Saya mengajukan wacana, mungkinkah di jurusan science, seperti Jurusan Geografi, memasukkan mata kuliah pemasaran ilmu atau komunikasi ilmu (science communication atau science marketing) ? hal ini penting, supaya ilmu pengetahuan (science) itu tidak menjadi menara gading. Saya mohon maaf, jangan-jangan karena tidak ada mata kuliah komunikasi ilmu pengetahuan (science communication), sehingga minim sekali ilmuwan, akademisi atau guru yang mempublikasikan tulisannnya kepada masyarakat di media massa.

Suatu hari, saya kedatangan seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung (UNPAD). Dia adalah mahasiswa jurusan Sejarah UNPAD, yang sedang duduk di semester 7 (tujuh). Menurut penuturannya, saat ini dia tengah menyusun skripsi dengan tema sejarah pengobatan alternatif di Kota Bandung, sebuah studi yang berkarakterkan pada sejarah lokal. Di lihat dari semangatnya, saya sangat salut. Dari kampusnya, menuju sekolah tempat kerja, hanya sekedar ingin menelusuri hasil penelitianku di masa kuliah dulu di Kampus UNPAD. Dia dapatkan informasi itu, karena membaca bukuku, yang berjudul Sosiologi Untuk Kesehatan yang diterbitkan Medika Salemba Jakarta. Buku ini, pertama kali diterbitkan tahun 2008, dan kini sudah mengalami tiga kali cetak ulang.

Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2006-2007, saya melakukan riset mengenai pengobatan alternatif di Kota Bandung. Sudut pandang yang dilakukan atau dikembangkan, yaitu perspektif sosiologis, karena memang konsentrasi kajianya adalah Sosiologi-Antropologi. Walaupun demikian, secara subjektif saya merasakan sekali, bahwa kerangka pikir yang digunakan waktu itu, adalah geografi perilaku, atau setidaknya yaitu menggunakan kerangka pikir sosiologi dengan spirit geografi, sehingga hasilnya yaitu bernalarkan geografi manusia (human geography) atau geografi perilaku (behavioral geography). Mengapa demikian ?

Pertama, fokus kajian waktu itu adalah praktek pengambilan keputusan masyarakat, khususnya dalam menetapkan keputusan untuk menggunakan pelayanan pengobatan tradisional. Kedua, setting lokasi yang digunakan yaitu Kota Bandung. Dalam latar belakang penelitian ini, dikemukakan mengenai keunikan lokasi. Bila melihat, mendengar atau membicarakan maraknya pengobatan alternatif di masyarakat desa, mungkin orang akan memandang wajar, karena secara sosiologi masyarakat desa masih dianggap sebagai masyarakat sederhana atau primer (dalam antropologi sering disebut primitive) atau tradisional. Sementara, bila kita bicara pengobatan alternatif di tengah kota yang modern, seperti Bandung, sebuah kota yang sarat dengan teknologi kedokteran canggih, maka hal itu menjadi menarik. Kemenarikannya itu, yaitu terkait aspek ketiga, persepsi individu mengenai diri dan lingkungannya. Dengan kata lain, Bandung sebagai lokasi penelitian merupakan konteks keruangan penelitian. Karena itulah, masalah yang diajukan waktu itu, saya menganggapnya sebagai bagian dari kajian geografi perilaku. Atau dalam istilah lain, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, yaitu melakukan penelitian dengan menggunakan kerangka pikir sosiologi dengan spirit geografi.

Ide dan pemikiran seperti ini, sudah dikemukakan 5 (lima) tahun lalu. Tetapi, memang, sampai saat ini, belum banyak isi dari karya itu yang terpublikasikan. Hanya sedikit, dan itu pun kurang dari 3 halaman yang dicantumkan dalam Sosiologi Untuk Kesehatan. Hingga, pada hari selasa lalu, tanggal 17 Juni 2012, saya menghadiri launching buku Geografi Perilaku, karya Prof. Ahman Sya, karya tulis yang diselesaikan di Kampus UNPAD itu teringat lagi.

Ingatan terhadap buku ini, bukan saja karena ada launching buku yang ditulis oleh senior di organisasi profesi ini. Tetapi, juga diperkuat oleh kehadiran mahasiswa jurusan Sejarah UNPAD. Dia sudah membaca Sosiologi Untuk Kesehatan, dan kemudian tertarik dengan tesis yang pernah ditulisku lima tahun silam.

