Setengah perjalanan orang pemberani. atau, lebih tepatnya lagi, lika-liku seorang pejuang keadilan dan kemanusiaan. Tidak banyak yang bisa diungkap di sini, tetapi, mari kita renungkan kehebohannya Ibu Siti Fadilah Supari, dan nasibnya saat ini…

Lama sudah, hasrat ingin membaca buku Saatnya Dunia Berubah, karya seorang dokter mantan pegawai Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, Siti Fadilah Supari. Buku yang pertama kali di tulis pada bulan Desember 2007 itu, menarik banyak kalangan, dan kemudian menyedot kontrovesi atau lebih tepatnya ada penolakan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Titik point kontrovesialnya atau hadirnya penolakan dari kelompok lain itu, karena dalam buku itu, Beliau menuturkan mengenai proses perjuangan, asumsi dan kritiknya terhadap kebijakan WHO, khususnya WHO CC dan GISN, yang dipandangnya kurang memperhatikan negara dan kelompok masyarakat negara berkembang atau negara miskin. Dengan tuturan bahasa yang lugas, kritis, dan meyakinkan, Menteri Kesehatan Era SBY-JK ini, mampu mengubah pola pikir sejumlah negara di dunia, dan juga mereformasi WHO.

Menteri Pertahanan RI, Juwono Sudarsono (2008), dalam komentarnya seperti di muat dalam buku tersebut, mengatakan, keberhasilan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mereformasi WHO adalah contoh sangat bagus keberhasilan perjuangan berdiplomasi kelas dunia secara modern.

Namun, sayangnya, dalam kurun waktu ini, buku ini sulit ditemukan. Bahkan, isu santer pada waktu itu, buku tersebut tersiar di larang edar atau diterbikan kembali. Akhirnya, masyarakat pun, tidak bisa mengaksesnya kembali.

Walaupun hanya seputar Bandung, selama itu pula mencari ke sana ke mari. Toko buku, loakan, dan atau pameran buku, sudah didatanginya. Namun sampai, akhir Juni 2012 ini, tidak juga berkesempatan untuk membaca buku tersebut. hasrat lainnya, sesungguhnya bukan sekedar ingin membaca, atau mengetahui isinya, tetapi aspek praktisnya, ingin mengoleksi buku tersebut.

Alasannya sederhana. Walaupun sifatnya subjektif, tetapi saya merasakan bahwa buku dan sikap dari penulisnya ini, merupakan tokoh langka di Indonesia, bahkan di dunia. Melalui buku dan pandangan politisnya, walaupun bukan politisi,Menteri Kesehatan zaman SBY ini, memiliki nyali yang luar biasa. Melawan hegemoni dunia, yang nota bene di dalamnya ada Amerika Serikat dan pengusaha farmasi dunia.

Untuk sekedar mengenal tokoh lain, saya memandang fenomen Siti Fadilah Supari ini, mirip Ahmadineejad dari Iran, Mahathir Mohammad dari Malaysia, dan Soekarno dari Indonesia. Siti Fadhilah Supari, mampu menunjukkan keberanian, kejernihan berfikir dan kepekaannya terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan yang sifatnya universal. Bukan saja, untuk kepentingan Indonesia, apalagi kepentingan pribadi.

Sepuluh Juli 2012, tidak di sengaja, lewat ke jalan Dewi Sartika Bandung. Di sini ada tempat jualan buku bekas. Secara pribadi, saya termasuk sering lewat atau mencari buku bekas (buku baru juga ada), di daerah ini. Namun untuk kesempatan ini, saya menyebutkan diri sebagai perjalanan yang tidak disengaja. Karena perjalanan yang dimaksudnya itu, justru menuju ke Jl. Sudirman, ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinisi Jawa Barat untuk kepentingan mengurus administrasi organisasi. Oleh karena itu, perjalanan ke jalan Dewi Sartika ini, saya sebutnya sebagai sebuah kebetulan.

Tidak lama, dan tidak membutuhkan pikiran yang jelimet. Saat melihat buku berjilid merah dengan judul Saatnya Dunia Berubah, pikiran saya langsung tersentak. Terlebih lagi, dibawahnya tertulis penulisnya, seorang mantan menteri di era SBY-JK. Jelas sudah,itulah buku yang selama ini, dicari.

Pikiran waktu itu, sudah meyakinkan diri. Berapa pun harganya, buku ini harus saya ambil. Harus di beli. Itulah tekadku. Karena, selama ini, saya sudah pesan ke sebuah situs took-buku eletronik (via e-marketing), belum juga tiba. Di situs itu, dinyatakan bahwa harga buku itu sekitar Rp. 185.000. Walaupun, agak was-was juga, khawatir harganya lebih mahal lagi. Karena, sebelumnya, pada waktu heboh buku Di Bawah Bendera Revolusi, buku bekas di kawasan ini, sampai menyentuh angka Rp.500.000 per jilidnya. Luar biasa. Tapi, maklum, waktu itu memang sedang dijadikan konsumsi publik oleh media massa.

