Wacana ini, mengkaji mengenai geography for all, dan all for geography. Pada intinya, ingin menjelaskan bahwa hidup nyaman di planet bumi ini, mensaratkan kita memiliki pengetahuan geografi, dan semua apa yang kita lakukan, harus diorientasikan untuk menjaga kelestarian lingkungan-geografi. karena, kelestarian lingkungan -geografik itu adalah kelestarian kita juga.

Memadukan pemikiran dari Standar Geografi Nasional Amerika Serikat (National Geography Standar/NGS) dengan pemikiran Spellman, mengantarkan kita pada pemikiran konseptual tentang geography for all. Geografi untuk kehidupan itu, dimaksudkan bahwa geografi itu bisa dipelajari, dan digunakan dalam konteks kehidupan manusia, dan tidak mesti dalam konteks ilmu geografi semata. Dengan kata lain, geografi itu bisa dipelajari oleh siapapun yang ingin hidup dengan bahagia dalam ruang-hidupnya masing-masing. Karena itulah, maka pemikiran Frank R. Spellman menjadi penting untuk dicermati dengan seksama. Geography for nongeographers. Geografi untuk orang-orang yang bukan ahli geografi.

Geography for All (GFA), disandarkan pada beberapa asumsi penting yang telah banyak dipahami oleh kalangan geografi itu sendiri. Pertama, sejak zaman kelahirannya geografi itu disebut sebagai mother of all science (Spellman, 2010)[1]. Ibunya dari semua ilmu pengetahuan. Pemahaman ini, disandarkan pada keyakinan kalangan geograf, bahwa asal-usul semua ilmu, pada dasarnya ada dalam kajian geografi. Seperti geologi, hidrologi, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Kedua, melanjutkan pemikiran dari Spellman (2010) tadi, bahwa geografi itu sangat diperlukan oleh setiap manusia. Karena ke manapun dia berjalan, sepanjang di muka bumi ini, dia akan membutuhkan pengetahuan-pengetahuan geografi. Aktivitas apapun yang dilakukan manusia, baik itu aktivitas ekonomi, social, politik, budaya, agama ataupun jurnalistik, akan membutuhkan informasi geografi. Oleh karena itu pula, dengan penuh keyakinan, Spellman menegaskan pentingnya pengetahuan geografi bagi orang-orang yang bukan ahli geografi. Walaupun, dalam konteks itu, cenderung diasumsikan untuk kepentingan perjalanan (tourism) atau wisata. Sementara yang kita maksudkan di sini, adalah geografi itu penting bagi siapapun dalam status sosial apapun.

Ketiga, pemahaman ini kemudian mengkerucut lagi pada pandangan yang dikemukakan dalam NGS di Amerika Serikat. Bahwa geografi itu, bukan untuk kepentingan si peneliti, peserta didik, atau ahli geografi semata. Geografi itu diarahkan untuk kehidupan manusia. Geography for life.

Simpul dari pemikiran itulah, yang menghantarkan kita pada satu keyakinan bahwa geografi itu adalah untuk semua golongan, dan semua aspek kehidupan. Ketut Wikantika (2012)[2], malahan berpendapat bahwa geografi itu perlu diajarkan sejak ada dini, atau dalam kandungan. Sehingga, dari seorang ibu yang peka dengan geospasial, akan melahirkan generasi muda yang peka terhadap kepentingan geospasial. itulah yang disebut dengan geography for all.

All for Geography

Perjalanan wacana ini, jelas mengantarkan kita pada satu pemikiran bahwa apapun yang kita lakukan di planet bumi ini, ditujukan untuk menciptakan lingkungan hidup yang bahagia. Atau dalam bahasa yang lain, yaitu diarahkan untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan nyaman.

Seseorang menggali kekayaan alam, baik ditempat tinggalnya maupun ditempat orang lain, tujuan adalah jelas, yaitu dia bisa menikmati hidup dengan bahagia di tempat tinggalnya sendiri. Karena ada impian bahwa hidup bahagia itu dengan cara memanfaatkan sumberdaya alam yang ada, kemudian dia melakukan aktivitas ekonomi untuk mendapatkan sumberdaya alam dengan tujuan untuk bisa hidup bahagia di tempat tinggalnya sendiri, secara umum yaitu bahagia tinggal di planet bumi ini.

Anda belajar dengan tekun, giat dan cermat, untuk konteks pendidikan mungkin maksud dari semua kegiatan belajar itu adalah untuk meningkatkan kemampuan diri dalam menjawab tantangan zaman. Tetapi, ujung dari kemampuan itu, adalah akan digunakan untuk bisa beradaptasi dengan berbagai dinamika kehidupan di planet bumi ini, dengan maksud supaya bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di planet bumi.

Seorang ahli agama, dengan penuh kesungguhan melakukan pencarian kebenaran. Ada yang menggunakan jalur agama Islam, agama Kristen, Agama Lokal, atau pemikiran-pemikiran filosofis lainnya. Tema pokok keagamaan itu memang sangat beragam. Tetapi tujuan utamanya adalah sangat jelas, yaitu mendapatkan kebahagiaan di tempat tinggalnya masing-masing, baik yang dipersepsikannya sebagai tempat di dunia ini, maupun diakherat.

Orang muslim beribadah, dengan maksud ingin mendapat kebahagiaan di dunia maupun diakherat. Orang Hindu beribadah dengan tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan di alam moksa. Dan lain sebagainya. Artinya, semua itu memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan di tempat tinggalnya masing-masing, baik tempat tinggal saat ini disini maupun tempat tinggalnya kelak setelah menjalani proses kematian.

Meminjam istilah Darwinian, setiap makhluk hidup akan senantiasa melakukan proses adaptasi dan/atau perjuangan (struggle) untuk bisa bertahan hidup. Namun, kita juga paham bahwa proses adaptasi dan struggle for life itu dimaksudkan untuk bisa bertahan, eksist, dan nyaman hidup pada ruang yang ada. Semua perjuangan itu adalah rangka mempertahankan diri supaya bisa hidup pada ruang-hidup yang ada, yaitu di planet bumi ini.

Penjelasan-penjelasan itu, mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa seluruh aktivitas manusia pada dasarnya adalah bertujuan yang sama, yaitu mendapatkan kebahagiaan tinggal di ruang-hidupnya sendiri. Sementara ruang-hidup manusia itu, kita sebut adalah ruang-geografik. Oleh karena itu pula, seluruh kegiatan manusia pada dasarnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan pada ruang-geografik atau sederhananya yaitu kebahagiaan-geografik. Oleh karena itu, industry harus ramah lingkungan (geografi), ilmu pengetahuan dan teknologi harus ramah lingkungan-geografi. Ekonomi pun harus ramah lingkungan-geografi. Itulah yang disebut dengan semua hal untuk meraih kebahagiaan geografi, atau all for geography.


[1] Frank R. Spellman. 2010. Geography for Nongeographers. Government Insitute. An imprint of The Scarecrow Press, Inc.UK.

[2] Ketut Wikantika. 2012. Geography For All. Makalah disampaikan dalam Seminar Geo Sains dan Geografi yang diselenggarakan FITB- APGI, 23-24 Mei 2012. Bandung : FITB.

Advertisements