Dalam perjalanan ini, kita dipaksa harus mengubah persepsi kita mengenai geografi. Andaipun tidak mau disebut dipaksa, terpaksa harus mengubah persepsi. Bila istilah ini pun, kita tidak merasa nyaman, kita dapat mengatakannya bahwa kita perlu berupaya untuk mengubah persepsi karena kita menemukan informasi yang sebelumnya belum diketahui, sebelumnya belum dipahami. Karena pada saat ini, kita melihat ada sesuatu yang baru, mengenai apa itu geografi. Hal inilah yang saya rasakan selama ini.

Bila membaca buku-buku geografi yang ada di pasaran, khususnya yang ada di lingkungan pendidikan dasar dan menengah, kerap disajikan informasi bahwa objek material geografi itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan manusia. Diantara aspek geografi yang termasuk pada masalah fisik, yaitu air, gunung, lautan, dan hutan dan sungai. Sedangkan yang termasuk pada aspek manusia, meliputi pemukiman, transportasi, kependudukan atau pendidikan. Perjalanan berikutnya, dari pemahaman ini, kemudian mengembang menjadi kesadaran bahwa geografi itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu geografi fisik, dan geografi manusia.

Pada kajian studi geografi, pembagian seperti ini, sudah disebut sebagai pembagian geografi klasik, atau tradisional. Sedangkan dalam pembagian geografi secara modern, sudah memunculkan aspek di luar kedua aspek material geografi, yaitu memunculnya aspek lingkungan. Sehingga kemudian muncul geografi regional, disamping geografi fisik dan manusia.

Sekali lagi perlu ditegaskan. Di masa lalu, saya merasakan bahwa pembagian objek material geografi seperti ini (fisik-sosial), dianggapnya hanya sekedar permainan kata-kata belaka. Baru tersadarkan, saat ini, disaat saya membaca sebuah artikel me and my geography. Entah siapa penulisnya, namun melalui artikel yang dikemas dalam bentuk power point (ppt), menyentakkan pikiran, karena dalam salah satu filenya menyertakan mengenai tipe ide dasar mengenai geografi. Pada slide tersebut, tertuliskan bahwa geografi itu terbentuk dari tiga dasar informasi material, yaitu fisik, manusia dan lingkungan (physical, human and environmental).

Slide ini pun, pada dasarnya tidak menuntaskan pertanyaan. Karena dengan pembagian seperti itu (physical, human and environmental), tetap juga mengundang pertanyaan. Apa bedanya, objek material manusia saat dipelajari geografi, dan pada saat dipelajari oleh antropologi, biologi dan atau kedokteran ?

Manusia secara fisik dipelajari oleh antropobiologi, biologi dan kedokteran, sedangkan secara sosial-budaya, dipelajari oleh antropologi budaya. Kemudian, di lihat dari sisi jumlah, dikajinya oleh demografi. Dengan demikian, geografi mempelajari manusia dari sisi mana ?

Begitu pula dengan gunung api. Bila mempelajari proses vulkanisme, maka vulkanologi lebih berperan aktif, sedangkan bila dilihat dari sisi pengaruh vulkanisme terhadap lingkungan, kajian kesehatan lingkungan lebih terasa dominan. Kemudian geografi mempelajari aspek apanya ?

Sebagaimana sering saya kemukakan, batu, bata, kaca, kayu, bila dikumpulkan sampai menggunung, tidak bisa disebut sebagai bentuk rumah. Karena rumah itu, bukanlah tumpukan bahan bangunan. Demikian pula geografi. Informasi mengenai hewan, tumbuhan, gunung, sungai, laut, manusia, danau dan sebagainya. Semua itu bukanlah rumah, itu semua adalah bahan-bahan untuk membentuk sebuah pengetahuan yang disebut rumah geografi. Dengan demikian, apa yang disebut geografi itu ? atau, untuk sementara ini, kita ajukan pertanyaan yang sederhananya, apa yang dipelajari geografi tersebut ? Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya mencoba untuk menarik satu kesimpulan sementara (tentative), mengenai makna dasar geografi.

Pertama, geografi mempelajari pola interaksi keruangan. Dengan kata lain, dalam mempelajari manusia itu, geografi mempelajari pola interaksi manusia dengan ruang hidupnya sendiri. Kita tidak belajar mengenai warna manusia, jumlah penduduknya, tetapi mempelajari anekaragam manusia kaitannya dengan ruang atau tempat tinggalnya itu sendiri. Membicarakan sungai saja (an sich !) belum menjadi geografi. Membicarakan sungai menjadi kajian geografi, bila kemudian dikaitkan dengan konteks keruangannya.

Kedua, kelanjutan dari itu, maka akan melahirkan pola-pola wilayah hasil dari interaksi keruangan. sebagai produk interaksi manusia dengan lingkungannya, kemudian akan membentuk pola wilayahnya. ini merupakan bentuk dari artefak-geografiknya. Membicarakan sungai saja tidak menjadi kajian geografi, sementara masalah sungai akan menjadi kajian geografi bila dikaitkan pola wilayah sekitar sungai tersebut.

Ketiga, pada tahapan mentifactnya, yaitu melakukan analisis terhadap perbedaan pola-pola wilayah hasil interaksi antar manusia dengan ruang. Aktivitas ini, sudah bukan lagi melihat fakta saja, melainkan sudah memasuki tahapan analisis dan kritis terhadap fakta-fakta geografi. Di sini, kita bisa melakukan pembagian perspektif analisisnya, misalnya menjadi geografi kritis, geografi perilaku, atau perspektif-perspektif geografi yang lainnya.

Dengan kesadaran ini, saya melihat bahwa geografi memang bisa dibedakan dari disiplin ilmu lain, dan sudah mampu kukuh sebagai sebuah disiplin ilmu mandiri. Tidak mesti ragu, dan tidak mesti gamang dengan kritikan yang ada. Persoalannya, yang kadang sering muncul, sebagai pelaku di lapangan, kita belum mampu memahami hakikat geografi dimaksud. Inilah persoalan kita saat ini.

Apakah dengan demikian, saya mendukung istilah geografi regional ? saya, secara pribadi ingin mengatakan, tanpa menyebut regional pun, geografi itu ansich sudah regional. Karena geografi adalah regional, atau wilayah atau spasial !

Advertisements