Melihat, memikirkan dan atau membicarakan anak jalanan, belum juga tuntas. Atau, memang tidak akan tuntas atau tidak perlu dituntas. Sebagai bagian dari efek modernisasi kota, munculnya kelompok anak jalanan ini, banyak diartikan sebagai bagian penting atau bagian tak terpisahkan daripadanya. Kendati demikian, tetap saja, bahwa kita pun dituntut untuk terus melihat, memikirkan, dan/atau membicarakannya. Hal itu terjadi, karena di setiap hari kita hari ini, masalah itu, bukan saja dianggap sebagai masalah, tetapi bagian dari pertanggungjawaban negara dalam melindungi warga negaranya sendiri.

Dalam konteks ini, saya melihat, ada dua kecenderungan pola pikir kita memandang anak-anak jalanan ini. Pertama, ada yang memandang anak jalanan dengan misi mengubah kondisi atau status sosial. Istilah yang lebih kerennya, yaitu misi transformasi terhadap anak jalanan. Misi ini, memiliki target yang sangat jelas, yaitu mengubah kondisi dan status sosial anak jalanan.

Mereka yang memandang pentingnya transformasi ini, cenderung memosisikan dirinya sebagai pemilik masa depan. Sedangkan anak jalanan, diposisikan sebagai objek projek atau objek kegiatan. Anak jalanan diposisikan sebagai kelompok sosial yang dianggap bermasalah, dan harus diubah status sosial dan kondisi sosialnya, dengan cara mengubah, memindahkan, atau mengganti status sosialnya. Misalnya, mereka berusaha untuk mengubah status sebagai anak jalanan menjadi anak sekolahan !, atau mengubah status dari anak music jalanan menjadi anak sekolahan di kelas !

Ada kelemahan atau ada ruang penolakan dari anak jalanan terhadap misi transformasi seperti ini. Bagi anak jalanan, upaya seperti ini, diartikan sebagai sebuah upaya perubahan habit (kebiasaan). Selama ini anak jalanan sudah memiliki kebiasaan, dan kebiasaan itu yang membuat dirinya merasa nyaman. Hidup nyaman di jalanan. Walaupun mungkin, sebelumnya tidak diinginkan, tetapi mereka merasa bisa nyaman hidup di jalanan.

Meminjam teori Skinner, seorang psikolog, manusia cenderung mengulang sebuah tindakan, bila dirinya merasa kenikmatan dalam menjalaninya. Sebuah tindakan yang melahirkan sesuatu yang menguntungkan, cenderung akan di ulang. Ini artinya, tidak mungkin anak jalanan tidak merasa nyaman jadi anak jalanan, bila dia tidak merasa ada manfaatnya bagi dirinya. Karena ada sesuatu yang dia dapatkan dan dia rasakan, kemudian dia bisa bertahan (untuk tidak menyebut mempertahankan) status sosialnya sebagai anak jalanan.

Dengan asumsi seperti itu, maka mengubah anak jalanan menjadi anak sekolah atau dari anak music menjadi anak buku, akan mendapat tentangan (resistensi) yang sangat kuat dari anak jalanan itu sendiri. Ide transformasi status sosial, akan sulit diwujudkan.

Hal yang terpenting lagi, ide transformasi seperti ini, ditunggangi oleh kesadaran bahwa masa depan anak jalanan itu ada di benak pemiliki program. Pemilik program, apakah itu pemerintah atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), seolah pemilik masa depan anak jalanan. Melalui itu pula, dia terkesan memaksakan kehendaknya, atau misinya kepada anak jalanan itu.

Di bagian inilah, maka saya secara pribadi memandang bahwa pendekatan yang perlu dilakukan itu, bukanlah transformasi seperti itu. Di lihat dari ide dan konsepnya, bisa jadi bagus. Tetapi, dalam praktek atau operasionalnya, pendekatan itu kurang memposisikan anak jalanan sebagai manusia utuh, yang memiliki kehendak atau masa depannya sendiri.

Untuk mendampingi konsep itu, saya mengusulkan ide pemberdayaan status sosial anak jalanan. Ide pemberdayaan (empowering) ini, setidaknya diasumsikan bahwa anak jalanan adalah manusia utuh yang memiliki hak untuk mengendalikan diri dan mengembangkan kemampuannya.

Sebagaimana diketahui bersama, selama ini anak jalanan sudah memiliki kebiasaan (habitual), seperti cara hidup dan kompetensi hidup. Cara hidupnya adalah di jalanan atau di alam terbuka, dan kompetensi hidupnya pada umumnya adalah bermain music. Ini adalah karakter dasar yang perlu diperhatikan atau dicermati oleh semua pihak.

Sudah terbiasanya anak jalanan menjalani hidup di alam terbuka, merupakan asset sekaligus peluang baik untuk memberikan intervensi terhadapnya. Berbeda dengan ide transformasi yang harus mengubah status sosial anak jalanan dari status anak jalanan menjadi anak sekolahan, ide pemberdayaan itu lebih menekankan membangun kesadaran di jalanan dengan kesadaran belajar di jalanan.

Kesadaran belajar di jalanan ini, tidak mesti mengubah tempat dari jalanan ke dalam kelas. Hal itu tidak mesti kita lakukan. Aspek penting yang perlu kita lakukan itu adalah menambahkan cara hidup di jalanan, dari sekedar hidup di jalanan, dengan belajar hidup di jalanan.

Karakter ini relevan dengan prinsip sekolah alam (natural school). Anak jalanan tidak perlu dipindahkan dari jalanan ke dalam kelas. Lebih baik ruang belajar kelas dipindahkan ke jalanan. Anak jalanan tidak perlu digiring masuk ke dalam kelas, lebih baik guru dan perangkat belajar kelas di angkut ke jalanan. Dengan kata lain, kita perlu mengembangkan model sekolah alam di jalanan. Pendekatan inilah yang lebih menghargai posisi dan kebiasaan anak jalanan.

Pada aspek lain. kompetensi hidup anak jalanan itu adalah music.. Maka, intervenasi yang perlu dilakukan pun adalah mengembangkan kemampuan music anak jalanan, sehingga menjadi modal hidup yang lebih baik. Strategi ini, berbeda dengan mengubah kebiasaan dari hobi music harus dipaksa menjadi hobi baca buku pelajaran.

Nilai strategis dari pendekatan pemberdayaan ini, yaitu menghargai prestasi perjuangana hidup anak jalanan saat ini. Penghargaan ini, bermanfaat untuk membangkitkan keseriusan anak jalanan dalam memahami diri, memahami kemampuan, dan memahami rencana masa depan dirinya. Pendekatan seperti ini, dalam konteks sosiologi dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan sosial terhadap anak jalanan.

Sekali lagi, saya tidak memandang bahwa dua pendekatan ini sebagai pendekatan yang bertolak belakang. Setidaknya, spirit dari kedua pendekatan ini, bisa dipadukan dalam satu gerakan. Transformasi dan empowering itu adalah dua sisi mata uang, bisa digunakan secara bersamaan. Hal penting adalah perhatian konteks dan situasinya, sehingga program seperti ini, memiliki keefektifan yang tinggi dalam mencapai tujuan.

Advertisements