Saya sendiri tidak menyangka, ujar kang Cipta, kepiawaian dalam berkomunikasi di tempat kerja ini, dan juga kecerdasan komunikasi di kelas dengan mahasiswa, ternyata tidak berbuah di lingkungan keluarga itu pengakuannya.

Apa ? masa iya ? kenapa ? kok bisa ? itulah rangkaian pertanyaan keraguan, terhadap apa yang baru saja di dengarnya. Kita semua tidak mengira, berita yang akan disampaikan itu adalah masalah keluarga Ibu Ikeu, yang sedalam itu.

Selama ini. Sudah 25 tahun membina rumah tangga. Anak-anak pun sudah pada besar. Tetapi, komunikasinya dengan sang Suami, lelaki yang dulu dipuja-pujanya, kini hanya sekedar symbol belaka. Di sebut symbol, karena komunikasi dalam rumah tangganya, belum berjalan lancer. Ada kesamaan laku itu, bila keduanya memiliki kebutuhan khusus sebagai suami istri. Tetapi, dalam kamar itupun komunikasinya belum selancar layaknya sebuah keluarga. Masih tersisa ganjalannya, yaitu egoism diantara mereka yang masih tinggi, sehingga masih menjadi hambatan dalam berkomunikasi.

sampai sekarang, dia tidak pernah minta maaf, atau berkata-kata yang pernah manis dikatananya dulu keluh ibu Ikeu. Dia sendiri pun, sekarang amat merasa berat untuk membuka diri, menjadi orang yang harus berterus terang. Ada saja, hambatan yang membuatnya tidak terbuka, tidak bangblas (seperti jalan tol, kata asli yaitu tall yang berarti jalan panjang).

Memahami masalah ini, saya jadi teringat pemain sepakbola. Lionel Messi dari Barcelona, atau Christian Ronaldo dari Real Madrid. Dua pemain sepakbola dunia, yang terus bersinar dalam dua tahun terakhir. Siapapun yang melihat keterampilannya di lapangan rumput, tidak akan meragukan lagi, bahwa keduanya adalah bintang sepakbola yang patut mendapat pujian dari banyak pihak.

Namun demikian, siapa yang mengira, bahwa kehebatan kedua pemain sepakbola itu tidak memerlukan pihak lain, khususnya pelatih ?

Kedua pemain itu adalah pelaku sejarah. Pelaku di lapangan. Operator atau eksekutor. Sedangkan dalam konteks permainan nyata, kita tidak sekedar berhadapan dengan perorangan, tetapi berhadapan dengan sebuah tim, dan kita pun ada dalam satu tim tersebut. Oleh karenanya, keunggulan diri atau kemampuan diri bukan sebuah jaminan bahwa pertandingan atau permainan itu akan berjalan dengan baik.

Permainan di lapangan membutuhkan kerjasama, dan membutuhkan kepekaan untuk saling memahami dengan pihak lain. Dan seperti itu jugalah, sebagai pemain lapangan, Ronaldo dan Messi tetap membutuhkan pelatih, yang memberikan penilaian terhadap aktivitas dan langkahnya di lapangan. Di sini, kedua bintang sepakbola itu tetap butuh orang lain, khususnya yang paham dalam masalah strategi.

Ibu Ikeu, saya, Anda semua adalah pelaku-pelaku operasional dalam sebuah permainan keluarga. Di permainan ini, ada anak, ada mertu, dan ada orang tua, bahkan ada juga sanak saudara lainnya termasuk pula ada tetangga. Mereka adalah sama-sama pemain, yang turut mempengaruhi jalannya permainan di keluarga kita.

Di sinilah, letaknya kita butuh orang lain, orang yang tidak berada dalam permainan keluarga kita. Orang ini, bukanlah orang yang terlibat langsung dalam pertandingan, dan tidak terlibat langsung dalam irama permainanya. Tetapi, mereka bisa mau mengerti, memahami dan manjadi perumus strategi dalam memainkan pertandingan. Itulah yang disebut pelatih.

Sehebat apapun pemain sepakbola, masih tetap butuh pelatih. Artinya, sehebat apapun pengalaman dan pendidikan kita, bila memang ada masalah dalam pertandingan hidup,kita membutuhkan orang lain untuk masuk dalam permainan ini, dan berposisi sebagai pelatih, yang mencari strategi dalam memecahkan kebuntuan yang dialami dalam permainan keluarga kita.

Jangan sombong. Sebagai pemain, bisa jadi kita lihai dalam teknik individual, tetapi kita gagal dalam merumuskan strategi jitu dalam mencapi gol.

Jangan egois, masalah kita hadapi itu, bisa jadi memang sulit dipecahkan sendiri, oleh karena itu carilah pelatih (bukan sekedar wasit) yang bisa membantu dalam memecahkan kebuntuan permainan kita.

Advertisements