Pada saat kita ingin menjelaskan tentang sesuatu. Kadang kita bertemu dengan anekaragam pendapat. Ini sering kali terjadi begitu. Apalagi dalam forum-forum diskusi, forum ilmiah atau disebut forum akademik. Bila kita tidak biasa, kondisi ini membuat kita risih dan merasa tidak kerasan dalam situasi itu.

Di lingkungan pendidikan, aura berbeda pendapat itu, sepertinya juga kurang memberikan sesuatu yang membahagiakan. Anak-anak kita masih merasa risih berbeda pendapat dengan guru, dan guru merasa diri sebagai penafsir pengetahuan yang terbenar. Guru tersebut menganggap bahwa anak tidak boleh berbeda pendapat dengan dirinya, dan jawaban dirinya adalah jawaban yang paling tepat. Bila anak memiliki pendapat yang berbeda, akan disudutkan sebagai pendapat yang salah, keliru, tidak tepat, atau tidak mengerti masalah.

Semestinya, di lingkungan pendidikan, seperti pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah, lingkungan kebebasan berpendapat menjadi bagian penting dalam membangun layanan pendidikan. Dengan kebebasan berpendapat, anak akan dapat lebih mudah melakukan ekspresi pemikirannya, sehingga bisa melahirkan ide-ide kreatifnya sendiri.

kalian tahu saya ? sebagai orang yang sedang berdiri di depan kalian ini, tolong jelaskan dalam satu kalimat, siapa saya yang sesungguhnya ? tanyaku kepada peserta didik yang kebetulan hadir di ruangan itu.

Mendengar pertanyaan seperti itu, kemudian banyak orang yang mengacungkan tangan dengan maksud berusaha untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan itu. Satu persatu, mereka memberikan jawaban, dan jawabnnya untuk sangat beragam.

guru geografi di kelas X sekolah kita.
alumni jurusan sosiologi dari Kampus Universitas Padjadjaran.
orang vijayakusumah bandung
orang majalengka..
seorang bapak beranak dua

Jawaban-jawaban itu, semakin di pancing, dengan kalimat, selain itu. Kemudian melahirkan jawaban-jawaban yang sangat beragam. Setiap anak memberikan jawaban sendiri, dan berusaha untuk meyakinkan orang lain yang belum berpendapat atau yang sudah berpendapat. Saya merasa senang, mendengar jawaban yang beragam seperti itu. Jawaban-jawaban itu, sangat orisinal dan penuh keyakinan.

Terhadap pertanyaan itu, kemudian saya beri ajukan pertanyaan kepada semuanya. Apakah jawaban itu, benar ?

Dengan sigap dan tangkas, peserta didik yang hadir memberikan jawaban, benar.
Apakah jawaban itu sama ?

Hampir seluruh peserta didik yang bersuara, menyatakan bahwa jawaban itu tidak ada yang sama. Pernyataan jawaban itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda dengan orang lainnya.

Sekali lagi, mendengar jawaban itu saya senang, dan kemudian memberikan pertanyaan kunci kepadanya, apakah jawaban itu ada yang salah ?

tidak ada Pak, walaupun jawabannya berbeda-beda, tetapi semua jawaban itu benar. Tegas Ulfah yang duduk di bangku sebelah barat kursi guru.

Coba terangkan kepada kami, mengapa sebuah jawaban yang berbeda-beda, tetapi tidak ada yang dinyatakan salah ?

Uci, peserta didik yang dipersepsikan teman-temannya sebagai siswa cantik di kelas itu, kemudian angkat bicara dan memberikan jawaban. Semua itu, karena ada perbedaan sudut pandang. Setiap jawaban memiliki sudut pandang yang berbeda. Dengan sudut pandang yang berbeda, walaupun masalah yang sedang dibicarakannya sama, akan melahirkan jawaban yang berbeda, namun tidak bisa dinyatakan salahpaparnya.

Orang mengatakan bahwa bapak itu adalah guru geografi di kelas X sekolah kita, karena melihat dari profesinya di sekolah ini
Orang mengatakan bahwa bapak itu adalah alumni jurusan sosiologi dari Kampus Universitas Padjadjaran, karena melihat latar belakang pendidikan magisternya, yang memang berasal dari jurusan Sosiologi Antropologi UNPAD, Bandung
Orang yang melihat dari sisi alamat rumah, mengatakan bahwa bapak itu adalah orang vijayakusumah bandung
Kemudian, yang menjawab bahwa bapak adalah orang majalengk,karena dia melihat dari asal daerah bapak sebelum tinggal di Kota Bandung.
Yang terakhir, dia mengatakan bahwa bapak adalah seorang guru beranak dua, karena melihat keadaan rumah tangga bapak yang baru memiliki anak dua orang

Mendengar jawaban itu, teman-teman yang lain, yang mendengarkannya kemudian memberikan apresiasi yang meriah dengan gemuruh tepuk tangan, tanda merasa puas terhadap jawaban Uci tersebut. dengan gemuruhnya tepuk tangan tersebut, saya merasakan bahwa peserta didik sekelas merasa puas dengan jawaban, teman sekelasnya tersebut.

Sehubungan hal itu, saya memberikan beberapa simpul kecil dari pengalaman belajar saat itu.

Pertama, secara naluriah manusia memiliki kemampuan berfikir kreatif dan bebas. Tidak ada yang boleh menghalangi kebebasan berfikir manusia. Ini artinya, kita memiliki peluang dan potensi yang sama untuk mengembangkan pola fikir sendiri. Tak usah ikut-ikutan nyontek.

Kedua, setiap orang memiliki keunikan gaya tutur dan sudut pandang yang berbeda. Hal itu berkaitan dengan latar belakang dan pengalaman hidupnya.

Ketiga, ini adalah kesimpulan terpenting yang ingin di kemukakan di sini, berbeda pendapat bukan berarti salah. Jawaban berbeda tidak boleh diartikan salah. Karena berbeda jawaban atau pendapat, bisa terjadi karena kita memiliki sudut pandang yang berbeda. Di sinilah, letak toleransi dan penghargaan kepada orang lain menjadi sangat penting.

Di dunia pendidikan, bila seorang guru tidak menyadari hal ini,dan tidak memberikan penghargaan terhadap keunikan dan kreativitas berfikir anak, hanyalah akan menjadi biangkerok melemahnya kualitas pendidikan. Apalagi, jika ada guru, atau mungkin pejabat Negara, amat sangat keliru atau tidak tepat banget, bila ada orang berbeda pendapat dengan kita kemudian disudutkan sebagai tidak hormat, anarkahi, subversive, atau pemberontak.

.gak usah gitu-gitu.banget lho!

Advertisements