraka ditutup, syetan-syetan pun dibelenggu. Salah satu diantaranya, yaitu merujuk pada hadist Rasulullah Muhammad Saw :

???? ????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????

????? ????? ????????? ????????? ????????? ?????????? ? ??????????? ????????? ???????? ? ???????????? ?????????????

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ketika Ramadhan datang maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dirantailah syetan-syetan. (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Banyak penafsiran terhadap tema ini. Salah satu diantaranya, adalah memberika pemaknaan bahwa syetan, baik dalam pengertian lahiriah (fisik) maupun sifatnya, yaitu di penjara atau di belenggu. Dalam posisi ini, syetan mengalami kesulitan untuk memberikan pengaruh nyatanya, terhadap manusia. atau dalam istilah lain, syetan mengalami kesulitan untuk memberikan intevensi kepada manusia.

Ada pula yang mengartikan, bahwa makna sulsilat itu artinya hanya dikurangi gerak aktivitasnya. Di belenggu bukan berarti tidak mampu melakukan sesuatu. Di belenggu itu perlu dimaknainya sebagai dikurangi. Sehingga, ada pernyataan, di belenggu bukan berarti tidak bisa mempengaruhi.

Di bulan ramadhan 2012 ini, ada kasus besar yang mengagetkan bangsa dan negara kita. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggeladah kantor kepolisian. Kasus yang diangkat adala kasus pengadaan simulator, dan yang dijadikan tersangka pun bukanlah orang sembarangan. Bukan cleaning service-nya, atau staff kepolisiannya. Orang yang dijadikan sebagai tersangkanya, adalah seorang jenderal. Mengapa ini terjadi ?

Mengapa kejahatan masih terus berkembang, disaat bulan suci ramadhan ? betul, kejahatan yangdilakukan itu, tidak dilakukan di bulan suci ramadhan, dan hanya terkuak di bulan suci ramadhan, tetapi mengapa berbagai kejahatan pun masih terus terjadi ?

Di sini, kita harus bisa membedakan antara pelaku kejahatan dengan pengaruh (mentalitas) jahat. Orang jahat, atau aktor jahatnya, bisa jadi sudah dipenjara, sudah ditangkap, atau malah sudah dieksekusi. Tetapi, bukan berarti kejahatan itu hilang dari kehidupan kita. Karena di saat, aktor kejahatannya sudah dipenjara, kita tidak tahu kekuatan pengaruhnya sudah sampai mana. Bukankah, Belanda, sebagai kolonial dan imperialis, sebagai penjajah, telah di usir bangsa Indonesia sejak tahun 1945-an ? tetapi, ternyata sifat-sifat imperialisnya, sifat menjajahnya, sifat menguras kekayaan orang lainnya atau sifat memaksanya masih juga tumbuh di masyarakat.

Seorang majikan tidak rela memberikan upah yang besar kepada buruh atau karyawannya. Sifat itu tidak jauh berbeda dengan kaum penjajah yang memeras keringat rakyat Indonesia dengan upah yang sangat minim. Seorang senior di kampur perguruan tinggi melakukan kekerasan dan penyiksaan kepada yuniornya, adalah tindak kekerasan ala kaum penjajah masa lalu, yang masih tumbuhsubur di kalangan mahasiswa atau pelajar masa kini. Karena itu pula, walaupun koruptor sudah banyak yang dipenjara, atau teoriris sudah dieksekusi, tetapi bila pemahamannya masih dipelihara dalam diri kita, maka kejahatan itu akan muncul lagi ke permukaan.

Selama 11 bulan lalu, itu bisa diartikan sebagai masa pergaulan kita dengan berbagai hal yang ada di kehidupan kita. Selama 11 bulan itu, kita bergaulan dengan kebaikan dan keburukan. Di 11 bulan itu, kita berinteraksi dengan banyak karakter, serta bersahabat dengan hal itu. Karena memang, di bulan-bulan itu, semua pihak tidak dibelenggu. Dalam istilah modern ini, di 11 bulan itu, kita menjalin komunikasi global dan liberal, dengan siapapun kita bergaul. Termasuk, dengan syetan, karena syetan waktu itu bebas berinteraksi, bebas bergaul atau tidak dibelenggu.

Persoalan lanjutannya, selepas dari 11 bulan itu, ketika ramadhan tiba, kemudian pelaku keburukan itu dibelenggu, apakah perilaku kita pun, dengan serta merta terlepas dari keburukan ?

