Apapun komentar kita terhadap acara ngunduh mantu Anang-Ashanti, kita dapat melihatnya sebagai sebuah strategi pemasaran. Ini merupakan bentuk nyata, bagaimana pemasaran daerah, pemasaran budaya, pemasaran politik, atau pemasaran person (orang) dapat dilakukan secara kreatif dan unik.

Di sela-sela, strategi promosi daerah, atau objek wisata tengah ramai dilakukan oleh berbagai daerah di Indonesia, upacaya ngunduh mantu, merupakan bentuk kreativitas promosi daerah yang unik.

Perhatikan media televise kita hari ini, beberapa daerah sedang giat melakukan promosi. Strategi yang digunakannya, kebanyakan mereka memanfaatkan media elektronik, seperti TV dan internet. Sayangnya, bentuk promosinya itu masih konvensional, yaitu mengungkap paparan mengenai keindahan daerah atau keunggulan daerahnya masing-masing. Kendati cenderung beriklan, atau merayu, tetapi itu adalah upaya kreatif pemerintah daerah dalam mempromosikan daerah masing-masing.

Melalui publikasi acara ngunduh mantu itu, orang menjadi kenal pendopo Jember, kota Jember, dan pimpinan daerah Jember. Semua itu, adalah pengetahuan ikutan, disaat publik (pemirsa) awalnya, hanya ingin melihat idolanya (Anang-Ashanti) menjalani prosesi ngunduh mantu. Karena, magnet figure itulah, kemudian publik mendapatkan pengetahuan mengenai kehebohannya, atau kemajuannya Jember sebagai sebuah daerah naik daun secara melesat.
Pada dasarnya, bukan kali ini saja, Jember terpublikasikan secara luas. Jember Fashion Carnaval jauh lebih lama, dan jauh lebih kuat lagi, sebagai bentuk pemasaran-daerah ini. Melalui kegiatan ini, JFC mampu mendongkrak Jember sebagai kota kreatif atau kota fashion. Sementara melalui acara ngunduh mantu ini, Jember potensial terbangun kembali citranya, sebagai sebuah kota budaya, kota peduli pada budaya local, atau kota yang respek dan aktif dalam menjaga kelestarian budaya.

Dalam konteks inilah, menurut saya, Pemerintah Daerah Kota Jember, jeli dan kreatif memanfaatkan public figure untuk dijadikan magnet-pemasarannya. Dengan kasus ini pula, walaupun menjadi berat tanggungjawab moralnya, tapi Anang-Ashanti akan diposisikan sebagai human brand-nya bagi masyarakat Jember. Setidaknya, selepas acara ngunduh mantu ini, kedua insane ini secara tidak langsung, akan membawa citrasebagai duta Jember, duta budaya jember, dan atau bagian dari masyarkat Jember itu sendiri.

Dalam konteks itulah, sekali lagi, perlu ditegaskan, apapun komentar kita, mengenai darimana biayanya, dan mengapa pemerintah daerah sampai terlibat jauh seperti ini, menurut saya,sebagai sebuah strategi pemasaran daerah, peristiwa ini menjadi penting dan menarik untuk diperhatikan.

Advertisements