Dari awal halaman, sampai pada beberapa halaman terakhir, kita diajak untuk melakukan koreksi diri (muhasabah). Sejauhmana kesiapan kita, bila akan bertemu dengan kekasih kita. Apakah harus nangis, ataukah harus tertawa. Bagi mereka yang merasa faqir atau merasa tidak pantas bertemu dengan-Nya, maka panggilan untuk bertemunya itu akan menjadi sesuatu yang menegangkan. Tak jarang membuatnya menangis. Sebagaimana yang dialami, atau dirasakan oleh Abu Nawas dalam syari al-itiraf (pengakuan dosa).

Ilahi lastulil firdausi ahla, wala aqwa ala naaril jahimi, fahabli taubatan wagfir dzunubi, fainnaka gofirun dzanbi adzhimi. Wahai Tuhanku, aku bukan ahli syurga, tapi ku tak sanggup menahan siksa neraka. Berikat aku taubat, dan ampuni dosaku. Sungguh engkau, maha pengampun dosa.

Naskah ini sangat populer. Di masjid-masjid kampung, nasyid ini biasanya dilantunkan menjelang shalat wajib, atau sambil menunggu shalat wajib dilaksanakan. Dalam bahasa masyarakat kampung, disebutnya pupujian. Ini adalah tradisi masyarakat. Bagi kelompok tertentu, ada yang menganggapnya sebagai bidah, karena masjid itu bukan gereja katanya. Oleh karena itu, tidak boleh ada nyanyi-nyanyian. Tetapi uniknya, tradisi pupujian itu sudah tumbuh-kembang di kampung sejak dulu. Sehingga, saya menganggapnya, sebagai sebuah tradisi, dan memang tradisi masyarakat bukan ajaran agama. Karena sebagai sebuah tradisi, saya menganggapnya bahwa kegiatan pupujian itu, bisa di laksanakan dan bisa pula ditinggalkan. Bergantung situasi dan kondisi semata.

Tapi, saya merasakan bahwa untuk menemukan naskah aslinya yang lengkapnya nasyid tersebut dan siapa yang menggubahnya, amat sedikit yang paham. Padahal, penulis nasyid tersebut pun adalah Abu Nawas (Abu Nuwas).

Menyebut nama Abu Nawas pun, banyak orang pula yang tahu. Walaupun tidak mengetahui lebih detil mengenai profil orang itu. Saya sendiri, masih menganggap bahwa Abu Nawas itu lebih sebagai seorang nakal, kocak, jenaka, atau penggubah syair-syair lucu. Sayangnya, persepsi seperti ini, merupakan pemahaman yang tidak utuh mengenai Abu Nawas. Karena ternyata, menurut Ahmad Ibnu Nizar, Abu Nawas adalah penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, dan pengkhayal ulung.[1]

Sementara di lain pihak, ada juga yang mengajak kita untuk menghadapi pertemua dengan kekasih (Allah Swt), atau kematian dengan senyum. Senyum sebagai tanda keikhlasan, dan kepatuhan terhadap hukum Allah Swt. Kendati, sakaratul maut itu lebih sakit dari pada disayat-sayat, namun keikhlasan kita dalam menghadapi kematian ini menjadi penting. Keikhlasan yang dimaksudkan itu, sebagai wujud dari sikap roja (rasa harap) terhadap sikap rahman-rahim Tuhan, dan ampunan ilahi. Namun, Ahmad Ibnu Nizar mengingatkan, jangan sampai kita tertipu. Berharap boleh, tetapi jangan tertipu oleh khayalan. Karena harapan akan tumbuh tanaman berbuah itu menjadi realistis, bila kita sudah menanamkan benih.

Memperhatikan tulisan-tulisan yang dikemukakan dalam buku ini, saya merasakan bahwa Abu Nawas itu merupakan figur ulama Islam yang unik dan hebat. Keunikan dan kehebatan itu, dapat diidentifikasi dalam beberapa hal.

Pertama, Abu Nawas adalah salah satu figur penyair Istana (syairul bilad). Kendati ada di pusat lingkaran kekuasaan, ada dalam istana, namun Abu Nawas masih tetap mampu mengeluarkan ide-ide orisinilnya, dan bisa hidup tanpa terhadap ruang-waktu. Ide dan pemikirannya, kini masih bisa dinikmati leh masyarakat kita saat ini. Padahal, beliau itu hidup di abad VIII (757 M/140 H), di zaman Harun Al -Rasyid.

Bila dikaitkan dengan konteks hari ini, seringkali kita melihat bahwa ilmuwan atau ulama yang masuk ke lingkaran kekuasaan, nalar akademiknya kerapkali tumpul. Di saat dia menjadi bagian dari kekuasaan, intelektualitasnya malahan beku dan tumpul. Malahan, penguasa yang semula dia sering kritik, setelah ilmuwan itu diangkat jadi bagian dari kekuasaan, malah bermasalah dari penguasa yang dulu dikritiknya.

Kedua, Abu Nawas atau Al-Hasan bin Hani, yang lahir di desa Sauuq al-Ahwaz di kawasan Kurdistan, sebelah barat laut Baghdad, adalah ilmuwan yang mampu mengartikulasikan pemikiran dan spiritualitasnya dalam bentuk tuturan yang bernilai seni tinggi. Syair atau leluconnya, memiliki nilai seni yang tinggi. Kendati di kenal sebagai tokoh jenaka, dan kritis, namun dalam pandangan Ahmad Ibnu Nizar (2011:40), syair-syair Abu Nawas mengandung nilai spiritual.

Kala itu kan ditanya, mengenai amal kita//dengan apa beralasan, apa pula jawabannya// pembelian apa jua, pada hari perhitungan// kala kita dihadapkan, hisab untuk pertanggungan// hanya dua kemungkinan, celaka dan bahagia// kutemukan semaunya, kala catatan di buka// akhirnya aku temukan, kepada dua pilihan// abadi di nikmat surga, mungkin kekal di neraka

Dalam syair itu, Abu Nawas memberika sebuah peta perjalanan bagi manusia. inti persoalannya pun, sangat sederhana, siapkan kita menghadapi hari perhitungan (yaumil hisab). Abu Nawas adalah ilmuwan agama, namun mampu mengartikulasikan pemahaman agamanya dalam bentuk prosa. Penelaahan ini pula, kita sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa inilah salah satu kekayaan sastra profetik yang kini menjadi kekayaan peradaban Islam.

Ketiga, melanjutkan pemikiran kedua tadi, saya ingin mengatakan bahwa Abu Nawas telah mampu melewati batas-batas fiqh dan batas-batas geografik. Ajaran keagamaannya, yang terkemas dalam syair cerdas itu, mampu menembus masyarakat, tanpa harus merasa tersalahkan. Syairnya, dan juga lelucoannya yang lain, malahan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk merenungkan (tafakkur) terhadap makna sejati dari syair di maksud.


[1] Ahmad Ibnu Nizar. 2011. Celupkan Hatimu ke Samudera Rindunya. Jogjakarta : Pustaka Pesantren.

Advertisements