Pengalaman hidup selama 11 bulan lalu, pada dasarnya adalah pola komunikasi yang sangat jelas. Persahabatan dengan siapa selama 11 bulan yang lalu, akan memberikan warna terhadap perilaku kita saat ini. Andaipun mereka sudah tiada dari samping kita, tetapi bila kita sudah bergulat-bergelut dengannya siang malam selama 11 bulan, bukan hal yang mustahil, pengaruhnya sudah nampak, dan sudah hadir dalam tubuh kita.

Ada pepatah mengatakan, diri kita ini, adalah cermin dari teman akrab kita. Bila kita kerap bersahabat dengan orang baik-baik, maka harum kebaikannya akan hadir pula dalam pikiran dan perilaku kita. Bila kita berteman akrab dengan orang yang memiliki semangat kerja yang baik, kita pun akan terpengaruhi akan gaya kerja yang berkualitas. Begitulah selanjutnya, dab begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, berhati-hatilah dalam memiliki teman akrab.

Dalam posisi itulah, tepat kiranya, bila dikatakan bahwa walaupun syetan sudah tidak menguasai kita, tetapi pemahaman dan keyakinannya bisa jadi sudah mempengaruhi kita. Bukankah, para penjajah Belanda pun sudah hengkah dari negeri kita ? tetapi, perilaku imperialismenya, masih juga hadir dalam perbuatan kita ? bukankah PKI pun sudah dibubarkan, tetapi sikapnya kadang muncul dalam keseharian kita ?!

Hal itu menunjukkan bahwa, aliran pemikiran itu kadang muncul dalam perilaku kita sehari-hari, walaupun pihak terkaitnya sudah pergi dari lingkungan kita. Dan untuk itulah, walaupun syetan itu sudah dibelenggu, namun perilaku kesyetananya bisa tampak mempengaruhi sikap dan perbuatan kita.

Mirip dalam ilmu politik. Syetan di bulan ramadhan itu, tidak perlu menjadi manusia, tetapi bisa menjajah atau mendudukinya. Atau tidak perlu menduduki kekuasaan manusia, tetapi bisa menguasai. Andaipun tidak bisa menguasai manusia, tapi bisa mempengaruhi manusia. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan saat ini, bisa jadi, pengaruh dari pengalaman interaksi kita dengan berbagai hal yang sudah kita lakukan di masa lalu. Kebaikan kita adalah buah dari komunikasi kita dengan orang baik di masa lalu, dan perilaku buruk kita saat ini, adalah dampak dari pergaulan buruk kita di masa silan. Oleh karena itu, kendati syetan sudah dipenjara, tetapi perilaku syetan bisa muncul dalam diri kita !

Pada konteks inilah, bulan ramadhan itu, perlu dimaknai sebagai bulan penyucian diri atau tazkiyatun nafs. Kaitan dengan hal ini, ada pemaknaan yang bagus. Ternyata dilihat dari asal katanya, ramadhan itu mengandung makna panas atau membakar. Makna itu cocok dengan fungsinya, yaitu membakar seluruh pengaruh-pengaruh buruk syetan yang sudah kita pernah dapatkan selama 11 bulan lalu. Di bulan ramadhan inilah, kita membersihkan diri, membakar diri, dan menyucikan diri dari berbagai kotoran-kotoran yang menempel dalam diri kita.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang. (Qs. Al-Ala : 14-15)

Langkah selanjutnya, melalui bulan ramadhan ini pula, kita harus dituntut untuk melakukan perenungan mengenai siapakah yang memiliki kewenangan untuk menetapkan keputusan dalam hidup dan kehidupan ini ? siapakah yang memiliki peran nyata, dalam mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu ? bila Syetan sudah dibelenggu, dan tidak lagi melakukan yuwaswisu fi shudurinnas, siapakah yang memainkan peran dalam melakukan berbagai aktivitas ini ?

Pertanyaan inilah, yang perlu dijadika kunci dari setiap persoalan yang kita hadapi saat ini. Dan dalam kesempatan inipula, saya ingin mengambil penafsiran bahwa, karena syetan sudah dibelenggu, berarti, kita tidak bisa menyalahkan pada golongan syetan, apalagi menggantungkan nasib kepadanya. Nasib kita masa kini dan masa depan, adalah tanggungjawab kita sendiri !

Tidak boleh lagi menyalahkan syetan. Karena syetan sudah lepas tangan. Kini saatnya, di bulan suci ramadhan ini waktunya, untuk tegak berdiri dan membusungkan dada, bahwa kita sendirilah yang bertanggungjawab terhadap perilaku kita dan masa depan kita. Inilah, makna lain dari firman Allah Swt :

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Qs. Ar-Radu : 11)

Melalui tadarusan ramadhan ini pula, kita sampai pada satu titik kesimpulan penting, yakni pentingnya kita membangun kesadaran diri dan otonomi diri. Itulah ramadhan.

Advertisements