Setiap perempuan ingin cantik. Setidaknya, setiap perempuan ingin disebut cantik. Kecantikan, bagi seorang perempuan merupakan impiannya. Setiap detik, setiap jam, atau setiap hari, setiap perempuan berusaha keras untuk bisa tampil maksimal, dan dipandang cantik oleh siapapun.


hasrat untuk berpenampilan cantik, kemudian mendorongnya melakukan banyak usaha dalam mempercantik diri. dengan kata lain, tidak mengherankan bila kemudian mereka akan terus berusaha keras untuk bisa tampil maksimal, atau berusaha keras untuk bisa tampil cantik.
Hanya saja, sampai pada saat ini, kita bisa melihat bahwa istilah cantik dan kecantikan itu, terus berkembang. Setidaknya, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ukuran seseorang bisa disebut cantik pun berubah-ubah. Ada yang menyebut, si A cantik, kata yang lainnya, tidak cantik. Begitu pula sebaliknya. Bahkan, ada juga, dengan penuh rasa percaya diri, bahwa dirinya adalah cantik, tetapi menurut orang lain, biasa-biasa saja. Bagi mereka yang sudah merendah, memandang dirinya biasa saja, tetapi menurut orang lain, dia itu adalah orang cantik. Begitu rupa simpang siurnya ukuran kecantikan. Sehingga amat sulit, menurut sebagian pandangan, untuk menetapkan predikat cantik dan kurang cantik.

Tetapi, bila dikaitkan dengan fakta kehidupan, ternyata kadang kita pun memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda mengenai seseorang. Walaupun memang kadang tidak utuh atau tidak seratus persen, namun, misalnya diantara sepuluh orang yang ada, kurang lebih setengahnya dalam memberikan penilaian yang sama mengenai seseorang, apakah cantik atau kurang cantik. Sekali lagi, walaupun bila ditanyakan langsung kembali, ukuran kecantikannya tetap berbeda-beda.

Bisa jadi, hal itu terjadi, karena sifat kecantikan tidak bisa dipisahkan dengan keindahan. Aspek keindahan, sangat melibatkan peran subjek untuk memberikan penghargaan atau penilaian terhadap masalah kecantikan tersebut. Sehingga, ukuran kecantikan itu, terus mengalami perubahan, perkembangan, dan dinamikanya sendiri.

Inilah pengalaman dari beberapa kali menghadiri resepsi pernikahan, dan atau menyaksikan perhelatan pernikahan, baik yang ditayangkan dalam media elektronik atau yang dipaparkan dalam media cetak, sering muncul pemberian penilaian cantik dan menarik terhadap para pengantin. Seorang selebritis yang melaksanakan pesta perkawinan, kemudian dikomentari mengenai kualitas penampilannya, dan ujungnya adalah memberikan penilaian mengenai kecantikannya. Begitulah kira-kiranya, berbagai hal yang terjadi saat ini.

Bila dikaitkan dengan hal itu, dan juga terkait dengan wacana kita ini, saya melihatnya bahwa aspek kecantikan itu, setidaknya dapat dikenali dari empat aspek. Pertama, kecantikan yang bersifat luaran (outer beauty). Maksud dari kecantikan luar adalah dilihat dari postur tubuh, kemulusan kulit, bentuk mata, wajah, rambut dan bentuk bibir. Paduan antar komponen-komponen fisik itulah, yang kemudian membentuk seseorang memiliki kecantikan luar atau outer beauty.

Aspek kedua, ada yang disebut inner beauty atau kecantikan dalam. Kencatikan dalam atau kecantikan dari aspek dalam, maksudnya adalah aspek-aspek yang terkait dengan emosi dan atau perilaku. Ukuran nyatanya, yaitu perilkau yang santun, tutur kata yang lembut, dan ramah pada sesama. Itu adalah beberapa contoh dari kecantikan aspek dalam.

Hal yang tidak boleh dilupakan, ada pula aspek ketiga, yang saya sebut dengan istilah kecantikan buatan (artificial beauty). Saya yakin, kita semua pernah melihat pengantin. Para pengantin, baik itu pengantin pria maupun pengantin wanita, tampak tampil maksimal dalama berdandan. Bahkan, tidak jarang, karena dari tampilannya itu, para pengantin bisa tampil berubah wajah menjadi lebih cantik dari biasanya. Karena permainan make up, yang dikembangkan oleh tata rias itulah, dan juga karena permainan gaun yang dimainkan oleh para perancang busananya, seseorang bisa tampil cantik di hari pengantinan. Fakta itu sesungguhnya, telah menunjukkan adanya peralihan dari aspek inner beauty, dan outer beauty ke artifical beauty.

Karena perkembangan zaman yang canggih, teknologi make-up saat ini, sudah mampu memberikan sebuah efek-rona-tampilan yang jauh lebih baik lagi bagi si pemakainya. Berbagai produk make-up dapat memberikan penampilan tampak lebih cantik. Lain dari make-up, lain pula dengan teknologi rekayasa komputer. Magic foto, misalnya, merupakan aplikasi praktis untuk mengubah tampilan foto seseorang, sehingga tampil lebih cantik.

Bagi seorang penata rias pengantin, atau busana pengantin, akan merasakan kesulitan yang berbeda dalam pelayanannya, di saat kecantikan luaran dari pengantin itu berbeda. Seorang calon pengantin yang memiliki outer beauty baik, akan memudahkan bagi seorang perancang busaha dan rias pengantin untuk mendandaninya. Sedangkan, bagi calon pengantin yang outer beauty-nya standar, maka kreasi dan inovasi perancanangan busana dan rias pengantin harus lebih baik lagi.

Dari paparan ini, kecantikan artifisial itu pada dasarnya adalah kecantikan kreasi-manusia belaka. Kualitas kecantikan tersebut, amat sangat bergantung pada kemampuan perias atau mungkin di sebut juga pelukis wajah, dan teknologi kecantikan itu sendiri. Itulah yang kita sebut sebagai kecantikan artificial.

Terakhir, yang ingin saya tuliskan di sini, kecantikan itu ada yang muncul dalam bentuk dynamic beauty atau kecantikan dinamis. Kecantikan dinamis adalah kecantikan yang merupakan paduan antara komponen-komponen tersebut tadi, sehingga orang memiliki persepsi kuat dan bertahan, mengenai kecantikan seseorang. Disebut dinamis, karena kecantikan itu harus hasil dari kreasi aktif individu dalam memanfaatkan potensi inner, outer, dan artificial sehingga melahirkan kecantikan prima. Kemudian disebut, harus bertahan lama, dengan maksud bahwa kecantikan itu bukan hanya lahir pada saat kita tampil cantik semata, tetapi penilaian cantiknya dapat melekat di setiap saat dan dalam situasi apapun.

Sebutan-sebutan, wah kamu cantik pada saat jadi pengantin, wah kamu kemarin cantik, wah kamu kalau pakai baju itu cantik… dan sejenisnya, merupakan contoh dari persepsi orang lain mengenai kecantikan yang sifatnya sesaat, sementara atau tidak langgeng. Kecantikan-kecantikan seperti itu, hanyalah buah dari artificial beauty yang memang sifatnyaa sesaat. Sedangkan kecantikan dinamis itu, diharapkan setiap orang memandang orang cantik itu, akan tetap berlaku setiap saat, dan setiap saat orang lain bertemu dengan orang dimaksud, akan tetap memandangnya sebagai orang cantik. Inilah yang disebut sebagai orang cantik dinamis.

Advertisements