Sahabat saya, Ustadz Iing Ahmad Nasrudin, kerap kali memberikan penjelasan bahwa bila kita mampu mengubah marah dengan ramah, itu menunjukkan kemuliaan manusia.


Pernyataan ini sungguh mulia. Hanya saja, dalam kenyataannya, hamper tidak ada manusia yang tidak pernah marah. Dalam ukuran apapun, atau dengan bentuk apapun, marah dan kemarahan itu, merupakan bagian emosional (psikologi) manusia. Sehingga, dalam konteks ini, saya menarik kesimpulan bahwa bisa marah itu tandanya kita adalah manusia biasa.

Marah. Kadang didefinisikan sebagai ekspresi ketidaksetujuan, kekesalan, atau ketidakrelaan pihak lain menggangu keberadaannya. Akibat dari marah pula, kemudian melahirkan konflik. Konflik-konflik ini pun, kadang tidak bersifat individual. Sebuah kemarahan yang tidak terkendali, dapat menjadi awal muncul dan berkembangnya konflik social yang berkepanjangan dan meluas

.

Menurut tuturan sejarah. Salah satu penyebab Perang Diponegoro yang memakan waktu selama 5 tahun (1825-1830), itupun bermula dari kemarahan KeluargaDiponegoro terhadap sikap Belanda yang membuat jalan kereta api melalui lahan pemakaman keluarganya. Sebagaimana dituturkan dalam Wikipedia, Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Jogjakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro.

Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.

Karena tindakan itulah, kemudian terjadi peperangan antara Pangeran Diponegoro yang dibantu rakyat Jogjakarta, dengan Belanda dipihak lain. Dalam kaitan ini, kemarahan individual yang terkondisikan dan terpublikasikan, bisa menjadi sebuah kemarahan social atau kemarahan kolektif. Hemat kata, ada empat pola kemarahan (1) kemarahan individual lahir dalam bentuk reaksi dan kemarahan individual, (2) kemarahan individual berbentuk kemarahan kolektif, dan (3) kemarahan kolektif berbentuk kemarahan kolektif, dan (4) kemarahan kolektif berbentuk kemarahan individual.

Saya marah pada dia. Chandry marah kepada Siti Nurhaliza, Andi marah kepada Dina, Anita Hakim marah kepada Zulfa adalah bentuk dari kemarahan-kemarahan yang sifatnya individual. Kemarahan mereka adalah kemarahan pribadi, dan diarahkan kepada pribadi pula.

Kemudian, ada juga kemarahan individual yang ditransformasi (diubahnya) menjadi sebuah kemarahan kolektif. Biasanya hal ini, terjadi pada masyarakat adat, dan atau pada seorang pemimpin. Satu masyarakat yang menganggap bahwa harga diri warganya, merupakan harga diri bersama, maka kemarahan seorang warga akan dijadikan dalil untuk memobilisasi dan membentuk sebuah gerakan kemarahan masa. Sebagaimana yang terjadi pada kasus Diponegoro tersebut.

Pada sisi lain, ada kemarahan bersama yang berbentuk kolektif. Misalnya, kemarahan bangsa Indonesia terhadap Malaysia, yang kerap kali melakukan kebijakan bertetangga yang tidak ramah. Pencaplokan wilayah atau hak-hak intelektual budaya. Sikap politik Malaysia dalam bertetangga dengan Indonesia ini, kerap kali melahirkan kemarahan kolektif.

Terakhir, ini mungkin yang jarang terjadi, yaitu kemarahan kolektif yang diwujudkan dalam bentuk kemarahan individual. Atau lebih tepatnya, orang yang seperti ini memanfaatkan isu bersama untuk kepentingan pribadi. Misalnya saja, setiap ada isu di masyarakat,kemudian diolahnya menjadi seolah-olah isu bersama, padahal adalah hanyalah kepentingan pribadi dan atau isu pribadi.