Pada saat dikonfirmasi harganya, saya merasa lega. Karena harga buku itu, ternyata jauh dari prasangka sebelumnya. Harga buku itu, tidak lebih sekedar dari harga buku biasa, dan standar. Harganya hanya sekitar 10% dari yang ditawarkan situs toko elektronik. Karena, itu pula, maka dalam hitungan detik, buku itu sudah berpindah tangan kepemilikannya.

Setelah dibaca, dan juga sedikit di renungkan, apa maknanya bagi kita saat ini ? pesan apa, yang ingin disampaikan oleh Mutiara-Raksasa yang terpendam dalam dasar bumi (Giant crystal hidden in Earths Center), isilah yang digunakan Pravda, Russian News Office, saat mengomentari keberanian dan kemampuan Ibu Siti Fadhilah Supari.

Pertama, kemerdekaan dan kedaulatan adalah sebuah harga mati. Sebagai bangsa, Indonesia dituntut untuk mampu menunjukkan kemerdekaan dan kedaulatannya, di hadapan bangsa-bangsa lain, terlebih lagi dihadapan kepentingan kelompok tertentu, baik dalam negeri maupun — khususnya pengusaha– luar negeri.

Kedua, kita, sebagai bangsa, kekurangan pemimpin berkarakter. Pemimpin yang memiliki kepekaan, kepedulian, dan kemampuan praktis dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Kebanyakan yang ada hanyalah pemimpin retoris. Maksudnya, yaitu sekedar sekedar bermain retorika belaka !

Ketiga, kehidupan berbangsa ini, bukan sekedar pintar. Kita harus memiliki keberanian menyuarakan kebenaran. Tetapi, ini pun tidak cukup, kita harus memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tekanan. Bahkan, ketahanan mental diri pun tidak cukup, bangsa ini harus memiliki kekompakan dalam membangun ketahanan bangsa. Sebab, bila ketahanan diri hanya dimiliki oleh diri sendiri, sedangkan kelompok lainnya, tetap menjadi pengecut, atau pecundang, maka tetap saja, martabat dan kedaulatan bangsa ini, akan lemah. Indonesia membutuhkan figure seperti Soekarno atau Siti Fadhilah, tetapi juga butuh kekompakkan dari semua pihak, mengenai kedaulatan bangsa ini !

Sebagaimana yang dikemukakan Hikmahanto Juwana (2008) saat memberikan komentar mengenai pribadi Menteri Kesehatan era SBY ini, apa yang dilakukan SIti Fadhilah Supari yang menggugat praktek ketidakadilan WHO itu adalah bagus. Tinggal sekarang kita harus berani menghadapi tekanan-tekanan negara-negara tertentu..

Terakhir, sayangnya, sebagai bangsa pun, kita tidak peduli dengan nasib orang hebat seperti ini. Soekarno orang hebat, setelah turun jabatan, kita lupa terhadap jasanya. Nurcholish Madjid, pemikir Islam hebat Indonesia, setelah wafat, kita hilap terhadap jasanya. Dan kini, dokter pejuang ini, yang sudah berani mampu berhadapan dengan WHO dan Amerika Serikat, ternyata malah tidak berdaya dihadapan hokum dalam negerinya sendiri. Kini beliau, berhadapan dengan hokum, dan terancam masuk dalam ruang tahanan.

Saya tidak bermaksud untuk menggunakan teori konspirasi, tetapi perjuangan untuk mereformasi WHO CC (Collaborating centre) dan menghabisi GISN (Global Influenza Surveillance Network). Bahkan, ibu pemberani ini, mengeluarkan aturan yang mengharamkan mereka berbisnis dengan cara lama yaitu mengimpor dan berjualan obat impor di Indonesia sampai mereka mendirikan pabrik peracikan obat di dalam negeri. Potensial menyimpan musuh-berkepanjangan, dan tekanan dari berbagai pihak, sebagaimana yang disinyalir Juwana tadi.

Apalagi, bila Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, mengakui bahwa tersangka Siti Fadillah tidak mengantongi uang hasil korupsi. Namun kebijakannya saat itu menjabat sebagai Menkes membuat orang lain melakukan tindakan korupsi, sehingga negara dirugikan. “Nah itu kan memang risiko menteri. Dan pengertian korupsi dalam Undang-Undang, siapa pun yang membuat orang lain untuk merugikan negara, maka dia juga korupsi. Dan kesalahan tersangka ada di kebijakan,” kata Saud.[1]

Kemudian, terkait dengan bukunya, Saatnya Dunia Berubah[2],

Media Barat ramai membicarakan buku Menkes Siti Fadilah Supari yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” yang membongkar konspirasi Barat tentang sampel virus flu burung. Informasi yang berkembang, buku itu diminta ditarik dari pasar oleh Presiden SBY.

Informasi ini disampaikan seorang pejabat WHO untuk keamanan kesehatan, David Heymann, sebagaimana dilansir media Australia, The Age, Kamis (21/2/2008)[3]

Ibu mohon maaf, kehebatanmu di persidangan Internasional, tidak dapat kami teladani dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaanmu di hadapan hokum negeri sendiri !


[2] Siti Fadhilah Supari. 2008. Saatnya Dunia Berubah. Jakarta : SWI

Advertisements