Yani, begitulah kita menyebutnya saat ini. Beliau adalah seorang guru senior pengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Di tahun 2012, orang menyebutnya sebagai tahun-kehormatan dan kemuliaannya. Bukan saja, karena suaminya yang menjabat di salah satu kementerian tingkat Kota Bandung, tetapi juga karena dirinya benar-benar menjadi salah satu guru yang peka, peduli, dan juga bertanggungjawab.

Alhamdulillah, tahun ini saya bisa ngawas dalam pelaksanaan Ujian Nasional.. paparnya kepada guru-guru yang lain. Dia layak mengutarakan pengalaman bahagianya itu, karena semua orang juga tahu, bahwa hampir separuh masa tugasnya di sekolah ini, dia adalah salah seorang guru yang kurang diperhitungkan, baik oleh pimpinan, maupun rekan-rekan seprofesinya. Tetapi, pada tahun ini, dia mampu menunjukan jatidiri dan sikap keguruannya, yang juga harus diperhitungkan orang laian.

Dalam situasi ini, banyak pemanfaat kewenangan atau oportunik yang senantiasa berusaha keras untuk mendekati guru bahasa Indonesia ini. Di saat ada upaya provokasi dari pihak lain, yaitu supaya bisa memberikan masukan kepada suaminya, supaya bisa membantu salah seorang guru di sekolah itu menjadi pejabat pendidikan di lingkungan Kota Bandung. Ternyata, sahabat kita ini mampu memberikan argumentasi yang cerdas.

Memperhatikan perilaku para oportunik itu, ibu yang satu ini, memberikan jawaban yang mengagetkan logika rekan-rekan yang hadir lainnya. Dia mengatakan bahwa siapapun kita, dan dimanapun tugasnya, apalagi kita sebagai seorang pemimpin, kita itu ibarat dalam sebuah aquarium. Kita itu adalah ikan yang merenang ke sana kemari, dalam sebuah aquarium. Tanpa disadari oleh ikan tersebut, sesungguhnya gerakan apaun, kemanapun arahnya, seluruh aktivitas ikan itu akan diperhatikan. Di perhatian banyakan orang.

Seorang pemimpin, ibarat hidup dalam sebuah aquarium. Seluruh perkataannya, dan perbuatannya, termasuk yan tertuang dalam sebuah kebijakan, akan diperhatikan banyak orang. Saat airnya bening, akan dinikmati oleh banyak penonton, tetapi saat airnya keruh, akan banyak diceritakan orang lain. Baik atau buruk perkataan dan perbuatan seorang pemimpin, akan terus diperhatikan rakyat, dan dikomentari rakyatnya.

Luar biasa. Itulah sebagian komentar dari rekan-rekan seprofesinya yang hadir dalam pertemuan itu. Mereka semua tidak menyangka, bahwa orang yang selama dianggap tidak memiliki kemampuan mengajar, tidak memiliki prestasi kerja yang baik, ternyata memiliki filsafat hidup dan filsafat kepemimpinan yang mendalam.

Filsafat kepemimpinan dan sekaligus filafat perilaku organisasi yang sangat mendalam. Siapapun dan apapun jabatan kita, kita ibaratnya ada dalam sebuah aquarium. Apalagi seorang guru. Perkatan dan perbuatan seorang guru, senantiasa mendapat perhatian publik. Seorang pegawai pemda nonton film di bioskop, mungkin dianggap biasa. Tetapi, bila ada seorang guru nonton film di bioskop, itu berita luar biasa, yang bisa menjadi bahan perbincangan orang.

Sudah tentu. Itu bukan tidak boleh. Seorang guru pun adalah manusia, dan memiliki hak untuk berliburan dan berhiburan. Tetapi, seorang guru atau seorang pejabat, berada dalam sebuah aquarium, dan ia akan menjadi pusat perhatian banyak pihak. Salah atau benar sekalipun, tetap akan menjadi bahan guncingan. Oleh karena itu, pesan Ibu Yani ini, saya tidak mau melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan orang lain, apalagi suami sendiri, masuk pada jurang kekeliruan.

Mendengar komentar itu, semua orang pun terdiam. Ibu Yani, seolah sedang memainkan peran sebagai Ikan Louhan, yang cantik dan menarik untuk ditatap, sementara kami-kami semua yang hadir dibuatnya menjadi seperti keong racuntertundukmembisu.

Siapapun kita, apakah guru yang mengawas UN, pimpinan yang menyelenggarakan UN, pejabat negara yang mengendalikan pemerintahan, atau politisi yang sedang membahas RUU, semua itu ada dalam sebuah aquariummm….

Advertisements