Ada yang sangat optimis. Dia mengatakan, geografi tidak akan mati, dan tidak akan pernah mati. Geografi akan tetap hidup, sebagai sebuah ilmu. Pernyataan optimistis seperti ini, adalah hak bagi dia yang meyakininya begitu. Kita tidak bisa melarang, dia untuk berpandanga seperti itu. sebagai sebuah keyakinan ilmiahnya, dan atau keyakinan subjektifnya terhadap ilmu geografi, dia berhak untuk menyatakan hal itu.

Tetapi, bila dikaitkan dengan tidak berdayanya pelaku geografi di lembaga pendidikan untuk memberikan pengaruh nyata terhadap kurikulum pendidikan geografi, maka pernyataan optimistis seperti di atas, menjadi sesuatu yang khayali. Mimpi di siang bolong. Untuk sekedar berharap pemerintah, dapat mengubah struktur kurikulum di kelas X (SMA), dari 1 jam / minggu menjadi 2 jam /minggu, pun, sangat mengalami kesulitan. Di sini, aktivis geografi sedang berada dalam ketidakberdayaan.

Kemudian, bila dikaitkan dengan rendahnya nasionalisme generasi muda, yang nota bene adalah tugas utama geografi dalam membangun kesadaran nasional, dan nasionalisme, ternyata banyak dipertanyakan banyak pihak. Padahal, geografi adalah bicara wilayah, tetapi sumpah pemuda, SATU TANAH AIR, TANAH AIR INDONESIA belum teraktualisasikan sebagai rasa nasionalisme.

Kepekaan terhadap lingkungan, kepedulian terhadap daerah perbatasan, perjuangan dalam menjaga keutuhan NKRI, kemudian banyak dipertanyakan banyak pihak. Semua itu, sudah tentu adalah lemahnya pendidikan karakter kenasioalismean, dan pengenalan terhadap wilayah geografi Indonesia. Ini pun, menjadi kritik, sekaligus tamparan keras bagi para pendidik geografi.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering mengatakan, geografi itu dulu dianggap sebagai ibunya segala ilmu (mother of all science), ternyata sudah melahirkan banyak anak. Apapun pengakuan dari anak-anak itu, tetapi pada saat ini sudah banyak anak-anak geografi yang bisa mandiri. Geodesi, geomatika, kartografi dan sebagainya. Sekali lagi, walaupun penyebuta sebagai mother of all science itu adalah sebuah klaim, dan bisa jadi anak-anaknya pun tidak mengakui atau tidak menyadarinya, namun dalam kondisi ini, status sebagai mother of all science, sudah tidak menjadi jaminan untuk bisa eksis. Bahkan, karena sudah melahirkan banyak anak, sang ibu pun, terancam sekarat karena usia dan ketidakberdayaannya dalam menjawab tantangan zaman. Ibu ini sudah tua, dan kini dalam keadaan renta.

Hal yang paling memprihatinkan lagi, sekaratnya geografi itu, dipercepat oleh ketidakjelasannya status di lembaga pendidikan formal, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Sampai saat ini, geografi di Pendidikan Dasar dan Menengah, masih saja berkutat di program IPS (social science). Sementara di UI, UGM dan ITB, sudah lama diposisikan sebagai IPA (natural science). Hal ini menyebabkan, kegelisahan di tingkat pendidik geografi, terus berlanjut, dan tetap menjadi penyakit yang tak kunjung sembuh.

Sementara itu pula, kalangan globalis, sudah banyak yang menyampaikan pesan liarnya mengenai kematian geografi. Abad ini adalah abad tanpa batas. Dan geografi pun akan lenyap. Itulah yang mereka sebut sebagai era the end of geography.

Namun demikian, dengan pencerahan yang dilakukan di FITB ITB, 23-24 Mei 2012, dan APGI (Asosiasi Pendidik Geografi Indonesia) yang gesit dalam merespon kegelisahan geograf di lapangan, masa-masa sekarat atau tidur panjangnya geografi itu, ada harapan untuk sembuh, dan sehat. Geografi dalam pandangan penulis saat ini, tidak mati, tetapi sedang sekarat, namun penuh rasa bahagia karena ada celah bisa sembuh kembali.

Ada beberapa indikasi, bahwa geografi tidak mati. Satu diantaranya, adalah masih tingginya animo generasi muda, khususnya tingkat SMA, dalam mengikuti Olimpiade Geosains dan Geografi, yang diselenggarakan FITB-APGI tahun 2012 ini.

Namun, usaha ini baru satu atau salah satu saja. Ikhtiar lainnya, mari kita bersama-sama bergerak, demi kesembuhan geografi ini. Caranya ?!!

Advertisements