Dalam pemahaman kita selama ini, syetan kerap kali diposisikan sebagai makhluk yang jahat, jelek dan durhaka kepada Tuhan. Bahkan, khusus di Indonesia, citra syetan itu kemudian divisualisasikan dalam berbagai film dan sinetron. Film-film yang konon dimaksudkan untuk kepentingan pembinaan nilai-nilai spiritual, seperti Kuntilanak, dan Sundelbolong menggenapkan acara lainnya, yang dikemas seolah-olah reality show. Acara Dunia Lain, Pemburu Hantu, Uji Nyali, Uka-Uka, Gentayangan dan Ekspedisi Alam Gaib, adalah beberapa contoh acara hiburan (intertainment) yang dikemas seolah reality show mengenai makhluk halus.


Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa acara-acara tersebut, kian memperkokoh persepsi manusia mengenai citra syetan. Dari berbagai hal tadi, syetan masih tetap diposisikan sebagai makhluk jahat, durhaka, dan buruk rupa. Citra seperti ini, terus hadir di masyarakat, dan malahan kita kuat. Terlebih lagi, kalau sudah ada kejadian kesurupan masal pada sebuah sekolah, maka yang yang tertuduh pun adalah syetan.

Namun demikiran, persepsi kita akan sedikit berubah, setidaknya mendapatkan wawasan baru, bila kita menyempatkan diri membaca buku karya pena Aang Eftha (2011), yang berjudul Akulah Setan, Anda Siapa ? sebuah pledoi syetan atas citra kesesatannya[1]. Buku ini menggunakan perspekstif Syetan sebagai orang pertama, dan pembaca sebagai orang kedua. Aang Eftha sudah mampu menghadirkan syetan dihadapan pembaca, dan berkesempatan untuk mengemukakan pembelaannya terhadap berbagai citra kesesatannya selama ini.

Salah satu pengakuan Syetan, saat dikonfirmasi mengenai vonis yang dikeluarkan Tuhan kepadanya, dengan hukuman dikeluarkan dari Syurga, ternyata Syetan tidak merasa menyesal. Menurutnya, nasi sudah menjadi bubur, dan tidak perlu lagi menyesali nasib (2011:17). Bahkan, syetan pun menduga, nasibnya itu adalah sebuah skenario alam untuk sebuah permainan, yang disebutnya panggung sandiwara dunia.

Hal menarik lagi, dengan mencermati buku karya Aang Efha ini, kita bisa menemukan informasi bawha ternyata syetan merasa bosan dengan wujud syetan yang selama ini disandangnya. Karena kebosanannya itu, saya menyebutnya, syetan terus melakukan transformasi, dari wujud syetan generasi awal, menjadi syetan generasi kedua, dan kini adalah syetan generasi akhir. Syetan generasi awal, adalah makhluk halus yang hidup di syurga. Wujud dan rupanya kita tidak paham. Tetapi syetan ini adalah syetan dalam pengertian, salah satu makhluk yang hadir dalam persidangan terakhir, saat pelantikan Adam sebagai khalifah Allah di muka bumi (khalifatullahi fil ardhi).

Syetan pada generasi kedua, adalah syetan dalam bentuk makhluk yang dicitrakan sebagai makhluk jahat. Kuntil anak, Genderuwo, dan Sundel Bolong adalah beberapa citra dari wujud syetan generasi kedua. Syetan pada tahapan ini, dipersepsi sebagai makhluk menakutkan, dan menjadi sesuatu yang harus dihindari oleh manusia.

Generasi ketiga, yaitu syetan dalam bentuk benda alam. Ada yang berupa keris, batu, gunung, baju, atau makanan. Syetan-syetan dalam bentuk ini, adalah makhluk yang kemudian memberikan pengaruh buruk pada perilaku manusia. manusia pada umumnya, tidak sadar, bahwa di balik benda-benda alam itu, hadir syetan yang kemudian membiaskan kesadaran dan penalaran manusia.

Terakhir, yaitu syetan dalam bentuk makhlus halus duniawi. Makhluk ini berbeda dengan makhluk halus surgawi masa lalu. Karena, makhluk halus duniawi ini, hadir dalam bentuk kepentingan pribadi, persepsi buruk (prasangka), hawa nafsu, keserakahan, ketidakpedulian, dan kekejaman. Perilaku agresi manusia, dan juga maraknya korupsi, adalah bentuk nyata dari susupan spirit syetan dalam diri manusia.

Kendati demikian, dengan penjelasan yang baru saja kita kemukakan, kita pun ternyata terjebak pula pada pencitraan syetan secara negatif. Kita belum mampu memberikan nilai positif terhadap kehadiran syetan. Padahal, menurut pengakuan syetan, kemuliaan manusia itu, karena dia mampu menghadapi tantangan. Sementara, sejumlah tantangan itu, muncul dan berkembang karena kehadiran syetan. Dengan kata lain, harus diakui bahwa, dengan adanya syetan itu manusia mampu secara aktif dan dinamis untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri, sehingga menjadi makhluk mulia di sisi Allah Swt.

Bagi kita sendiri, anak judul (subjudul) mengenai pledoi syetan itu sendiri, rasanya memang belum terskplorasi secara maksimal. Misalnya saja, alasan mengenai pembangkangan terhadap perintah Tuhan, masih berkiblat pada tafsir umum kalangan teolog. Belum tereksplorasi dari sudut pandang syetan itu sendiri. Sebagai wacana dan pengembangan kearifan kita dalam memahami persepsi syetan terhadap mengenai dirinya, buku ini memang menarik untuk dijadika bacaan kita.


[1] Aang Eftha. 2011. Akulah Setan, Anda Siapa ? Pledoi Setan atas Citra Kesesatannya. Jogjakarta : Pustaka Pesantren.

Advertisements