Sedangkan bila dilihat dari sisi sasarannya, ada empat jenis kemarahan, yaitu (1) kemarahan individu kepada individu, misalnya, kemarahan si A kepada si B, (2) kemarahan individu kepada kolektif, misalnya kemarahan si A kepada aparat kepolisian, (3) kemarahan kolektif terhadap individu, misalnya kemarahan Umat Islam terhadap Salman Rushdi, dan (4) kemarahan kolektif kepada kolektif, misalnya tawuran massal.

Dalam mengelola kemarahan ini, ada satu teori kemarahan yang perlu dicermati dengan baik. Patrick M. Reilly dan Michael S. Shopshire (2002), menulis buku berjudul Anger Management for Substance Abuse and Mental Health Clients menyebutkan bahwa ada beberapa kondisi yang melahirkan kemarahan. Albert Ellis,sebagaimana dikutip Reilly dan Shopshire (2002:34) membuat model ABCD. Model ABCD ini digunakan untuk menjelaskan proses psikologis terjadinya kemarahan pada seseorang.

Tahapan pertama, yaitu A (Activating), yaitu adanya dua orang atau dua kelompok yang ada pada satu peristiwa. Misalnya saja, antara rakyat dan pemerintah, antara rakyat dan polisi dalam kasus kenaikan BBM. Kemudian, B (believe), maksudnya yaitu keyakinan atau interpretasi terhadap peristiwa dimaksud. Dalam masalah keyakinan atau interpretasi ini kemudian melahirkan adanya perbedaan interpretasi. Pemahaman dan keyakinan rakyat berbeda dengan Pemerintah mengenai BBM, keyakinan warga yang demo berbeda dengan keyakinan polisi yang berusaha menghalau demonstran. Keyakinan dan interprestasi itu kuat dalam diri individu.

Ketiga, yaitu C (consequence). Setiap orang meyakini bahwa setiap keyakinan (interpretasinya) memiliki dampak lanjutan. Rakyat tahu akibat lanjutan dari kenaikan BBM, begitu pula pemerintah. Hanya saja, interpretasi yang berbeda, akan melahirkan pemahaman tentang konsekuensi yang berbeda pula. Pertemuan dari dua kondisi itulah kemudian melahirkan D (dispute) atau perselisihan, konflik atau kemarahan.

Sehubungan hal itu, maka mengelola kemarahan itu harus dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, mempertemukan seluruh elemen yang mengalami perselisihan. Ini syarat pertama, kemudia melakukan dialog mengenai pemahaman terhadap peristiwa (event) yang diperselisihkan. Tahapan yang paling krusial di sini, yaitu membuka kesadaran untuk saling membuka diri mengenai keyakinan-keyakinan atau interpretasi-interpretasi yang semula menjadi penyebab perselisihan. Pada konteks inilah, Reilly dan Shopshire (2002:34) menyebutnya perlu ada terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy).

Secara sederhana, terapi ini bertujuan untuk mengubah perilaku berbasiskan pada pentingnya merubah pemahaman (kognisi) seseorang. Kemarahan yang disebabkan karena salah persepsi, maka membutuhkan adanya pelurusan persepsi. Sudah tentu, ini hanya satu teori. Dan itu pun, bila kita setuju bahwa kognisi mempengaruhi emosi, dan bukan emosi mempengaruhi kognisi. Bila kita memahami bahwa kognisi itu tidak mandiri, dan atau dipengaruhi oleh emosi (atau spiritual), maka teori Albert Ellis itu menjadi kurang berguna untuk dipelajari.

Jika kita bisa marah, itu tandanya manusia biasa.
Tetapi, bila biasa marah, itu tandanya kita sakit jiwa.

Jika kita marah karena tersinggung, itu artinya kita belum dewasa. Jika kita merasa berhak Marah, dia merasa menjadi penguasa, tetapi bila kita marah karena iba, mungkin itu tandanya Cinta.

Advertisements