Sekali lagi, kita ingin mengulas masalah tidur di bulan ramadhan. Hadits yang terkait dengan masalah tidur di bulan suci ramadhan ini, cukup terkenal, dan cukup banyak pengikutnya. Di rumah, sekolah, perusahaan, kantoran bahkan juga di masjid itu sendiri, gejala tidur massal di bulan suci ramadhan ini, dengan mudah dapat ditemukan. Ini adalah fenemona unik.


Saya ingin sebut sebagai fenomena unik. Karena, gejala ini adalah gejala sosial tetapi kerap kali di kait-kaitkan dengan agama, khususnya puasa. Padahal, bila dicermati dengan seksama, dan ini memang dugaan pribadi saya, gejala ini adalah gejala mental masyarakat. Fenomena tidur di bulan puasa itu, bukanlah gejala agama, tetapi lebih erat kaitannya dengana gejala sosial masyarakat kita sendiri.

Adalah Koentjaraningrat (2004), yang mengulas mengenai mentalitas bangsa Indonesia. Buku heubeul tetapi layak diposisikan sebagai buku klasik yang unik itu, mampu memotret mentalitas masyarakat Indonesia secara kritis. Salah satu mentalitas yang diulas di situ, adalah mentalitas merendahkan kualitas. Orang Indonesia itu, seringkali mengabaikan faktor mutu atau kualitas. Dalam bekerja, dalam memberikan pelayanan publik, dalam melaksanakan satu kewajiban, cenderung ke arah asal-asalan. Koentjaranngrat menyebutnya dengan istilah mengabaikan masalah kualitas.

Kajian lainnya, muncul pula sikap yang mirip dengan mentalitas homosovieticus. Mental homo sovieticus itu adalah mental mendua. Bila ada kaitannya kepentingan sendiri, atau memenuhi kebutuhan sendiri, dia serius. Sedangkan bila menjalankan tugas negara, atau melaksanakan kewajiban, dia melakukannya secara leha-leha. Dalam bahasa sederhana, bila menuntut hak kenceng banget, sedangkan bila ada kaitannya dengan kewajibannya, dia lakukan secara asal-asalan. Jalaluddin Rakhmat (1999), memotret gejala homo sovieticus itu, terhadap perilaku elit politik atau birokrat. Pada pegawai negeri itu, katanya, bila dalam menjalankan tugasnya, terlihat seperti setengah hati, dan kurang serius.

Bila potret atau kajian teori ini, dikaitkan dengana kehidupan seorang muslim yang sedang berpuasa ramadhan, kiranya akan dengan mudah terlihat. Pribadi yang suka mengabaikan kualitas dan atau mentalitas mendua itu, terlihat selama ramadhan. Fenomena tidur di bulan ramadhan, dapat kita jadikan sebagai sasaran analisis mengenai hal ini.

Pertama, orang yang tidur di bulan ramadhan, menunjukkan bahwa dirinya itu adalah orang yang memiliki motivasi rendah dalam memaksimal kerja (amalan) dalam meraih keberkahan ramadhan. Tidur itu berpahala. Tetapi dengan tidak tidur, kita bisa meraih pahala yang jauh lebih banyak lagi. Tidur itu ibadah, tetapi dengan tidak tidur kita bisa melakukan amal ibadah yang jauh lebih melimpah. Tetapi, karena mentalitasnya meremehkan mutu atau kualitas, maka orang-orang itu, mengambil jalan tidur. Hemat kata, tidurnya seseorang yang sedang berpuasa menunjukkan rendahnya mental untuk meraih prestasi yang optimal.

Kedua, mentalitas ini cocok juga dengan sikap mendua. Kalau berdoa kepada Allah Swt, seperti orang yang memaksa, dan seolah-olah Allah Swt itu harus mengabulkannya. Tetapi, pada saat beribadah kepadanya, hanya sekedarnya. Perilaku seperi itu, tidak jauh berbeda dengan orang yang senantiasa menuntut hak. Kalau bicara tentang hak, kelihatan serius banget, sedangkan kalau berbicara kewajiban dia tunaikan seminimal mungkin.

Bila hal itu dikaitkan dengan anjuran Islam itu sendiri, saya melihat ada sesuatu yang hilang. Nilai yang hilang dalam diri kita ini, yaitu hilangnya mental ambisius, optimis, mental progresif atau mental berprestasi. Mentalitas itu tidak hadir dalam diri kita, karena kita alpa, khilaf atau melupakan anjuran untuk tetap senantiasa berlomba-lomba dalam kebajikan, fastbiqul khairat.

Nilai fastabiqul khairah adalah mental optimis, semangat, gairah, sungguh hati, kerja keras, dan gigih untuk mendapatkan hal terbaik dan tertinggi. Orang yang memegang prinsip fastabiqul khairah adalah orang yang senantiasa berusaha memanfaatkan peluang-peluang baik, untuk dijadikan kebaikan, sehingga dia mendapatkan nilai terbaik.

Bila demikian adanya, memahami hadist yang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa itu ibadah, hendaknya diartikan sebagai peringatan bahwa di bulan ramadhan ini, aktivitas sekecil apapun memiliki peluang jadi bernilai kebaikan. Tetapi, sebagai orang mukmin yang berpegang teguh pada prinsip nilai fastabiqul khairah, akan memaksimalkan peluang-peluang lainnya, untuk dijadikan sebagai sarana bagi dirinya meraih kebaikan yang tertinggi.

Bila ada kesempatan meraih nilai tertinggi, mengapa harus mengambil nilai yang paling rendah ?

Bila ada peluang meraih posisi maksimal, mengapa harus menggambil peluang yang minimal ?!

Advertisements