Di hari pertama (12/03/2-11), menjadi pengawas ujian madrasah berstandar nasional (UMBN) saya dibuatnya kagum. Kagum bukan oleh penyelenggaraan UAMBN itu (saja) tetapi, juga kagum oleh upaya-upaya positif siswa MAS Manbaul Huda Kota Bandung dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.

Bagi sekolah-sekolah elit, atau sekolah tertentu, mungkin tidak pernah mendengar ada jadwal piket, khususnya piket kebersihan kelas. Kebersihan kelas di sekolah elit, sudah diserahkan kepada petugas cleaning service (petugas kebersihan)

.

Tetapi,bagi kebanyakan sekolah, sebagaimana yang pernah ditemukan, petugas kebersihan kelas masih dibebankan kepada siswa di kelas masing-masing.

Dalam benak para guru, atau wali kelas, beban ini dimaksudkan sebagai bagian dari pembelajaran atau lebih tepatnya pendidikan. Dengan membuat jadwal piket kebersihan kelas itu, dimaksudkan untuk membiasakan peserta didik bisa menjaga kebersihan, minimalnya kebersihan bagi dirinya sendiri. Aktivis ekstrakurikuler sering menyebutnya sebagai tradisi patut diri (bersih diri). Dengan alasan itulah, maka jadwal piket masih diberlakukan dan diterapkan pada sejumlah sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang masih kekurangan tenaga cleaning service.

Hal yang berbeda, dan ini yang menjadi unik, adalah upaya penegakkan aturan dan jadwal piket tersebut. Setiap siswa memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas piket. Sebelum pulang, atau setiap pagi menjelang jam belajar di mulai, kelas diupayakan harus sudah bersih. Kebersihan kelas itu, merupakan tanggungjawab dari siswa-siswa yang terjadwal piket saat itu.

Coba bayangkan. Bagaimana sanksi yang diberikan anggota kelas terhadap siswa kelas yang tidak melakukan piket kelas ? sanksi apa yang diberikan kepada siswa tersebut ? di sejumlah sekolah/madrasah, kebanyakan sanksi itu berupa sanksi materi. Ada yang dikenakan denda (uang) sekian rupiah, ada yang dikenakan sanksi harus membeli barang kebutuhan kelas, dan ada pula yang diberi sanksi dengan hukuman kebersihan di tempat yang lainnya.

Di Madrasah Aliyah Swasta Manbaul Huda ada tradisi dan teknik yang berbeda. Aturan tetang pelaksanaan piket di tulis secara resmi, dan ditempel di kelas masing-masing. Dalam aturan itu tercantum dengan jelas bahwa mereka yang tidak melaksanakan piket terkena hukuman. Setidaknya tiga hukuman itu, tidak biasanya dilakukan di sekolah lain.

Pertama, wajib membuat makalah untuk durasi 10 menit (ada istilah popular yaitu kultum.kuliah tujuh menit, walaupun kadang tidak tepat 7 menit) atau ceramah di depan kelas. Makalah harus sudah jadi, di hari esoknya, dan diserahkan kepada wali kelas untuk kemudian dipresentasikan pada hari berikutnya.

Kedua, wajib membuat hiasan dinding kelas, sebanyak 3 buah. Pada umumnya, mereka lakukan dengan membuatk kaligrafi atau hiasan dinding lainnya. Dan terakhir, yaitu wajib mengajukan pertanyaan selama satu hari dalam seluruh pelajaran yang diajarkan hari itu.

Bila direnungkan dengan seksama, ruh dari ketiga tugas itu memiliki benang merah yang sama, yaitu mengkondisikan dan memberdayakan potensi kreativitas siswa. Dengan membuat makalah, siswa MAS Manbaul dikondisikan untuk senantiasa produktif dengan karya intelektual. Sedangkan dengan presentasi dan kewajiban bertanya, siswa MAS Manbaul dibiasakan untuk membangun tradisi akademik, yaitu aktif dalam belajar.

Dengan satu hari, tetapi spirit akademik ini begitu sangat terasa. Tidak mengherankan, bila kemudian dalam proses ujiannya siswa di madrasah ini, jauh lebih percaya diri dalam mengerjakan soal. Tidak ada satu lirikan pun, dan tidak ada satu patah kata pun yang terlontar untuk minta bantuan pada orang lain. Ruang ujian, hening dalam ketulusan seorang peserta didik yang tengah membangun karakter diri, dengan kemandirian intelektualnya sendiri.

MAS Manbaul Huda, adalah oase bagi lembaga pendidikan Indonesia umumnya, khususnya di Kota Bandung, disaat masyarakat tengah kehilangan kepercayaan kepada lembaga pendidikan dalam membangun karakter bangsa. Kendati kini sudah melewati satu minggu, saya berani untuk mengatakan bahwa di lembaga inilah, peserta didik benar-benar sudah dikondisikan, bukan saja mental, tetapi juga sosialnya untuk senantiasa tetap berpegang pada karakter kemandirian dan keunggulan akademik.

Advertisements