Bila kita mengacu pada informasi itu, dan atau bila informasi yang tertuang dalam situs itu, sebagaimana yang dituturkan Fanny Bauty adalah benar, maka kisah perjalanan cinta segitiga antara Wiwin, Rumedi dan Fanny, akan menunjukkan hal yang terkait persepsi individu mengenai lingkungannya.

Di pertengahan bulan Juni 2012 ini, infoteinment diramaikan dengan kasus yang menimpa artis senior Fanny Bauty. Sejak Fanny Bauty mengaku terkait pernikahan keduanya yang berlangsung diam-diam dengan Romedi, kini masalah keluarganya itu malah ramai dibicarakan kembali. Kasus rumah tangga artis senior ini, berakhir dengan perceraian. Rupanya, pilihan itu pun tak berakhir begitu saja, bahkan kabar seputar merebut suami orang lain pun bergulir begitu cepat. Kini Fanny tak segan untuk berbagi kisah perjalanan rumah tangganya bersama Romeidi. Sampai ketidaknyamanan pun dia rasakan semenjak menikahi pria asal Indonesia yang bekerja di kedutaan Burkina Faso (Afrika Selatan) untuk wilayah Amerika Serikat itu.

Apa yeng menarik dari kasus yang dialami Fanny Bauty dengan suaminya, Rumedi ? untuk mengawali tulisan ini, kiranya kita dapat mengutip berita yang diterakan dalam situs Yahoo.com.

Rumedi menikahi Fanny Bauty pada 10 0ktober 2010, di mana saat itu masih dalam proses menggugat cerai istrinya, Wiwin. Namun hukum Amerika membenarkan jika permintaan pisah sudah disetujui maka baik pria maupun wanita bebas mempunyai hubungan dengan pria atau wanita lain.

“Rumedi sudah mengajukan pisah sejak Oktober 2009, sedangkan Wiwin mengajukan permintaan pisah Januari 2010. Surat gugatan cerai baru bisa diproses setelah setahun pisah rumah. Kalau gugatan sudah masuk nggak masalah punya pasangan lain, nggak masalah. Gugatannya di Pengadilan Washington DC,” papar Fanny Bauty di kediamannya, di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Kamis (14/6).

“Saya menikah Oktober 2010. Sampai sekarang mereka memang belum resmi bercerai, karena di Amerika proses untuk mendapatkan surat resmi cerai 3-5 tahun. Yang penting sayanya sudah bercerai,” ujarnya.

Dalam pemberitaan itu, tercitrakan bahwa Fanny menikah dengan Rumedi yang sedang dalam proses perceraian. Dalam perjalanan selanjutnya, malahan Fanny sudah dinyatakan resmi bercerai dengan Rumedi, disaat Wiwin-Rumedi belum resmi bercerai juga. Dengan kata lain, Fanny menikah dan cerai di masa Rumedi-Wiwin menjalani proses perceraian.

Kasus yang dialami Fanny Bauty, adalah kasus yang secara tidak sadar banyak dilakukan oleh masyarakat saat ini. Mereka melakukan itu, tanpa sadar, atau tanpa memperhatikan aspek keruangannya sendiri. Padahal, persepsi kita, apapun objek masalahnya, tidak boleh dilepaskan dari ruang tempat tinggal kita hadir. Bila hal ini diabaikan, maka perilaku yang akan muncul, adalah kesenjangan geografi.

Bila kita mengacu pada informasi itu, dan atau bila informasi yang tertuang dalam situs itu, sebagaimana yang dituturkan Fanny Bauty adalah benar, maka kisah perjalanan cinta segitiga antara Wiwin, Rumedi dan Fanny, akan menunjukkan hal yang terkait persepsi individu mengenai lingkungannya.

Pertama, Rumedi menikahi Fanny Bauty pada 10 0ktober 2010, di mana saat itu masih dalam proses menggugat cerai istrinya, Wiwin. Namun hukum Amerika membenarkan jika permintaan pisah sudah disetujui maka baik pria maupun wanita bebas mempunyai hubungan dengan pria atau wanita lain.. Ini fakta pertama. Fakta yang menunjukkan bahwa dalam ruang-keamerikaan, orang yang sudah mengajukan permintaan pisah, dianggap memiliki kebebasan untuk mempunyai hubungan dengan pria atau wanita lain.

Fakta ini penting, dan perlu dicatat. Karena fakta ini, selain unik, juga memiliki karakter yang berbeda dengan pengakuan norma atau hukum yang berlaku di Indonesia. Pengakuan norma, baik secara adat maupun legal seperti itu, adalah nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat, dan itu erat kaitannya dengan ruang-tempat tinggal individu terkait. Salah satunya adalah mengikat kepada Rumedi, yang tinggal di Amerika Serikat.

Pada sisi lain, dan ini adalah fakta kedua, hukum dan norma di Indonesia tidak sama dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Indonesia, pengajuan minta pisah, bukan berarti pisah, dan belum diijinkan untuk mencari pengganti. Pencarian pengganti, hanya syah secara norma bila sudah berpisah secara resmi, yaitu ditetapkan oleh pengadilan agama. Terlebih lagi, bila dikaitkan dengan masalah agama, khususnya Islam. Maka rencana si individu untuk menikah lagi, haruslah sudah selesai massa iddah (masa menunggu selepas perceraian). Sebelum masa iddah habis, tidak diperkenankan untuk menikah lagi.

Dua aturan yang ada ini, yaitu norma agama dan hukum positif Indonesia, memiliki aturan yang berbeda dengan apa yang berlaku di Indonesia. Jangankan menikah di masa-masa pisah ranjang, untuk sekedar mencari pasangan selepas cerai (misalnya satu hari setelah cerai), akan menjadi bahan pembicaraan buruk di masyarakat. Bagi masyarakat kita, mencari jodoh atau menikah setelah baru cerai, akan membuat citra buruk dirinya ditengah masyarakat.

Perbedaan itu, menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat memiliki karakter yang berbeda. Setiap lingkungan, baik dalam pengertian lingkungana fisk maupun sosial, memiliki keunikan, kekhususan, dan hak untuk dihormati oleh para penghuninya.

Kealpaan kita memahami masalah ini, merupakan penyebab awal terjadinya konflik, baik dalam pengertian konflik diri, konflik keluarga maupun masyarakat. Seperti yang dialami, Fanny Bauty dan Wiwin. Dua aktor (pelaku) itu, menggunakan perspektif yang berbeda mengenai satu peristiwa (perkawinan RumedyBauty). Satu pihak memandang merebut suami, dan pihak lain memandang tidak merebutnya, karena itu sudah syah dan dibolehkan oleh norma yang ada. Sayangnya, pemahaman itu adalah persepsi yang senjang.

Saya ingin menyebutnya, persepsi kedua pelaku itu adalah contoh dari perilaku yang senjang, lebih tepatnya lagi yaitu mengalami kesenjangan geografi (geographical gap). Persepsi lingkungan yang dimilikinya, digunakan dalam konteks yang berbeda. Satu pihak menggunakan persepsi lokal untuk mewujudkan kepentingan dirinya, dan sisi lain yaitu mengoreksi sikap orang lain dengan persepsi lingkunagn yang dimilikinya sendiri. Padahal, persepsi kita tentang lingkungan Amerika Serikat berbeda dengan lingkungan Indonesia.

Advertisements