Karakter manusia bisa dilihat, dari sisi persepsi dirinya mengenai jalan pikirnya sendiri. Inilah pokok pikiran yang akan kita bincangkan dalam kesempatan kali ini.

Inilah pertemuan yang menegangkan. Di sebut menegankan, karena dalam pertemuan ini, seolah ada aura-pertempuran kekuasaan, hasrat dan ego. Mungkin itu semua tidak benar adanya. Tetapi, inilah perasaan yang berkecamuk dalam ruang pertemuan di maksud. .

Pada satu kelompok, hadir pejabat-pejabat negara. Dari pejabat tertinggi di tingkat Kota, sampai pada pejabat terendah di tingkah sekolah/madrasah. Sedangkan dikelompok lainnya, adalah kami semua, yang berposisi sebagai bawahan, staf atau aparat. Bahkan, berulang-ulang, pejabat tingkat Kota itu mengatakan bahwa kami-kami ini adalah aparatur negara yang kewajibannya adalah menjalankan tugas, dan melaksanakan peraturan perundang-undangan. Kalimat itulah, yang kemudian diulang-ulang, dan sekaligus djadikan bom untuk meluluhlantahkan keberanian kami untuk mengemukakan pandangan. Dengan ledakan bom itu, hampir setiap diantara aparatur itu, diam dan membisu

Penjelasan demi penjelasan direnungkan. Dikaji. Dikomentari dalam hati, akhirnya ditarik kesimpulan. Kesimpulan terbanyak yang dimiliki para aparatur yang hadir hari itu, kami memang tidak bisa berbuat apa-apa. Akan nurut apa adanya. Itulah yang tercetus. Itu yang terucapkan dalam lisan mereka. Itulah yang terbicarakan dalam bincangan diantara aparatur di dalam ruangan tersebut.

Saya sendiri, merasakan bahwa aura pembicaraan pejabat negara itu, begitu kuat dan menghipnotis aparatur yang hadir di ruangan tersebut. Kendati sesungguhnya, yang saya rasakan sendiri, ada kebohongan yang dimiliki oleh aparatur negara ini. Apa yang mereka tuturkan itu, sesungguhnya tidak sama dengan apa yang ada dalam hatinya.

Indikasi ini mendapat pembenaran. Setelah selesai pertemuan itu, ternyata mereka masih tetap menyimpan ketidakmengertian, sejumlah tanya, sejumlah kritik dan komentar terhadap apa yang baru saja dituturkan oleh para pejabat negaranya. Sesungguhnya dalam jiwa sang aparatur ini, masih banyak menyisakan ketidakmengertiannya mengenai peristiwa yang baru saja terjadi.

Secara pribadi, saya melihat bahwa apapu yang dibicarakan dalam ruangan itu, dan siapapun penuturnya, mendorong masing-masing pada salah satu dari empat kuadran karakter manusia. Keempat karakter itu, pada dasarnya dilihat dari kualitas pembicaraannya sendiri.
Pertama, ada yang benar. Itu adalah orang yang, merasa benar dengan pikiran yang benar. Ini adalah orang yang benar, cerdas dan berwawasan serta berkesadaran tinggi.

Kedua, ada orang yang seat, yaitu mereka yang merasa benar dengan pikiran yang salah. Orang ini, akan memiliki kekeraskepalaan yang sama dengan orang benar. Persoalannya, orang pertama itu keras kepada dengan karakter keilmuannya, sedangkan orang kedua keras kepala dengan kesesatannya.

Ketiga, ada orang yang minder, yakni mereka yang merasa salah dengan pikiran yang benar. Ada sisi baiknya, orang yang seperti ini, yaitu tidak pernah memaksakan diri. Tetapi, ketika perasaan itu diiringi dengan ketidakberanian mengemukakan pendapat, maka dia terjerumus pada karakter minder. Minder dengan sesuatu yang dirinya pun mungkin tidak tahu jawabannya. Tetapi dengan perasaan salah itu, orang yang seperti ini tidak memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapatnya yang benar

Terakhir yaitu orang yang merasa salah dengan pikirannya yang salah. Ini adalah ciri dari orang baik. Artinya, orang ini sudah memiliki kesadaran penuh, bahwa pikirannya itu adalah salah. Nasib baik bagi orang ini, adalah akan memiliki peluang untuk terus berubah dan membenahi dirinya, sehingga mampu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Karena dirinya sudah sadar, bahwa dirinya salah, maka dia akan berusaha untuk memperbaiki dirinya.

Diantara mereka itu, sesungguhnya ada dua orang yang baik, yaitu orang yang konsisten dalam jalan benar (yaitu orang pertama), dan orang keempat yang terus menghembuskan semangat (spirit) perubahan. Bagaimana dengan nasib orang kedua ? dia akan terpenjara oleh kesadaran palsunya. Sedangkan nasib orang ketiga, membutuhkan therapi mental mengenai hakikat dirinya.

Advertisements