Ini adalah kesadaran baru. Ini baru kesadaran. Itulah yang tercetus dalam ruang Seminar tentang Save Our Earth yang diselenggarakan FITB (Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian) Institut Teknologi Bandung dan APGI (Asosiasi Pendidik Geografi Indonesia). Pemantik kesadarannya, dalam hemat saya, tidak lepas dari pernyataan moderator panelis waktu itu, Dr. Mamat Ruhimat, yang menyatakan bahwa pengkerdilan mata ajar Geografi adalah bentuk sistematik dalam penghancuran bangsa. Mengkerdilkan Geografi senapas dengan mengkerdilkan Indonesia, dan secara perlahan menghancurkan keutuhan NKRI.

Hemat saya saat ini, pandangan yang dikumandangkan FITB dan APGI itu adalah sebuah temuan baru mengenai kesadaran geopolitik. Atau setidaknya, membangkitkan kembali kesadaran geopolitik selama ini sudah banyak terkubur oleh pragmatisme politik sekelompok orang. Karena itu pula, dengan adanya pernyataan itu, saya merasa perlu untuk kembali menegaskan bahwa keutuhan NKRI ini, perlu ditegaskan dengan keberpihakan pada mata ajar Geografi. Karena, bila membangun negara tanpa pelajaran geografi, sama dengan Indonesia tanpa PETA. Itulah Indonesia tanpa lokasi.

Ada banyak hal yang bisa dianggap sebagai lingkaran syetan masalah ini. Pertama, berbagai kalangan bisa menduga, karena lemahnya kontribusi ilmu geografi dalam wacana-wacana publik. Akibat lanjutannya, pejabat negara tidak melihat, tidak merasakan, dan rakyat kebanyakan tidak mendapat imbas manfaatnya secara langsung. Berbeda dengan ekonomi ketika berhadapan dengan orang miskin, orang politik ketika memperjuangkan aspirasi, atau orang geologi ketika banyak bencana alam terjadi. Mereka itu semua dapat berbicara, dan pembicaraannya di dengar oleh banyak kalangan. Sementara geografi belum banyak berbicara. Ada yang mengatakan, jangankan berbicara, untuk sekedar berbunyi pun tak ada. Dalam istilah lain, sudah saatnya kalangan geografi memaksimalkan dan memberdayakan keterampilan fungsional geografi.

Kedua, karena pengaruh kesadaran-global. Ideology globalisasi mensaratkan hidup tanpa batas geografi. Hidup di era global, katanya hidup lintas geografi (trans-lokasi). Karena itu pula malah ada yang melihat globaliasi sebagai era the end of geography (Brian, 1992, Graham, 1998). Ideology ini menyerang kesadaran-hidup umat manusia, sehingga banyak negara yang tidak siap atau belum matang menjadi korban. Masuk ke wilayah global, dengan cara melupakan rumahnya sendiri. Akibatnya, dia tidak sadar bahwa dibalik globalisasi itu berkembang pula ideology ekspansi-geografik oleh orang luar terhadap wilayahnya.

Ketiga, saya tertarik dengan ide dan pemikiran Ketut Wikantika (2012), guru besar FITB, saat dalam forum itu mengatakan pentingnya kepemimpin berwawasan geospasial. Meminjam pemikiran itu, saya melihat bahwa pengerdilan masalah kegeografian, merupakan indikasi lemahnya kesadaran geospasial, kesadaran geopolitik elit politik bangsa kita. Soekarno, dalam pandangan Ketuk Wikantika, adalah pemimpin hebat berwawasan geospasial yang tinggi. Ide Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah produk-produk berwawasan geospasial yang dilahirkan dari kalangan generasi Soekarno. Saat ini, kita memang rada miris, dan agak sulit untuk menemukan elit politik dengan wawasan geospasial yang baik, dan solutif dalam memecahkan masalah bangsa Indonesia.

Terakhir, tanpa harus mengeluh sepanjang hari, kita berharap, pemerintah memberikan perhatian yang proporsional bahkan harus lebih terhadap pelajaran geografi. Ini catatan penting. Semua anak perlu mendapat pembelajaran kegografian. Karena, Indonesia tanpa geografi, sama dengan penghancuran secara perlahan negara kesatuan republic Indonesia. Kemudian, para guru di lapangan, perlu memaksimalkan kebijakan pendidikan berkarakter, sebagai sebuah karakter kebangsaan, karakter kenasionalismean.

Hanya saja, pendidikan karakter ini, perlu dikontekskan ke dalam konteks pengembangan wawasan geo-spasial, yaitu mengenal dan mencintai NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA, baik dalam pengertian politik maupun geografik.

Advertisements