Hal penting yang perlu dikemukakan di sini, yakni ide yang pernah kita tuliskan, atau kita kemukakan itu, bila terdokumentasikan dengan baik, bukan mustahil di waktu lain akan ada yang memperhatikannya. Hal itu saya alami saat ini. Kendati sudah lima tahun lamanya, ternyata karya tulis itu mengundang penasaran anak muda untuk mengkaji ulang. Peristiwa ini penting. Penting untuk dicatat.

Pengalaman itu pun, menjadi bahan renungan sekaligus koreksi terhadap diri sendiri, dan atau lembaga pendidikan. Dari pengalaman itu, menuntun kita untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa publikasi karya ilmiah itu penting. Sampai saat ini, kita melihat bahwa hasil penelitian mahasiswa, baik di tingkat sarjana, pascasarjana maupun doktoral itu masih sedikit yang terpublikasikan. Kita bersyukur, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, mewajibkan perguruan tinggi untuk mempublikasikan karya tulis yang dihasilkannya lembaganya. Tujuan utama, yang tersampaikan kepada masyarakat, yaitu menghapus mental plagiasi.

Dibalik tujuan itu, ada nilai penting yang sering dilupakan oleh kalangan akademisi Kampus, yakni mengkomunikasikan ilmu pengetahuan atau mempublikasikan ilmu. Seperti contoh, bila kita datang ke jurusan pendidikan Geografi UPI, kita akan menemukan puluhan bahkan ratusan skripsi, begitu pula tesis dan disertasi. Karya ilmiah itu, adalah produk pemikiran civitas akademik jurusan Geografi, baik yang dituntaskan di almamaterya atau ketika kuliah di perguruan tinggi lainnya.

Bila kita mengingat strata keilmuan sahabat kita di kelas masa lalu saja, ini sekedar contoh kasar, sudah pasti karya ilmiah itu banyak yang berkualitas baik. Misalnya, yaitu karya ilmiah yang dihasilkan oleh sahabat kita yang dulu dianggap cerdas di kelas kita. Mengenai karya ilmiah mereka itu, saya malah menyangsikan, berapa orang yang sudah baca tulisannya itu ? dugaan sementara, jangan-jangan yang pernah baca itu, hanya pembimbing dan pengujinya saja. Bahkan, di si pemiliknya dokumennya kini sudah tiada berarsip. Karena memang dulunya pun dia tidak mengarsipkannya.

Dari pengalaman itu, saya melihat bahwa adalah penting, untuk melakukan komunikasi atau memasarkan ilmu (science communition atau science marketing). Hal itu dilakukan dengan maksud, supaya masyarakat mengetahui hasil karya atau karya intelektual lembaga pendidikan. Ratuan atau malah ribuan karya ilmiah itu, perlu dipublikasikan, dengan maksud supaya masyarakat mendapatkan manfaatnya. Karena, bukankah di bab pendahuluan karya tulis itu sering tertulis manfaat penelitian bagi masyarakat ? bila tidak dipublikasikan atau tidak dikomunikasikan kepada masyarakat, bagaimana mungkin rencana-awal penulisan karya ilmiah itu dapat diwujudkan ?

Lebih tegasnya lagi, saya mengajukan wacana, mungkinkah di jurusan science, seperti pada Jurusan Pendidikan Geografi UPI, memasukkan mata kuliah pemasaran ilmu atau komunikasi ilmu (science communication atau science marketing) ? hal paling strategis lagi, ilmuwan yang sekedar duduk manis di bangku riset, dan tidak pernah mempublikasikan temuannya, hanya akan menyebabkan ilmu pengetahuan (science) itu menjadi menara gading. Secara tidak langsung, sikap itu seperti selain membunuh ilmu (tidak mengembangkan ilmu), juga memosisikan ilmu sekedar milik sendiri. Saya mohon maaf, jangan-jangan karena tidak ada mata kuliah komunikasi ilmu pengetahuan (science communication), sehingga minim sekali ilmuwan, akademisi atau guru yang mempublikasikan tulisannnya kepada masyarakat di media massa.

Advertisements