Tidak usah bingung dengan istilah ini. Judul yang digunakan dalam curhatan ini, hanyalah permainan kata-kata. Ini permainan kata belaka. Istilah uenophobia, maksudnya yaitu ketakutan yang berlebih terhadap UN (ujian nasional). Rasa takut yang berlebih pada sesuatu yang sesungguhnya tidak mesti ditakutkan. Bukan hanya masalah UN, apapun juga, bila seseorang mengalami ketakutan luar biasa terhadap sesuatu, disebutnya sebagai phobia. Ada phobia gelap, phobia ketinggian, dan lain sebagainya.

Khusus terkait dengan dunia pendidikan ini, kita melihatnya ada sejenis phobia terhadap UN (ujian nasional). Banyak orang yang mengalamai ketakutan terhadap UN. Siswa takut tidak lulus UN. Kepala Sekolah takut siswa-siswinya tidak 100 % lulus UN. Pemerintah pun, kadang takut juga didemo oleh masyarakat gara-gara pelaksanaan UN. Di pihak lain, sebagai orangtua, kita pun merasakan takut anaknya tidak bisa bekerja atau tidak bisa melanjutkan pendidikan gara-gara tidak lulus UN.

Bila diperinci, bisa jadi lebih dari sejumlah kelompok itu. Masih banyak pihak yang turut mengalami phobia dengan UN ini. Kelompok yang merasa takut itu, bukan sekedar kelompok siswa yang menjadi peserta UN, tetapi juga kelompok-kelompok lainnya.

Ini unik. Anek. Hebat. Bahkan, bisa jadi fenomena yang ganjil dalam dunia pendidikan. Layanan pendidikan sejatinya harus memberikan sesuatu yang positif dan membahagiakan, UN malah menjadi sejenis phobia tahunan yang melanda dunia pendidikan. Semestinya, pendidikan itu menjadi sebuah dunia yang menyenangkan dan memberdayakan, UN malah menjadi bagian yang mengerikan.

Ada apa dengan UN, itu mungkin pertanyaan kritis yang kerap kali diajukan kepada dunia pendidikan terkait dengan penyelenggaraan UN ini.

Bila dulu ada istilah sengsara membawa nikmat, akankah UN pun adalah sebuah ketakutan yang menunggangi kenikmatan UN ? atau, kenikmatan yang menunggangi ketakutan ? adakah UN itu sesungguhnya sesuatu yang nikmat, hanya tengah ditunggangi oleh ketakutan berlebih dari banyak pihak, sehingga menutupi wajah UN yang ramah, santun, dan menggembirakan ?

Agak susah untuk menjelaskannya. Bagi kebanyakan orang, berharap besar bahwa UN itu adalah kenikmatan. Rasa takut yang ada selama ini, hanyalah rasa takut yang berlebihan terhadap UN, dan memang tidak perlu takut. Karena UN itu sekedar jembatan dan jemputan masa depan. Sebagai sebuah jembatan, santai aja melewatinya. Memang, bila tidak hati-hati, seseorang bisa terjebak dan terjerembab masuk pada lubang ketidaknikmatan, dan itulah rasa takut yang selama ini dibesar-besarkan.

Sebagai sebuah jemputan, dengan melewati UN seseorang dianggap memiliki tiket untuk terus melanjutkan langkah ke masa depan. Walaupun itu bukan garansi. Lulus UN itu hanyalah hak, atau tiket untuk sekedar menjemput masa depan. Sementara keberhasilan bertemu dengan masa depan, dan mengisi masa depan itu sendiri, adalah soal lain yangharus diperjuangkan kembali.

Hanya saja, sebagaimana dituturkan tadi, bila kita tidak hati-hati, kita akan terjungkap ke jurang ketidaklulusan melewati jembatan. Ini ancaman inilah, yang banyak diungkap, dirasakan, dan atau diulas banyak kalangan. Sehingga, saking menganganya jurang itu, kemudian menjadikannya sebagai sesuatu yang menakutkan banyak pihak.

Takut UN atau kita sebut Uenophobia adalah penyakit jiwa yang kerap menghantui masyarakat kita. Penyakit uenophobia ini, cenderung bersifat masal, yaitu dialami oleh lebih dari satu orang. Namun sayangnya, penyakit itu belum banyak dirasakan sebagai sebuah gejala gangguan psikologis masyarakat kita.

Gejala yang muncul, akibat adanya uenophobia ini, yaitu munculnya tindakan praktis (lebih tepatnya pragmatis) dari para penderita. Mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal,dan bahkan cenderung tidak menyelesaikan masalah. Tindakan yang dilakukannya sekedar lari dari masalah, dengan membuat masalah baru. Melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN, adalah pelarian dari masalah dengan melahirkan masalah baru.

Ada yang menegaskan. System penilaian dan system pelulusan tahun 2012 ini, sedikit mereduksi uenophobia ini. Tetapi, rasa takut itu tetap masih ada. Khususnya, pihak kepala sekolah, masih mengidap penyakit takut anak-anaknya tidak lulus 100 %.

Advertisements