Tidak mengerti itulah ungkapan spontan yang muncul dalam batin ini. Pernyataan itu muncul, setelah mendengar paparan seorang pengawas madrasah di Kota Bandung. sungguh tidak mengertiungkapku, apa yang mereka inginkan dengan dunia pendidikan ini.

Belum lama. Malahan masih dalam hitungan detik. Seorang kepala madrasah muda, energik dan ambisius, mengemukakan pandangan-pandangannya mengenai masa depan pendidikan di lembaganya. Bukan di Negara Indonesia. Masih untuk lingkup yang kecil. Dia menyatakan mengenai harapan dan cita-citanya membangun masa depan pendidikan yang setidaknya, sesuai dengan impiannya. Dia tidak sedang membicarakan pendidikan di Indonesia, apalagi di dunia, tetapi dia sedang berbicara mengenai pelayanan pendidikan di lingkup lembaganya yang tengah dipimpinnya sejak 2 tahun terakhir.

madrasah yang benar-benar memberikan lingkungan pendidikan itulah kira-kira yang ingin dikemukakan kepala madrasah ini. Terkait hal itu, maka berbagai hal yang dianggap oleh public sebagai sesuatu yang kurang mendukung pada penciptaan lingkungan mendidik, seperti ketidakpercayaan public terhadap lembaga, ketidakpercayaan peserta didik terhadap guru, lemahnya kinerja guru, dan lemahnya pelayanan pendidikan, menjadi perhatian utama dalam melakukan pembenahan pendidikan di sekolahnya ini.

Paparan yang cerdas. Disampaikan tidak lebih dari 30 menit. Mimpi mengenai masa depan. Mimpi mengenai kualitas lulusan. Mimpi tentang layanan pendidikan. ini baru mimpi, ujarnya. Tetapi kemudian merangsang dialog segar dan menggairahkan, bagaimana pentingnya memberikan pelayanan pendidikan yang mampu membangun karakter anak yang jujur dan berani secara mandiri menghadapi kenyataan hidup.

di masa depan itu, hidup di dunia ini akan semakin gelappaparnya, dengan aura filosofis yang kuat. pernyataan ini sampaikan kepada anak-anakku,. kisahnya, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari seluruh perbuatan yang dibangun dari kepura-puraan. Jujur itu adalah modal utama, dan mandiri itu adalah energynya. Berjalannya dengan rasa percaya diri, dan jangan menggadekan masa depan hidup kepada manusia lain. Sambil menghela nafas sejenak, dan kemudian, nasib kita ini, tidak boleh digadekan dan meminjam kepada orang lain, karena hal itu. Karena barang pinjaman, suatu saat, barang pinjaman itu akan dimintanya kembali.. itulah sebagian petuah yang dituturkan kepala madrasah kepada para siswa, sebagaimana dikisahkan kepada kami yang hadir di lokasi tersebut.

kecuali yayasan dan orangtua siswa, dulu saat tidak lulus UN 100 %, kami dikritik habis-habisan oleh berbagai pihak. Entah mengapa, hanya orangtua dan yayasan yang tidak memberikan kritikan kepada kami tuturnya.

Ketika sang pengawas itu mengatakan, jika banyak yang tidak lulus, nanti siswa berkurang, dan kepercayaan masyarakat juga menurun?katanya.

Pernyataan ini spontan di jawab oleh pihak madrasah. justru aneh. Di madrasah ini, setelah diketahui mereka tidak lulus 100 %, pada tahun berikutnya siswa malah bertambah banyak. Ini aneh.. jawabnya dengan penuh sukacita.

Dalam tafsiran kami yang mendengarkan, suka cita kepala madrasah itu bukan pada karena banyak anak tidak lulus 100 %. Bukan itu. Tetapi, mereka bangga karena mampu mematahkan seluruh ketakutan pihak-pihak yang senantiasa ketakutan berbuat jujur dalam UN. Dengan hadirnya siswa di madrasah ini, dengan jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bahwa masyarakat memang sudah jenuh dengan kedustaan, atau masih gandrung dengan dusta dan nestapa itu sendiri.

Paparan yang memberikan harapan. Tetapi, harapan itu sirna kembali, disaat sang Pengawas itu memberikan himbauan, pokoknya, kami ingin ada usaha maksimal dari semua pihak, bagaimana pun caranya, supaya tahun sekarang kita bisa lulus 100 % ?!

Pikiranku sontak terkaget-kaget, Lhooo?!!

Advertisements