Inilah cara budaya merayakan lailatul qadr. Itu jugalah cara budaya mensikapi malam takbiran atau datangnya idul fitri.


Ini pengalaman di kampung. Setiap menjelang pertengahan ramadhan, pihak panitia masjid (musholla atau langgar) sudah memberikan informasi peringatan mengenai kian mendekatnya hari-hari akhir ramadhan. Di hari-hari akhir itu, dikemukakan ada yang disebut acara malemam. Istilah malemam itu, adalah malam-malam lailatul qadr, atau lebih populer lagi di sebut malam lilikuran[1]. Sejak tanggal 16 Ramadhan, setiap malam-malam ganjil, ada dua atau tiga orang yang mempersiapkan diri memberikan makanan, tumpeng atau nasi kuning, yang diserahkan pihak masjid. Besaran makanan itu, biasanya di sesuaikan dengan besaran jamaah masjid di maksud. Semakin besar masjid, dan semakin banyak jamaahnya, semakin melimpah pula makanan maleman itu.

Hal yang menariknya lagi, acara maleman itu, memang membuat daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang di luar jamaahnya. Karena ada malam lilikuran itulah, para remaja yang semula sudah mulai menurun semangatnya, menjadi semangat lagi karena ada malam likuran. Begitu pula anak-anak. Makanan maleman likuran itu, dilaksanakan selepas shalat tarawih dan tadarusan.

Memperhatikan hal itu, kita bisa melihat bahwa strategi kiyai yang mengeluarkan ide budaya itu, sangat cerdas yang berhasil. Dengan tradisi lilikuran itu, setidaknya telah mampu menarik dua kelompok besar. Pihak ibu-bapaknya, semangat mengantarkan makanan ke mesjid, sedangkan kalangan anak-anak remaja, semangat memburu makanannya. Sementara pihak pengelola masjid, tidak mengelola acara, sehingga pesan-pesan ramadhan bisa sampai kepada jamaah yang akan mengikuti acara maleman di masjid tersebut.

Fenomena ini, dapat kita lihatnya, sebagai sebagai strategi pemasaran atau pemotivasian. Artinya, di kala, semangat kita menurun, dibutuhkan ada motivasi baru, gairah baru, hadiah baru, atau program baru yang membuat kita semangat kembali. Dan pada konteks itu pulalah, urgensinya malam lailatul qodr bagi seorang muslim.

Sebagaimana dimaklumi bersama. Hari-hari pertama ramadhan, kaum muslimin masih semangat berpuasa, dan bertarawih. Ini pun tidak jauh berbeda dengan seorang pegawai. Di hari-hari pertama kerja, tampak semangat kerja yang menggelora. Tetapi setelah beberapa bulan atau setelah beberapa tahun, kemudian mulai menunjukkan indikasi menurunnya kinerja. Bila kondisi ini dibiarkan, sudah tentu akan merugikan perusahaan (instansi), dan juga merugikan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan triger baru, atau pelecut baru dengan maksud untuk membangkitkan kembali semangat kinerja dalam menjalankan sebuah kewajiban.

Sehubungan hal ini, disaat kita merasakan ada kelelahan dalam ibadah, maka kita ingat lagilah, bagaimana hebatnya lailatul qadr. Sebelum kita kehabisan tenaga dalam menjalani shaum ramadhan ini, renungkan kembali peluang besar, meraih hadiah besar,atau pahala yang berlipat secara luar bias. Ingatlah lailatul qadr.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (Qs. Al-Qadr, 97:1-5)

Dalam bahasa Bisnis atau strategi marketing. Itulah hadiah. Itulah discount besar-besaran. Itulah potongan harga. Itulah cara menarik kembali para pembeli, supaya bisa datang kembali ke pusat perbelanjaan. Kita semua tahu, bahwa potongan harga besar-besaran itu, biasa dilakukan oleh para pedagang atau pengusaha pada malam-malam berakhirnya acara. Bila ada acara pameran, maka malam terakhir pameran, bisa dilakukan pemotongan harga secara besar-besaran. Begitu pula diakhir ramadhan, para pedagang melakukan perlombaan pemotongan harga untuk menarik para pelanggan sehingga datang kembali ke pusat belanja tersebut.

Kembali ke pembahasan kita kali ini. Wacana ini, memang tidak dimaksudkan untuk melakukan penggalian (eksplorasi) mengenai nilai agungnya ramadhan. Bukan itu maksudnya. Maksud dari wacana ini, adalh menjelaskan bahwa kehadiran lailatul qadr di akhir, dapat dimakna (sekali lagi, dapat dimaknai) sebagai teknik pemasaran atau teknik membangkitkan kembali semangat klien, siswa, karyawan, pelanggan, atau pembeli dalam mengikuti agenda yang sedang kita jalankan. Karena, bila tidak ada strategi pemotivasian seperti ini, kinerja mereka itu akan melorot, turun atau malah padam sama sekali.

Di sinilah. Pemahaman kita terhadap pentingnya lailatul qadr, dapat disarikan sebagai sebuah kesadaran mengenai pentingnya membangun kesinambungan kinerja yang baik. Sebagai pimpinan perusahaan, kita dituntut untuk menciptakan lingkungan dan budaya kerja yang mampu menjaga semangat karyawan secara stabil dan meningkat. Seorang guru, dituntut untuk menjaga semangat belajar putra-putrinya supaya tetap stabil dan meningkat. Jangan biarkan semangat mereka menurun.

Pada sisi lain, kita pun dituntut untuk membuat program alternatif yang bisa memberikan pencerahan, penyemangat dan menggairahkan. Program lailatul qadr, adalah bentuk program unggulan ramadhan, yang dimaksudkan untuk membangkitkan kembali semangat seorang muslim dalam beribadah. Adanya insentif uang lembur, adalah program alternatif untuk membankitkan semangat karyawan rela atau mau bekerja di luar jam kerja.

Kealpaan kita terhadap masalah ini, bisa menyebabkan kinerja dan budaya kerja di perusahaan, atau di lembaga kita menjadi monoton. Lebih buruknya lagi, menyebabkan tempat kerja sebagai lingkungan yang membosankan. Bila itu sudah tercipta, maka kinerja akan buruk, dan raihan kerja lembaga kita pun pasti menurun.

Hemat kata, jangan pelit membuat kejutan baru. Jangan malas membuat kejutan baru bagi staff kita. Dengan kejutan-kejutan itu, insya Allah, gairah kerja atau semangat kerja staff kita akan meningkat. Kejutan itu, misalnya dengan touring, studi tour, atau acara sejenis lainnya.

Pentingnya kejutan baru itu, karena sifat psikologis manusia, yang kerap merasakan kejenuhan. Jenuh mengulangi sesuatu yang dianggapnya biasa, apalagi biasa-biasa saja. Manusia kerap kali merasa bosan dan cepat bosan, bila tidak mendapatkan kejutan-kejutan. Kejutan itu bersifat membangkitkan atau mengagetkan kesadaran. Itu semua, memiliki potensi membangkitkan semangat kita.

Hal seperi itu jugalah, program malemam atau lilikuran. Dan itulah, cara merayakan lailatul qadr. Dan itu jugalah cara budaya mensikapi malam takbiran atau datangnya idul fitri.


[1] Lilikuran adalah istilah bilangan dalam bahasa Jawa (likur), untuk menyebut bilangan setelah angka 20. Misalnya, angka 21 di sebut salikur, 22 disebut dua likur, dan seterusnya. Istilah lilikuran itu sendiri, dimaksudkan untuk menunjukkan malam-malam ganjil di bulan suci ramadhan.

Advertisements