Intelektual yang lelah, bukan menimpa pada orang yang terbiasa berfikir. Orang yang biasa-biasa saja, atau yang kadar kemampuan dan kebiasaan berfikirnya sederhana pun, dapat mengalami kelelahan. Karakternya pun bisa jadi sama, yaitu malas menggunakan kembali pikirannya dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Itu adalah cirri utama dari kelelahan intelektual.

Mungkin diantara kita sempat merasakan. Bila dalam keadaan berbunga-bunga, bahagia, atau dalam keadaan gembira, membuat puisi atau makalah dalam jumlah berhalaman-halaman, dapat dengan mudah diselesaikan. Bagi seorang remaja, yang sedang dimabuk cinta atau kasmaran, akan dengan mudah membuat puisi dalam jumlah berbait-baik, dan berlembar-lembar. Begitu pula disaat ratapan penderitaan yang mendalam, dia dapat curhatkan ke dalam bentuk tulisan yang berlembar-lembar.

Kondisi seperti itu, merupakan satu moment pikiran terbuka, dan kreativitas pikiran yang terbuka dalam mencurahkan pandangan atau ekspresinya. Intelektualitas manusia mendapatkan momentum penyaluran ide dan pemikirannya ke dalam wahana-tulisan.

Kondisi seperti itu, akan sulit dirasakan. Kita mengalami kesulitan dalam menuangkan ide dan pemikiran. Bahkan,kita merasakan amat sangat sulit memulai sebuah tulisan. Untuk sekedar membuka kalimat pun, kita akan sangat kesulitan, disaat emosi-kita tidak lagi mood. Emosi terganggu, pikiran pun mandeg. Intelektualitas kita beku dan tidak memiliki gairah yang memadai untuk membuat sebuah karya tulis.

Seorang sahabat, biasa dipanggil dengan nama Kang Rana. Beliau ini adalah praktis jurnalis, dan juga seorang tenaga pendidik di perguruan tinggi komunikasi di Bandung. Dia bertutur, bahwa dia sering mengalami kasus ada satu tulisan, yang bisa dibuatnya dengan memakan waktu yang amat sangat pendek, dengan gizi tulisan yang bisa dibanggakan. Tetapi, kadang pula, sebuah tulisan pendek, dia harus selesaikan berjam-jam, berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu. Itu semua terjadi, bergantung pada kesiagaan pikiran dalam merangkai ide. Sedangkan, bila pikiran ini sedang tidak siap, atau mengalami kelelahan, jangankan satu makalah utuh, untuk sekedar satu paragraph pun amat sulit diwujudkan.

Kelelahan intelektual. Itulah sebutan untuk posisi kita yang sedang mengalami kesulitan dalam melanjutkan aktivitas berfikir. Pikiran kita mandeg, dan bahkan menurun kemampuannya dalam melakukan pembacaan, pemahaman, atau pengungkapan ide-ide, termasuk juga dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Orang yang sedang mengalami kelelahan intelektual itu, cenderung merasa bte (tidak mood) untuk berfikir, dan merasa ingin lari dari dunia berfikir. Istirahat.

Berdasarkan paparan kasus-kasus kecil itu, dapat dirumuskan bahwa yang kita maksud dengan kelelahan intelektual itu adalah menurunnya kemampuan intelektual seseorang setelah terlalu lama digunakan secara berkelanjutan. Menurunnya kemampuan intelektual ini, bisa berawal dari kelelahan fisik, tetapi juga bisa karena intelektualitas itu pula yang langsung mengalami kelelahan.

Bagi seorang pemikir, atau peneliti, kelelahan intelektual itu hanyalah menuntutnya untuk sekedar istirahat. Sedangkan bagi mereka yang memiliki kelemahan mental akademik, kelelahan intelektual itu bisa berbarengan dengan kelelahan mental. Akibat dari kondisi itu, melahirkan sikap malas belajar, dan tidak mau melanjutkan pembelajarannya kembali. Orang yang memiliki mental yang lemah, kelelahan intelektual itu, cenderung diartikan sebagai ketidakmampuan dirinya dalam mengembangkan intelektualitasnya.

Hadirnya sifat malas pada sejumlah peserta didik di sekolah, pada dasarnya karena dia merasakan kelelahan intelektual. Pada jam pelajaran pertama, dia masih semangat belajar, dan merasa masih mampu mengikuti irama pembelajaran yang disampaikan oleh para gurunya. Tetapi, setengah jam berikutnya, energy intelektualnya menurun, dan kemudian merasa tidak mampu lagi mengikuti irama pendidikan di kelas tersebut. berbarengan dengan itu, mentalnya pun mengalami kelelahan. Akibatnya, dia secara subjektif memberikan vonis terhadap dirinya, sebagai orang yang tidak mampu belajar.

Dalam konteks pendidikan atau belajar, peristiwa itu biasa disebut juga dengan istilah kejenuhan belajar. Jenuh artinya sudah penuh,atau padat, sehingga seseorang sudah tidak mampu belajar lagi. Seorang siswa yang merasa jenuh belajar, merasakan bahwa kemampuan otaknya berjalan ditempat atau datar-datar saja. Peristiwa itu, khususnya dikaitkan dangn proses belajar belajar, sering disebut siswa yang sedang mengalami learning plateu.

Kejenuhan belajar bisa terjadi dalam beberapa waktu. Tetapi, bisa pula hadir dalam waktu yang cukup panjang, misalnya satu hari atau satu minggu. Kejenuhan belajar ini, menyebabkan system berfikir atau akalnya tidak berfungsi secara optimal. Hal itu terjadi, karena siswa mengalami bosan atau kelelahan belajar.

Meminjam pandangan Cross (1974), Muhibbin Syah (2010:180-182) menyebutkan ada tiga jenis keletihan yang dialami siswa dalam belajar, yaitu keletihan fisik, keletihan indera dan keletihan mental. Keletihan itu bisa hadir berbarengan dan atau muncul tidak berbarengan. Sejumlah penyebab bisa hadir sebagai penyebab siswa mengalami keletihan belajar, diantaranya kecemasan terhadap standar pembelajaran dan cemas terhadap suasana serta cemas terhadap standar yang terlalu tinggi sedangkan dirinya kurang memiliki kemampuan untuk mencapai standar dimaksud. Akibat dari itu, kemudian melahirkan kecemasan dan keletihan belajar.

Keletihan fisik dan indera,dapat dipulihkan dengan istirhat atau tidur, sedangkan keletihan mental membutuhkan terapi psikologi tertentu, sehingga kebugaran intelektual dapat bangkit dan berkembang kembali. Diantaranya, yaitu butuh refreshing atau berhiburan dan berliburan.

Advertisements