Analisis ini dapat dipertajam lagi, dengan cara melihat karakter dari sudut objek formal geografi. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, kita dapat mengatakan bahwa geografi tidak berkaitan langsung mempelajari material-material keilmuan yang dipelajari pada struktur ilmu itu sendiri. Geografi bukan mempelajari map info, teknologi GPS, hewan, tumbuhan, gunung, dan sebagainya. Geografi bukan mempelajari hal-hal itu. Tetapi, hal-hal itu, penting dalam memahami geografi. Logika sederhananya, Bandung ada di Indonesia, bukan Indonesia ada di Bandung. Bandung adalah Indonesia, tetapi Indonesia bukanlah Bandung. Demikianlah kita harus proporsional dalam memahami hakiket dari geografi.

Saya menyandarkan pemikiran pada pemikirannnya Immanuel Kant (1724-1804), yang menegaskan bahwa ilmu itu dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, ilmu pengetahuan yang menggolongkan fakta berdasarkan materialnya, seperti fisika, biologi dan geologi. Kedua, ilmu pengetahuan yang menggolongkan fakta berkaitan dengan waktu, misalnya sejarah. Ketiga, ilmu pengetahuan yang menggolongkan fakta berkaitan dengan ruang. Itulah yang disebut geografi.

Walaupun, pandangan Immanuel Kant ini bukan satu-satunya, dan tidak mencakup seluruh ilmu yang berkembang saat ini, namun pemikiran Kant ini penting untuk diungkap ulang. Pemikiran ini, secara jelas melihat mengenai perbedaan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lainnya.

Bahkan dengan pemilahan kategori disiplin ilmu seperti Kant ini, kita dapat membedakan orang yang belajar hewan, dan gunung, dengan belajar geografi.

Dengan mengacu pandangan Immanuel Kant itu, kita dapat mengatakan biologi mempelajari hewan sebagai fakta material yang mandiri, tersendiri dan terpisah (partial). Kemudian, paleoantologi ilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di bumi termasuk hewan dan tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil. Sedangkan, geografi mempelajari hewan kaitanya dengan tempat atau ruang. Dimana dan mengapa penyebarannya di lokasi tersebut ? itulah pendekatan geografi.

Pemikiran ini kemudian diaktualisir oleh pemikir geografi modern dengan menyebutkan perspektifnya. Pada Seminar dan lokakarya yang dilaksanakan di Jurusan Geografi, FKIP, IKIP Semarang kerjasama dengan IGI tahun 1988 telah menghasilkan rumusan definisi: Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. Ketiga konsep itu (sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan), pada dasarnya merupakan sebuah penerjemahan rinci terhadap konsep Immanuel Kant.

Bagi kita saat ini, hal ini menunjukkan bahwa geografi itu, baik belajar hewan, tumbuhan, maupun manusia, pada dasarnya tidak belajar hewan (tok !), atau evolusi hewan (karena ini sejarah), tetapi keanekaragaman atau keberadaan hewan di ruang tinggalnya sendiri. Itulah yang disebut geografi. Dan itulah yang disebut kontekstual.

Dengan demikian, dalam analisis ini, saya ingin menegaskan bahwa geografi itu adalah ilmu kontekstual. Apapun material yang dikajinya, tetap harus diposisikan dalam konteksnya sendiri, yaitu konteks keruangan.

Advertisements